Mohon tunggu...
Detha Arya Tifada
Detha Arya Tifada Mohon Tunggu... Editor - Content Writer

Journalist | Email: dethazyo@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dulu Kala Ketika Borobudur adalah Ekosistem Musik Terbesar Dunia

16 Mei 2021   12:33 Diperbarui: 16 Mei 2021   12:37 901
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lukisan tentang Borobudur karya G.B. Hooijer| Tropenmuseum

Borobudur Pusat Musik Dunia

Pandangan Alfred Russel Wallace terkait kemegahan Borobudur bukan pepesan kosong belaka.  Kerumitan Borobudur dengan relief-reliefnya laksana sebuah kitab. Relief-relief itu seakan mampu menjabarkan pengetahuan akan masa lalu, terutama terkait musik. 

Yang mana, lebih dari 200 relief yang berada di 40 panil menampilkan 60-an jenis alat musik. Masing-masing alat musik itu berjenis: petik, tiup, pukul, dan membran.

Peruntukkan alat musik pada masa itu --abad ke-8---pun beragam. Alat musik digunakan untuk sajian pertunjukkan, upacara-upacara penting, hingga pengiring tarian-tarian sakral. Senada dengan itu, relief alat musik jadi bukti penghargaan masyarakat Nusantara kepada seni dengan level estetika yang tinggi.

Gambaran itulah yang diungkap oleh Etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst (1891-1960). Etnomusikolog yang juga musisi itu menjadi pelopor yang merekam nama-nama ratusan alat musik yang dihimpun dari manuskrip Jawa Kuno. 

Jaap Kunst melengkapi rekamannya dengan bumbu penjelasan mengenai periode awal mula instrumen-instrumen tersebut hadir di tengah kaum bumiputra. Kunst juga mempelajari ragam instrumen tersebut dari pahatan di dinding-dinding candi kuno, yakni Candi Borobudur.

Etnomusikolog Belanda Jaap Kunst| Tropenmuseum
Etnomusikolog Belanda Jaap Kunst| Tropenmuseum
Di Borobudur, Jaap Kunst berspekulasi gambar dari alat musik India nampak lebih mencolok di dinding-dinding Borobudur. Jaap Kunst mencontohkan, instrumen senar petik, seruling vertikal, dan kendang gerabah yang dikenal dengan nama ghatam. Apalagi, alat musik petik dari India, bin, digambarkan dengan jelas di beberapa dinding Candi Nusantara, termasuk Candi Panangguhan abad ke-14.

"Menariknya, beberapa instrumen yang digambarkan di dinding Borobudur tidak bisa ditemukan di Jawa. Namun, masih bisa ditemukan di bagian lain Indonesia dan Asia Tenggara. Sebagai contoh, organ mulut dan beberapa jenik instrumen petik masih bisa ditemukan di Kalimantan dan daratan Asia Tenggara," tulis tokoh penting yang melanggengkan sejarah Gamelan, Sumarsam dalam buku Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global (2018).

Salah satu relief musik di Borobudur| Museum Volkenkunde Belanda
Salah satu relief musik di Borobudur| Museum Volkenkunde Belanda
Relief musik di Candi Borobudur lainnya| Museum Volkenkunde Belanda
Relief musik di Candi Borobudur lainnya| Museum Volkenkunde Belanda
Padangan dari Sumarsam serupa dengan yang diungkap gerakan Sound of Borobudur dalam penelitian terbarunya. Gerakan yang dimotori oleh tiga musisi senior Indonesia --Ir.Purwatjaraka, Trie Utami dan Dewa Budjana---menyebutkan alat musik yang terpahat di dinding Borobudur tak saja memuat alat musik Indonesia semata, melainkan banyak pula alat musik dunia yang terdokumentasi.

Relief musik lainnya di Candi Borobudur| Museum Volkenkunde Belanda
Relief musik lainnya di Candi Borobudur| Museum Volkenkunde Belanda
Beberapa di antaranya adalah Ranat Ek (Thailand), Balafon (Gabon), Marimba (Congo/Tanzania), Garantung (Indonesia), Mridagam (India), Ghatam (India), Udu (Nigeria), Bo (China), Bhusya (Nepal), Darbuka (Egypt), Tifa (Indonesia), Small Djembe (Mali/West Africa), Traditional Drum (Srilanka), Muzavu (Tamil), African Drums, Tabla (India), Kendang (Indonesia), Conga (Latin America), Pipa (China), Setar (Iran), Oud (Saudi Arabia), Biwa (Japan), Lute (English), Ud (Turkey),  hingga Bowed String (Italia).

Ada juga Dombra (Kazakhstan), Saung Gauk (Myanmar), Ngobi (Algeria), Sakota Yazh (Tamil), Kora (Gambia), Ekidongo (Uganda), Harp, Zeze/Lunzenze (Kenya), One String Zither (Peru), Kse Diev (Cambodia), Kwere (Tanzania), Sheng (China), Saenghwang (Korea), Keledik/Kedire (Indonesia), Sape' (Indonesia), Shio (Japan), Traditional Flute (Europe), Bansuri (India), Medieval Flute (Germany), Daegum (Korea), dan Suling atau seruling (Indonesia).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun