Mohon tunggu...
Dhaifullah GymnasstiarFarras
Dhaifullah GymnasstiarFarras Mohon Tunggu... Politisi - profesi sebagai overthinker

Hobi mecari sesuatu yang selalu di pertanyakan

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Pendidikan Kita untuk Oligarki?

5 Oktober 2022   12:17 Diperbarui: 5 Oktober 2022   12:27 284 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bisnis. Sumber ilustrasi: Unsplash

Jika ada kapal besar yang bergerak diberi nama Indonesia, maka pendidikan merupakan mesin penggerak kapal besar tersebut. Pendidikan adalah sebuah dasar pengasah intelektual bangsa. Pendidikan merupakan pencetak sumber daya bangsa. 

Pendidikan manifestasi dari lahirnya pemimpin pemimpin bangsa indonesia. Kemajuan suatu bangsa ditentukan dengan seberapa berkualitas, berintegritas dan bermutu pendidikannya. Vitalnya pendidikan membuat semua negara perlu memperhatikan perkembangan dan kemajuan pendidikan. 

Di indonesia sendiri pendidikan merupakan hak yang harus di penuhi. Setiap insan yang lahir di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan tanpa memandang status ekonomi, sosial dan ideologis, seharusnya seperti itu. 

Dalam sebuah ruang akademik maupun lingkungan pendidikan kesamarataan tanpa memandang SARA, ideologis maupun strata sosial, Kembali lagi "seharusnya" seperti itu. Hal tersebut merupakan problematika yang sedang terjadi dan eksis hingga saat ini.

Permasalahan pendidikan di indonesia saya katakan multidimensi, kenapa begitu? segudang permasalahan yang terjadi pada pendidikan formal kita dan ke konsistenan sistem pendidikan yang semraut, membuat arah pendidikan tidak menentu. Salah satu contohnya ketidak merataan pendidikan, serta terjadi hirarki sosial dan ekonomi. 

Dimana saat ini tidak bisa kita nafikkan, banyak anak di luar sana yang belum bisa menikmati indahnya dunia sekolah, sedangkan para politisi, penguasa dan pengusaha menyekolahkan anaknya di sekolah" bertaraf internasional. 

Sistem pendidikan kita menjelaskan bahwa yang kaya akan mendapat kenyaman dengan fasilitas yang terbaik dan pengajar terbaik. Sedangkan si miskin akan terus berada di siklus antara melanjutkan pendidikan atau menopang beban keluarga. Kita di desain untuk terus berada di satu siklus yang penuh pertimbangan antara meraih masa depan atau mencari upah untuk makan.

Sedangkan pemerintah terus menyuarakan fungsi pendidikan. Dengan dalih Pendidikan disediakan dan difasilitasi oleh negara untuk mencetak SDM yang unggul dan professoional. 

Negara selalu menyuarakan slogan slogan dengan nada kebangsaan di ruang lingkup pendidikan, tanpa sadar kita yang betuntung mengenyam pendidikan yang layak di sediakan untuk menjadi alat dalam pusaran bisnis para pemangku kepentingan, untuk menjadi boneka dalam pemenuhan tujuan-tujuan serakah para kapitalis. 

Kita di butakan oleh akreditasi, ditulikan oleh gelar sarjana. tanpa sadar keuatan para kapitalis mengeruk sumber daya alam dan menggunakan sumber daya manusia dengan dalih pendidikan sebagai penopang kemajuan bangsa. 

Kurikulum kita terlalu konsisten untuk bisa di katakan sebagai kurikulum yang cacat, dapat dibuktikan kebijakan yang selalu berubah Ketidakseusian antara pengajar dan pemangku kebijakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan