Lingkungan

"Ayo Diet Tisu" Lestarikan Bumiku

13 Juli 2013   04:49 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:38 1024 4 5
"Ayo Diet Tisu" Lestarikan Bumiku
13736652361702131637

Save Our Earth For Our Survival With One Small Step

Pernahkah kita melihat sampah tisu dimana-mana? fenomena ini sering terjadi. Saya mengangkat tema lestarikan lingkungan dengan program diet tisu, awalnya program ini muncul dari perkuliahan saya di magister ilmu komunikasi, ide “Ayo Diet Tisu”  terjadi karena banyak masyarakat Indonesia yang belum mengerti arti penting penggunaan tisu. Banyak tempat dapat kita jumpai ketika kita menggunakan tisu, misalnya di rumah, di toilet umum, maupun di tempat makan. Penggunaan tisu oleh masyarakat terkadang sangat berlebihan, mereka tidak mengetahui pentingnya kita menggunakan tisu dengan cara maksimal. Penggunaan berlebihan terhadap pemakaian tisu akan mengakibatkan global warming, karena bahan tisu terbuat dari kayu.

Menggunakan tisu secara berlebihan, itu sama artinya dengan menebang pohon secara berlebihan juga, misalnya, dalam 1 pack terdapat 20 lembar tissue, dan membutuhkan 1 pohon untuk di tebang. Sedangkan sebatang pohon butuh bertahun-tahun untuk  siap ditebang dan diolah lagi. Proses pembuatan tisu, membutuhkan tekhnik chipping (memotong-motong menjadi irisan tipis), grounding (meratakan permukaan), pressing (memadatkan), drying (mengeringkan) and chlorine bleaching wood (pemutihan kayu dengan klorin). Proses pemutihan menggunakan klorin dan merkuri, yang berbahaya bagi manusia serta lingkungan .

Produksi tisu yang berlebihan karena pemakaian yang berlebihan juga artinya kita bertanggung jawab pada terjadinya krisis oksigen dan air, karena fungsi alami pohon adalah sebagai penghasil oksigen sekaligus juga sebagai penyerap air. Oksigen itu sendiri merupakan salah satu hal yang paling vital bagi manusia. Fungsi hutan yang seharusnya sebagai penyuplai oksigen, rumah bagi flaura dan fauna dan indikaor kelestarian suatu lingkungan menjadi salah satu produk ekonomi. Selain itu hutan juga dapat membantu manusia dalam perang melawan iklim global yang semakin bertambah parah. Penggunaan tissue dapat diganti dengan menggunakan sapu tangan. Jika dilihat dari segi produksinya, menghemat penggunaan tisu dapat mengurangi pemborosan energi dan air saat proses produksi.

Pernah lihat tisu dan pengering pada saat di toilet umum? sebisa mungkin kita menggunakan pengering itu, pernakah melihat sampah di toilet kamar mandi, di dalam WC maupun di luar? pasti banyak tumpukan tisu yang terpakai, dan itu terjadi setiap hari bahkan setiap menit. Tisu-tisu yang terbuang karena pemborosan pemakaian.

Sampah di tempat makan, pernah melihat seperti ini ?

hal ini melambangkan kurangnya kesadaran untuk menjaga kebersihan sekitar, banyaknya tisu yang dibuang, menimbulkan sampah yang akhirnya merugikan masyarakat yang ikut makan di tempat makan tersebut. Sampah merupakan masalah jangka panjang karena sampah akan terus ada. Jika tidak dilakukan langkah-langkah untuk menanggulangi masalah sampah, maka sampah akan terus menumpuk di tempat pembuangan sampah akhir. Hal tersebut secara tidak sadar akan menghasilkan gas CO2 dan CH4, dimana gas-gas tersebut merupakan gas rumah kaca.  Namun, membakar sampah bukanlah cara untuk mengatasi masalah ini. Karena dengan membakar sampah, maka akan mengakibatkan polusi udara.

Jadikan dengan mendukung program “Ayo Diet Tisu” ini untuk upaya Selamatkan Bumi dengan langkah kecil yang kita lakukan serta pelestarian lingkungan yang direalisasikan dalam gaya hidup ramah lingkungan sehari-hari yang penerapannya bisa di lakukan dimana saja, baik di rumah, di kantor, sekolah, kampus maupun penyediaan tisu di tas wanita diganti dengan sapu tangan.