Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Bermasalah dengan Back Talk Remaja? Mari Belajar dari Raditya Oloan-Joanna Alexandra

17 Mei 2021   15:30 Diperbarui: 27 Juni 2021   14:41 1506
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: secure attachment mampu menumbuhkembangkan emotional intelegence | via freepik.com

Dalam hasil studi tersebut, Bowlby kemudian membagi kelekatan hubungan ini menjadi dua varian, secure attachment dan insecure attachment.  

Rasa aman dan nyaman yang tumbuh dalam diri seorang anak pada nenek pengasuh akan membuatnya lebih memilih nenek sebagai tempat curhat dibanding dengan orangtuanya sendiri. 

Hubungan yang serupa pun tidak jarang kita jumpai antara anak dengan mbak sus-nya. Bahkan lebih sering anak terkesan nggelendot pada mbak sus dari pada dengan orangtuanya sendiri, bukan?

Pengaruh Secure Attachment Bagi Pertumbuhan Remaja

Bila kita lihat dari sisi fisiologis, struktur otak anak pada umumnya mengalami perkembangan pada saat menginjak usia remaja. 

Pola pengolahan data pada kognitif anak yang masih berkembang, menyebabkan seorang anak remaja kerap kali belum memiliki kematangan dalam pengambilan keputusan.

Menukil dari penjelasan Dr. Sheryl Feinstein, dari University of Nebraska-Kearney, menegaskan bahwa perkembangan syaraf otak pada remaja menyebabkan remaja mempunyai ketrampilan pengolahan proses berpikir dan mengambil keputusan layaknya orang dewasa pada saat diberi informasi.

Namun, proses tersebut masih banyak dipengaruhi oleh sistem limbik (bersangkutan dengan emosi) dari pada prefrontal cortex (berhubungan dengan pengambilan keputusan rasional).

Dengan demikian, secure attachment  pada masa kecil akan berdampak pada usia remaja. 

Beberapa manfaat secure attachment oleh orangtua semenjak anak berusia 0 tahun adalah tumbuhnya rasa percaya diri dalam si anak, sehingga ia mampu mengembangkan kemampuan sosial seperti empati, peka terhadap emosi orang lain, bahkan mampu memahami apa yang orang lain inginkan dari dirinya.

Karena tugas remaja adalah menemukan jati dirinya, maka bila kebutuhan kelekatan hubungan ini tidak penuh pada masa kecil, maka remaja akan tumbuh dalam kebingungan untuk memenuhi tugasnya.

Tips Menanggulangi Jarak Komunikasi Antara Figur Pengasuh dan Anak Remaja

Lantas, apakah ketika kita menyadari anak kita mulai "punya dunianya sendiri" kita dapat begitu saja melarang mereka bergaul dengan dunia luar, atau kemudian bertindak protektif terhadap anak? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun