Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Ketika Alam Menunjukkan Kuasanya dalam "Sabda Alam"

19 Juni 2020   11:19 Diperbarui: 20 Juni 2020   11:21 681
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film pendek ini ditayangkan di TVRI semalam (sumber: Pusbang Film/TVRI)

"Home Sweet Home"

Bencana alam membuat korban menderita. Mereka tak hanya kehilangan harta benda, ada juga yang terpisah dan kehilangan saudara, orang tua, dan anaknya. Selain itu mereka juga terlilit rasa trauma. Ada kalanya beban itu semakin menumpuk oleh hal-hal lainnya seperti soal pendataan rumah yang rusak karena bencana.

Film ini berlatar gempa di Palu. Ada seorang ayah bernama dan anak perempuannya yang menjadi korban bencana. Mereka kehilangan istri dan seorang ibu. Belum cukup dengan rumah yang luluh lantak, mereka dihadapkan pada masalah pendataan rumah

Karya Mohammad Ifdhal ini mengandung  kritik sosial. Dalam film dapat dilihat bagaimana para pengungsi berjuang untuk tetap hidup 'normal', mengantre air dan ingin kembali merasai tinggal di tempat yang nyaman, tapi kemudian dihadapkan pada hal-hal yang makin membuat mereka resah dan marah.  

Sumber: Sousinema Film
Sumber: Sousinema Film
"Jakarta 2012"

Banjir tak selalu disikapi dengan keluhan dan sumpah serapah. Ia juga bisa ditanggapi dengan jenaka. Keluarga aaa, misalnya. Karena lelah menjadi korban banjir, mereka pun menyikapinya dengan cara tak biasa. 

Mereka jadikan hal tersebut seperti sebuah kejadian yang istimewa. Hidup sudah berat, maka sikapi dengan canda.

Meski keluarga tersebut nampak santai menghadapi banjir, menembus genangan air yang dalam dan kotor untuk berbelanja, lalu nampak bersenang-senang dengan perahu karet sebenarnya itu hanyalah sebuah kritikan dengan nada berbalik alias satire.

Ini sebuah film dokumenter satire yang mencoba menangkap sikap masyarakat menengah ke atas terhadap banjir. Mereka pastinya juga kecewa dan kesal akan banjir, tapi di sini mereka ekspresikan seolah-olah dengan nada biasa dan malah nampak gembira. Hahaha. 

Ketika sebuah peristiwa jamak terjadi dan seperti tidak ada solusi, rasanya mubazir untuk mengeluh dan marah-marah.

Pergerakan kamera dan cara pengambilan di sini nampak amatir. Entah disengaja atau tidak. Jadinya seperti konten-konten amatir yang banyak tersaji di platform digital. Tapi kesannya jadi riil dan diambil oleh orang terdekat korban banjir tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun