Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Parenting Artikel Utama

Anak Remaja dan Pornografi: Seberapa Jauh Kita Peduli?

9 November 2022   09:04 Diperbarui: 11 November 2022   19:01 1045
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Yang menjadi kegelisahan orang tua adalah apabila paparan konten yang memuat tentang kekerasan maupun pornografi dinikmati lalu berlanjut menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan inilah yang kemudian akan membangun perilaku kompulsif.  

Kita semua pasti sepakat bilamana pornografi bukan pilihan tepat bagi sarana belajar tentang seks dalam tumbuh kembang anak. Meski demikian, selalu menyelip satu pertanyaan abadi dalam benak kita. Mengapa anak-anak bahkan kita sebagai orang dewasa masih saja menyukai pornografi? 

Andai saja kita mau mengakui, beberapa dari kita pun masih menikmati suguhan konten-konten miring berdurasi beberapa detik tersebut. Hayo...iya apa iya? 

Apakah menikmati pornografi merupakan perilaku yang normal atau tidak?

Sampai saat ini, perkara tersebut masih debatable. Artinya, memang perlu kajian khusus. Apakah benar perilaku tersebut akan merusak bagian otak tertentu? Bagian otak mana sajakah yang akan terganggu dengan aktivitas tersebut?

Para ahli kesehatan pun hingga saat ini masih melakukan uji penelitian mengenai hal tersebut. Akan tetapi, perilaku mengulang saat mengkonsumsi tontonan pornografi jelas dapat berpotensi menimbulkan kecanduan.

Perilaku kompulsif dalam rentang waktu, intensitas, dan frekuensi tertentu akan menimbulkan dampak negatif lain. Misalnya, relasi dengan sesama yang terganggu, individu lebih menarik diri dari lingkungan, bahkan timbul rasa cemas apabila tidak menikmati konten pornografi.

"Saya sudah berupaya supaya berhenti, tapi tetap saja saya mengulanginya"

"Kenapa susah banget berhenti dari kebiasaan ini?" 

Bukankah kita sering mendengar pertanyaan tersebut dari mereka yang secara tidak sadar terbiasa mengkonsumsi pornografi? 

Dalam artikel-artikel yang lalu tidak jarang saya menengarai bagaimana sistem limbik, bagian otak emosi kita seringkali mengambil alih otak rasional kita. Bagaimana otak emosi yang lebih sering berperan besar pada keputusan kita ketimbang otak rasional kita. 

Pada dasarnya, kerja "pembajakan" otak emosi ini memberikan manfaat bagi kita untuk bertahan hidup. Seperti halnya saat kita menyetir mobil, makan, minum, berjalan, naik sepeda, semua kita lakukan bukan melalui gerak refleks. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun