Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Dosen

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Menyambangi Enggano Pulau Terdepan Indonesia

14 Mei 2019   10:21 Diperbarui: 14 Mei 2019   16:10 157 7 3
Menyambangi Enggano Pulau Terdepan Indonesia
Kapal ferry yang melayani penyebrangan ke Enggano (dok.pri).

Samudra hindia, 12 jam pelayaran, tinggi gelombang 3 meter, hanya kengerian yang terlintas di benak saya mana kala melihat sebuah kapal besi dengan nama lambung KM Pulo Tello. Sore ini saya berkesempatan untuk mengunjungi teras Indonesia di sisi barat daya yakni Pulau Enggano.

Banyak yang menyebut pulau terluar, namun kata-kata terluar tersebut memiliki kesan yang kurang nyaman dan identik dengan daerah pencil. Saat ini penyebutan untuk pulau terluar menjadi pulau terdepan, karena menjadi salah satu muka Indonesia. Enggano adalah salah satunya.

Pada tahun 1596 C de Houtman, mungkin orang asing pertama kali yang mendarat di Enggano. Kemudian di susul orang-orang asing berikutnya yang hilir mudik dan singgah di Pulau yang berjarak sekitar 150 km dari daratan Sumatra. 

Namun sebelum orang orang asing kenal dengan Enggano, para pelaut nusantara sudah mengenal pulau ini dan menyebutnya sebagai pulau telanjang karena penduduknya belum berpakaian. Nama Enggano sendiri memiliki arti menipu, atau salah hitung karena ada kekeliruan orang portugis yang mengira pulau Sumatra atau jawa dan tidak menemukan emas di sana.

Pada abad 19 bangsa Belanda datang di pulau bersama zending/pekabar injil. Penduduk Enggano yang tinggal di bukit dan memiliki tradisi berperang diajak berdamai dan pindah di daerah pesisir oleh Belanda. Mereka dikenalkan dengan budaya baru dan salah satunya adalah agama. Tercatat ada gereja tertua di Enggano yanki 1939.
Menuju Pulau Enggano dapot dilalui dengan 2 jalur yakni laut dan udara. Di laut, dilayani oleh 2 kapal yakni KM Pulau Tello (fery), dan KM Perintis milik PT.Pelni. Waktu tempuh pelayaran sama-sama 12 jam namun memiliki tarif yang berbeda. KM Pulo Tello memiliki harga tiket Rp 59.000,00 untuk kelas ekonomi, sedangkan bisnis Rp 125.000,00 dan bisa membawa kendaraan roda 2 atau pun truk. 

Untuk Kapal Perintis penumpang hanya membayar tiket Rp 13.000,00. Di pulau enggano KM Pulo Tello akan berlabuh di Pelabuhan Kahyapu, sedangkan KM Perintis akan berlabuh di Pelabuhan Malakoni. Kedua pelabuhan berjarak sekitar 17 km.

Kapal perintis (dok.pri).
Kapal perintis (dok.pri).
Pelayaran menuju Enggano di awali dari pelabuhan di Bengkulu dan bisa membeli tiket di sana. Kapal akan bongkar sauh sekitar pukul 05.00 untuk kapal Perintis dan Kapal ferry setelah magrib. Jadwal pelayaran acapkali berubah-ubah mengikuti arahan dari syahbandar/kepala pelabuhan karena ditentukan oleh kondisi perairan/laut.

Ada kalanya seminggu kapal bisa 2 kali pelayaran, ada kalanya 1 bulan nyaris tidak bisa berlayar karena cuaca buruk. Jika terjadi demikian makan akan mengganggu roda perekonomian di Enggano terutama sembako dan BBM.

Alternatif menuju Enggano adalah dengan naik pesawat terbang yang dilayani di Bandara Fatmawati Soekarno-Bengkulu dan mendarat di Bandara Enggano. Jenis pesawat yang melayani rute ini adalah Twin Otter dengan kapasitas 18 tempat duduk.

Lama penerbangan sekitar 50 menit. Untuk barang bawaan akan dikenakan bebas biaya bagasi seberat 12 km dan sisanya akan ditimbang dan dikenakan biaya tambahan. Jadwal penerbangan dari Bengkulu pukul 09.00 dan dari Enggano pukul 10.00.

Saya mendapat kesempatan untuk berangkat dengan kapal Ferry dan dapat bonus untuk kelas VIP. Sebanrnya kelas VIP dan ekonomi sama saja. Masing-masing akan mendapat tempat tidur dari kasur busa yang membedakan adalah ruangan berpendingin udara atau tidak.

Pelayaran pada malam hari tidak terasa membosankan karena pengelola menyediakan hibur film-film melalui televisi yang dipasang di beberapa titik, berikut juga dengan kafe yang menjual makanan. Kapalnya sangat bersih dan nyaman, sehingga memanjakan penumpang. Saat suasan kapal sepi dan sudah di tengah Samudra Hindia saatnya meluruskan tubuh di atas kasur busa.

Pukul 05.00 kapal mulai merapat di Pelabuhan Kahyapu yakni di sisi Tenggara Pulau Enggano. Dari kapal terlihat sebuah Pulau yang bernama Pulau Dua. Pulau ini pada jaman Belanda menjadi hunian Belanda dan dibangun rumah, pusat pertokona, rumah sakit, gereja dan lain sebagainya.

Peta Pulau Enggano (Sumber Regen Rais academia.edu/5517667/Profil_Pulau_Enggano)
Peta Pulau Enggano (Sumber Regen Rais academia.edu/5517667/Profil_Pulau_Enggano)
Pukul 06.00 akhirnya menginjakan kaki di Enggano. Tujuan saya adalah menuju Malakoni yang akan menjadi rumah saya 3 minggu kedepan untuk saya dan tim melakukan penelitian.

Hampir satu pikap barang bawaan kami dan selanjutnya dalam rintik hujan kami menyusuri jalanan tanah berlubang dan aspal yang mengelupas untuk menuju Malakoni. Enggano yau wa ika.