Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

(Tidak) Semua Sekolah Siap Melaksanakan UNBK

21 November 2017   09:55 Diperbarui: 21 November 2017   15:31 2287 3 5
(Tidak) Semua Sekolah Siap Melaksanakan UNBK
Ilustrasi. Tribunnews.com

Sejatinya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) merupakan sebuah terobosan untuk mempermudah pelaksanaan ujian akhir siswa dengan menggunakan teknologi informasi. Diharapkan dengan UNBK hasilnya dapat langsung dilihat dan tingkat keamanannya semakin tinggi, bebas dari upaya mencontek dan modus kecurangan lainnya. Namun demikian pemerintah tidak sepenuhnya memaksakan setiap sekolah melaksanakan UNBK, tergantung kepada perangkat keras dan perangkat lunak yang dimiliki sekolah dan telah diverifikasi oleh Kemendikbud melalui Dinas Pendidikan setempat.

Sayangnya beberapa sekolah tampaknya 'memaksakan' kehendak untuk melaksanakan UNBK tanpa melihat dukungan perangkat keras dan perangkat lunak yang tersedia. Akibatnya para siswa harus menyediakan sendiri perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan ujian nasionalnya. Beberapa perangkat yang harus disediakan antara lain:

1. Laptop

Sebagian siswa yang dianggap mampu harus membawa laptop karena laboratorium sekolah tidak mencukupi untuk semua siswa. Spesifikasinya sudah ditentukan oleh panitia agar dapat berjalan pada platform yang digunakan. Persoalannya apakah laptop yang dimiliki siswa sesuai spesifikasinya dengan yang telah ditentukan oleh panitia. Bila tidak berarti siswa harus membeli laptop baru karena slot lab komputer sudah penuh. Belum lagi keamanan dalam perjalanan ke sekolah, bila diantar mungkin masih bisa dijamin aman, tapi bila naik kendaraan umum apakah tidak mengundang orang untuk 'mengambil' laptopnya.

2. Modem

Tidak semua sekolah mempunyai jaringan wifi, dan kalaupun ada kapasitasnya masih terbatas sehingga koneksi down bila seluruh siswa membuka situs yang sama dalam satu waktu. Akibatnya beberapa siswa terutama yang membawa laptop juga harus menyediakan modem untuk koneksi internetnya. Memang gawai jaman sekarang bisa berfungsi sebagai modem, namun perlu diperhatikan juga kemampuan dan kapasitas jaringan operator seluler di daerah dekat sekolah. Kalau sudah 4G lumayan, tapi kalau masih 3G ke bawah ikut memperlambat siswa menjawab soal. Bisa saja sih tethering atau nebeng koneksi dengan temannya, tapi malah mempercepat kuota habis.

3. Paket Data

Otomatis bila membawa modem berarti harus memiliki paket data yang cukup agar tidak memakan pulsa standar atau hang karena kehabisan kuota. Artinya siswa harus menambah pengeluaran ekstra lagi untuk mengamankan kuota internet agar tidak cepat habis di tengah jalan. Apalagi bila disekitar sekolah jaringan operatornya tidak bagus, berarti harus ganti operator lain yang lebih mumpuni dan membeli paket data baru sesuai dengan yang disediakan operator tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah perlu melakukan verifikasi ulang terhadap sekolah-sekolah yang menyelenggarakan UNBK, agar hanya sekolah yang benar-benar memiliki perangkat keras dan lunak yang sesuai dengan jumlah siswa yang diperbolehkan mengikuti UNBK. Minimal perangkat jaringan dengan kapasitas tinggi agar mampu diakses oleh seluruh siswa saat mengerjakan soal ujian. 

Bila memang belum ada yang benar-benar memenuhi syarat, pemerintah perlu memperbanyak pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak di tiap sekolah agar suatu saat nanti bisa menyelenggarakan UNBK secara serentak. Cara lain adalah waktu pelaksanaan UNBK digilir per kelas, misal kelas XII A pagi hari, kelas XII B di siang harinya dengan materi soal yang berbeda. Toh dengan sistem yang sekarang, ribuan bank soal dapat dimuat tanpa harus saling mengintip satu sama lain.

Sejujurnya, tulisan ini dibuat karena kegalauan saya melihat anak yang akan mengikuti UN karena harus menyediakan berbagai perangkat seperti tersebut di atas. Laptop kerja saya terpaksa harus direlakan dibawa selama ujian berlangsung, padahal saya juga harus menggunakan laptop tersebut untuk bekerja di lapangan. Akhirnya saya berusaha memperbaiki laptop rusak agar bisa beroperasi kembali paling tidak sebagai pengganti saat anak mengikuti UN. Kemudian saya juga harus membeli modem plus paket data yang mumpuni agar tidak putus koneksi saat ujian berlangsung. Tentunya ini menjadi pengeluaran ekstra hanya demi mensukseskan UN, padahal seharusnya sudah menjadi tanggung jawab negara dalam penyediaan perangkat.

Bila negara (baca: sekolah) memang belum mampu menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak, tidak seharusnya memaksakan diri untuk ikut UNBK hanya demi mengejar prestise semata. Semoga tulisan ini diperhatikan oleh para pihak yang berwenang dalam pelaksanaan UNBK agar dievaluasi kembali tingkat kesiapan sekolah terutama perangkat keras dan perangkat lunaknya serta jaringan yang ada di sekitar sekolah.