Mohon tunggu...
Dewi Aida
Dewi Aida Mohon Tunggu... Mahasiswa

Tetap mencoba berkarya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kehilangan Cinta Pertama

9 April 2020   15:44 Diperbarui: 9 April 2020   15:45 12 0 0 Mohon Tunggu...

Kaira langsung terberanjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri kakaknya yang sudah menunggunya diluar pintu kelas IXA. “Dek ayo kita ke rumah sakit sekarang, ayah dirawat di rumah sakit dari kemaren, kakak juga udah izinin kamu ke pengurus pondok, kamu  nggak usah khawatir”.
Air mata kaira sudah tidak bisa dibendung lagi, dia tidak kuasa menahan air matanya yang memaksa meluncur di pipinya yang chubby itu. Kakinya pun mulai gemetar dan rasanya sudah tidak mampu menopang  badanya. Kak syauqi terdiam sekejap dan langsung memeluk peri kecil satu-satunya itu, dia berkata “sabar dek, ayah pasti baik-baik saja”, kecupan yang begitu tulus dan manis juga kak syauqi berikan di dahinya kaira.
Motor merah pun langsung digas oleh kak syauqi dengan kecepatan maksimal, badanku hampir saja terbang terbawa angin, tanganku dengan cepat menarik jaket hitam dan reflex memeluknya.
“kak ayoo kita keruangan ayah sekarang”
“iya sebentar bawell, kakak parkir motor dulu”
Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana kondisi ayah saat ini.
“Assalamu’alaikum” ucapku sembari membuka pintu kamar yang bertuliskan ruang cendana. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung memeluk seseorang yang sedang duduk disamping ranjang tempat ayah terbaring. “Bunda, ayah bagimana kabarnya?”, buliran air mata bunda tunjukkan padaku. “ayah batuk-batuk parah dari kemarin kai, nafasnya sesak”(jawab Bunda).
Tak lama kemudian adzan ashar berkumandang namun ayahku belum juga sadarkan diri, aku dan bunda sholat bergantian sembari menunggu ayah siuman.
“sana ambil air wudhu kai bunda udah selesai”
“iya bun”      
Usai sholat aku menengadahkan tanganku dan memanjatkan doa kepada Allah, “Ya Allah, ampunilah dosa ayahku, panjangkanlah umurnya aku mohon kepada-Mu Ya Allah, semoga Engkau mengangkat penyakitnya, berikanlah kesembuhan untuknya, aku ingin melihatnya senyum kembali Ya Allah, semoga Engkau mengkabulkan doaku, Amiin”. Ku pandang ayah, dia masih tertidur pulas dengan selang-selang invus ditangannya, ku hampirinya dan dengan rasa kasih sayang yang begitu tulus kuberikan untuk ayah, ku cium tangan ayahku “aku mencintaimu pahlawanku”(ucapku).
Kaira menatap kearah pintu dan melihat ada seseorang  berpewakan tinggi, putih, gagah, yang menyerupai ayah. “Assalamu’alaikum bun” (ucap kak arkhan, kakak keduaku)
“Akaaak………(ucapku). Ku bangun dari tempat duduk dan menghapus kerinduanku dengannya dengan memeluknya.
“erat banget meluknya, kangen banget ya…..”
“iyalah, udah berapa tahun kita nggak ketemu coba?”
“wuu dasar pesek” (ucap kak arkhan sambil menarik hidung mungilku)
“biarin, yang penting idup wleek”
Perdebatanku dan kakakku membuat bibir bunda tersenyum indah. Tak terasa mu’adzin satu persatu sudah mulai mengumandangkan adzan pertanda matahari sudah malu menampakkan dirinya. Kak arkhan dan kak syauqi bergegas menuju masjid. Aku dan bunda sholat diruangan.
Usai sholat, kedua kakakku pulang dengan menenteng dua kantong kresek yang berisi empat bungkus nasi goreng lengkap dengan minumannya. Kita makan  bersama layaknya keluarga yang harmonis. Selesai mengisi perut, bunda duduk disamping ayah dia tiba-tiba menjatuhkan air matanya yang begitu deras. Kami sebagai anak-anaknya juga paham bagaimana rasanya jika kekasih hatinya, pemilik tulang rusuknya, hanya terbaring dan tertidur di atas ranjang.
Malam bertambah malam dan waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Mataku sudah mulai pedas dan ingin memejam. Bunda menyuruhku tidur duluan, ku lentangkan tikar dan realitanya aku hanya menggelinding-lindingkan badanku karna belum bisa tidur, memang mataku sudah terpejam namun pikiranku masih membayangkan kenangan-kenanganku bersama ayah, aku masih ingat bagaimana rasanya jadi anak cewek terakhir yang dimanja oleh ayahnya. Tetesan air mata mulai menggelinding karna begitu dahsyat kenangan-kenangan itu hingga membuatku tak kuasa menahan air darah yang berwarna putih itu mengalir deras.
4 hari berlalu dan ayah belum sadarkan diri, kondisinya semakin lemas. Sanak saudara dan teman-teman ayah datang mengunjungi ayah dengan membawa obat-obat herbal yang dipercaya dapat menangkal penyakit yang diderita ayah, namun ternyata kondisi ayah seperti itu. Hal ini membuat teman ayahku merasa kasihan, dan dia mencoba membangunkan ayah untuk makan dan juga minum obat, namun usaha itu tidak berhasil, ayahku tetap tidak sadarkan diri.
 Hari ini adalah hari ke5 ayah dirawat
Pagi-pagi sekali kak Arkhan sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja “Arkhan berangkat dulu ya bun, Assalamu’alaikum”.
“iya wa’alaikumsalam, hati-hati ya kak” jawab Bunda.
Beberapa menit setelah kak arkhan berangkat, ayah sadarkan diri, namun tiba-tiba tangan kiri ayah menekan kuat dadanya, sangat jelas rasa sakit yang tertahan. Wajah ayah sangat pucat, bulir-bulir keringat bermunculan di dahinya, tubuhya terlihat lemah sekali. Bundaku menangis, tanganya mengusap lembut kepala ayah seperti sihir penguatan. Sedang aku sibuk memencet tombol telefon berusaha menghubungi siapapun yang bisa membantu.
“Bagian paru-pau pasien yang terkena kanker semakin parah, dan ada sel kanker di kelenjar getah bening yang dekat dengan paru-paru. Penyakit yang sudah lama sepertinya. Namun tidak pernah mendapat penanganan. Sekarang stadiumnya sudah lanjut, sulit disembuhkan. Pengobatan terbaik sudah diberikan, selebihnya ada pada kehendak Allah.” Ucap Pad Dokter.
Bunda menghela nafas dalam, rasa hancur tidak bisa dijelaskan ketika mendengar pernyataan dokter barusan. Aku dan Bunda mendekati Ayah. Tangan ayah berusaha menghapus air mataku, meskipun ia keberatan untuk mengangkat tangannya namun ia tak putus asa ia tetap berusaha dan akhirnya tangannya mendarat di pipiku dan berkata “kaira sayang…jangan sedih nak, ayah akan sembuh kok”.
Aku mencoba tersenyum dihadapan ayahku meskipun dalam hatiku menangis karna sakit  melihat kondisi ayah yang begitu lemas.
Tepat pukul sepuluh siang tiba-tiba ayah merengek kesakitan, wajahnya memerah, dan tangannya memegang bagian yang sakit. dalam kondisi sperti itu ayah sempat berpesan kepada ku, “harapan ayah adek tumbuh menjadi anak yang cerdas, adek jangan lemah, adeh harus kuat, jaga Bunda dek.
Kondisi ayah semakin parah dan kita hanya bisa pasrah atas apa yang ditaqdirkan Tuhan. Kak syauqi dan juga kak arkhan menutun ayah untuk membaca syahadat, mereka menuntun ayah pelan-pelan dan ayahku menirukannya: “asyhadu an lailahaillallah waasyhaduanna muhammadar Rasulullah”. Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya.
Bunda kaget dan langsung pergi kekamar mandi, ia menangis disamping pintu. Kususul bundaku kupeluk dia dengan erat, disitu aku merasakan betapa hancurnya bundaku ditinggal pasangan hidupnya yang begitu setia menemaninya. Akupun juga merasakan sakit yang begitu mendalam, aku tak menyangka kalau ayah akan pergi secepat ini, hatiku benar-benar sakit, aku benar-benar sudah kehilangan orang yang aku cinta, aku telah kehilangan orang yang berharga di hidupku. Namun, aku bisa apa? Semuanya sudah menjadi takdir Tuhan, aku berusaha merelakan meskipun hati belum ikhlas jika orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku.
Hari-hari ku lalui tanpa sosok ayah, namun aku selalu merasa bahwa ayah itu tidak pergi, ayah ada kok, kita hanya beda alam saja sekarang. Saat aku terdiam, imajinasiku berkelana dilorong-lorong waktu mencari sosok ayah yang pernah ada dalam hidupku, ku terjebak dipersimpangan dimensi. Tiba-tiba ungkapanku tadi terngiang kembali. Ayah itu masih ada, hanya kita beda alam. Air mataku jatuh, berdamai dengan hati. Membenarkan ayahku ada, dia sekarang sedang melihat kesedihanku, namun benar, kita beda alam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x