Mohon tunggu...
Nahariyha Dewiwiddie
Nahariyha Dewiwiddie Mohon Tunggu... Penulis dan Pembelajar

🌸 An independent-ordinary writer. ✉ dewiwiddie21@gmail.com 🌐🚀 dewiwiddie.blogspot.com 🌸

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

"Jakarta Bisa Sih Jadi Tuan Rumah Olimpiade, Tapi..."

19 Desember 2018   20:52 Diperbarui: 20 Desember 2018   04:59 0 8 2 Mohon Tunggu...
"Jakarta Bisa Sih Jadi Tuan Rumah Olimpiade, Tapi..."
Sumber gambar: The Comeback

Bagi negeri kita yang begitu gandrung pada kebanggaan, prestasi, kemampuan fanatisme olahraga di atas rata-rata terutama di sepak bola dan bulu tangkis, menjadi tuan rumah Olimpiade (musim panas) adalah tujuannya. Impiannya. Tentu saja Indonesia sangat-sangat berharap bisa berjumpa dengan pekan olahraga sejagat, yang meraih juara di acara itu adalah idaman semua olahragawan di dunia.

Puncak harapan dan kecintaan di dunia olahraga adalah Olimpiade dan Paralimpiade. Ya, siapa sih yang nolak untuk bisa berkompetisi di sana atau ambil bagian jadi tuan rumah? Hanya orang-orang picik yang menganggap pesta olahraga sedunia itu tidak penting dan diperlakukan layaknya Porda. Tapi, mudah-mudahan semua anak manusia di dunia mengerti betapa besarnya gengsi akan gelaran Olimpiade.

Ya tentunya kita tahu dong, keberhasilan Indonesia jadi penyelenggaran Asian Games dan Asian Para Games 2018? Media asing sampai melantunkan pujian yang amat tinggi pada sang tuan rumah pesta olahraga se-Asia, atas pelayanan yang terbaik yang diberikan oleh para tamu. Bahkan, pihak luar bahkan tidak ragu lagi---seraya mengucapkan terima kasih---bahwa Jakarta layak, layak banget jadi tuan rumah Olimpiade!

Namun, pujian itu janganlah berlalu jadi wacana belaka. Ingat, kita punya waktu 14 tahun untuk mempersiapkannya---yang setengah perjalanan akan ditentukan pada voting untuk menentukan tuan rumah Olimpiade musim panas tahun 2032. Ya, tahun itu 'kan giliran benua Asia (atau, bisa jadi Afrika dan Australia ikut) yang akan tampil, dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) sepertinya akan membuka audisi untuk semua negara-negara itu untuk mendaftar dan mengajukan lamaran untuk diterima sebagai tuan rumah Olimpiade.

Duuh, kayaknya bakal susah deh. Indonesia enggak sendiri, dan pasti ada pesaing-pesaingnya. Ada China (diwakili Shanghai), India, dan duet Korsel-Korut. Nah,untuk menghadapi itu, adakah pengalaman yang dibutuhkan untuk menggelar pesta olahraga terakbar di bawah kolong langit?

Sebenarnya, Indonesia punya bekal untuk melakukan perjalanan menuju tuan rumah Olimpiade. Yakni, kesuksesan jadi tuan rumah Asian Games 2018 yang sempurna dan bisa menebus kekurangan-kekurangan yang terjadi saat penyelenggaraan multievent selanjutnya, katakanlah termasuk SEA Games 2011. Malah, bahkan jadi patokan dalam mengadakan pesta olahraga multicabang berikutnya, ya 'kan?

Tapi, harus diingat juga dong, antara penyelengaraan Asian Games dan Olimpiade itu bedanya hanya setipis kertas. Serupa, tapi tak sama. Nggak samanya di mana? Jumlah negara yang lebih banyak lagi (ada hampir 200 negara yang ikut), dan level mutunya (atletnya, penyelenggaraannya) sudah berada di tingkat tinggi. Malu lah, acara yang mendunia tapi kualitasnya masih tingkat nasional? Hehehe.

Jadi, memang Olimpiade harus digelar di kota utama suatu negara, yang paling dikenal negara-negara sedunia. Mengenai Jakarta, itu pilihan yang tepat. Ibu kota negara yang paling berkelas, sering dijadikan tujuan singgah turis-turis asing, berbagai perhelatan internasional dan konser artis luar negeri sering digelar, kurang apa lagi? Bahkan ketua KOI Erick Thohir pernah mengatakan memilih Jakarta dan Jawa Barat karena banyak stadion sepakbolanya.

Kalau alasan-alasan itu sih, kayaknya belum cukup, deh. Soalnya, dalam pengajuan tuan rumah Olimpiade, harus disertai pengajuan porposal untuk tuan rumah Paralimpiade. Kalau tidak, sekeras apa pun usaha untuk buat jadi host Olimpiade, ya nggak bakal kepilih karena dianggap "pincang", akibat salah satunya (Paralimpiade) enggak ada di multievent tingkat dunia. Camkan itu, ya!

Mengenai hal itu, Jakarta pernah berkesempatan jadi tuan rumah Asian Para Games yang dihelat Oktober lalu, yang terbilang sukses penyelenggaraannya. Ini adalah titik balik untuk mewujudkan arena olahraga dan fasilitas yang ramah disabilitas sehingga nyaman diakses oleh mereka.

Dan, bukan tanpa alasan mengapa Komite Paralimpiade Asia (APC) memillih Jakarta, karena semata mengikuti (salah satu) tuan rumah Asian Games, dan bukan Palembang karena lebih fokus diselenggarakan di satu kota dan venue cabor utama yakni atletik dan renang berada di ibu kota . Ya lah, masa' Solo melulu, gantian dong!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3