Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sebutan "Indon" yang Bikin Baper

19 Januari 2021   21:26 Diperbarui: 19 Januari 2021   21:34 216 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sebutan "Indon" yang Bikin Baper
Baliho Selamat Datang di Bandara KLIA (Dokpri)

"Awak dari Indon ke?" tanya orang sebangku dalam bis menuju KL. "Iya, emang kenapa?" tanyaku dengan nada agak tinggi. 

"Nak keje kat mana?" tanyanya lagi. "Tak lah, saye nak melancong je," jawabku ketus. Skak mat, dia langsung terdiam. Dikiranya saya hendak pergi cari kerja, padahal sedang menghabiskan uang untuk menambah devisa negeri mereka.

Mungkin sudah menjadi stereotip kalau orang Indonesia di Malaysia berarti pekerja alias TKI, lebih khusus lagi kerja di lapis bawah, untuk tidak mengatakan sebagai pekerja kasar, seperti kuli bangunan atau pembantu rumah tangga. Apalagi kalau kelihatan naik bis cuma bawa ransel dan berpenampilan lusuh macam backpacker, pasti sudah diduga sebagai pekerja atau pendatang haram yang bikin penuh negara mereka.

Beberapa kali sayup-sayup terdengar percapakan di antara mereka yang menyelipkan kata 'Indon' untuk merujuk orang Indonesia di Malaysia. Saya tidak terlalu menanggapi karena selain tidak kenal juga jaraknya agak jauh. Mungkin mereka sedang membicarakan orang Indonesia yang menjadi rekan kerja mereka, jadi tak perlu GR kalau mereka sedang memperhatikan diriku. Tapi memang kata 'Indon' sebagai pengganti Indonesia sepertinya sudah familiar dalam percakapan mereka sehari-hari.

Kebiasaan orang Melayu, tak hanya di Malaysia namun juga di negeri kita, memang suka sekali menyingkat kata. Pergi jadi pi, dia orang jadi dong, dekat jadi kat, hendak jadi nak, dan banyak lagi lainnya. Sebenarnya menurut mereka, sebutan Indon itu untuk mempermudah ejaan saja karena menyebut Indonesia terlalu panjang. Namun lama kelamaan berubah jadi ejekan bagi warga Indonesia apalagi terkait dengan stereotip tadi. Kata 'Indon' dianggap merendahkan warga Indonesia karena disetarakan dengan pekerja lapis bawah alias kasta terendah di sana.

Suka tak suka, mau tak mau, memang pada kenyataannya banyak warga Indonesia yang mencari sesuap berlian di sana. Sebagian besar menjadi pekerja di lapis bawah baik legal maupun ilegal, sebagian kecil menjadi tenaga profesional atau pekerja lapis menengah setingkat manajer. Sebagian juga ada yang menjadi pengusaha atau menjadi perantara dagang. Sudah sering terdengar banyak warga Indonesia yang dideportasi dari Malaysia karena tidak memiliki izin kerja, bahkan tanpa memegang paspor atau identitas lainnya. 

Mereka nekat merantau ke negeri seberang karena desakan ekonomi di negeri sendiri. Pendapatan yang besar sungguh menggiurkan anak-anak muda dari desa untuk nekat bekerja di negeri orang walau tak ada bekal sedikitpun. 

Banyak yang sukses, walau hanya menjadi pekerja lapis bawah namun bisa membawa pulang Ringgit untuk membahagiakan orang tua dan keluarga mereka. Namun banyak pula yang gagal, karena masalah dokumen atau bersitegang dengan majikan. Bahkan ada pula yang sampai dihukum penjara hingga hukuman mati karena berbagai pelanggaran yang terjadi selama bekerja dan hidup di negeri seberang.

Kalau boleh merenung, seharusnya ejekan tersebut menjadi cambuk bahwa bangsa Indonesia bisa lebih maju dari Malaysia. Tingkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membuka banyak lapangan kerja serta mendorong UMKM tumbuh berkembang. 

Kalau masyarakat sudah makmur, tanpa disuruhpun mereka akan enggan untuk mencari sesuap nasi di negeri orang. Mending cari duit di negeri sendiri, buang di negeri orang untuk menunjukkan bahwa kita lebih kaya dari mereka. Buatlah negeri tetangga yang membutuhkan uang kita, bukan sebaliknya tenaga kita yang dibutuhkan mereka.

Pandemi ini sebenarnya menjadi momen bagus yang harusnya bisa dimanfaatkan Indonesia untuk unggul dari negeri tetangga. Di saat Malaysia dan SIngapura kolaps ekonominya akibat kebijakan lockdown yang terlalu ketat, kita seharusnya bisa mengambi alih kegiatan ekonomi mereka ke negeri ini. Kemarin ada berita sebuah perusahaan otomotif asal Korsel memindahkan kantornya dari Malaysia ke Indonesia, dan semoga diikuti kantor-kantor perusahaan lainnya karena kondisi di sini masih lebih kondusif daripada di negeri tetangga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x