Mohon tunggu...
Birokrasi

Pembangunan Berkelanjutan yang Tidak Sesuai Mengakibatkan Penurunan Tanah di Jakarta

14 Oktober 2015   20:41 Diperbarui: 14 Oktober 2015   21:24 3186 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Desi Khairani

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari lingkungan sekitarnya. Maka dari itu kita sebagai makhluk hidup harus dapat menjaga kelestarian lingkungan alam tempat kita tinggal. Terutama ekosistem tanah yang merupakan lahan berpijak dan lahan kita membuat tempat tinggal. Pembangunan-pembangunan  yang di dirikan untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk hidup terus dilakukan namun banyaknya manusia yang tidak bertanggung jawab atas pembangunan yang semena-mena tersebut menimbulkan permasalahn-permasalahan baru. Pembangunan berkelanjutan adalah konsep yang baik namun di Jakarta pembangunan berkelanjutan sudah tidak sesuai. 

Pembangunan yang terus-menerus dilakukan oleh sektor industri tanpa melihat keseimbangan tanah yang ada sehinngga menimbulkan permasalahan seperti ambruknya gedung-gedung bertingkat, kurangnya daerah resapan air Berkurangnya air tanah yang dialkukan oleh masyarakat juga menjadi salah satu masalah kerusakan tanah. Hal ini menjadi tanggung jawab kita semua terutama pemerintah dalam memberikan kebijakan dan peraturan tegas kepada pihak yang ingin mendirikan bangunan. Agar tanah Jakarta bisa tetap layak digunakan.

Pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan yang saling bergantung dan memperkuat. Ketiga aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ketiganya menimbulkan hubungan sebab-akibat. Hubungan ekonomi dan sosial di harapkan dapat menciptakan hubungan yang adil. 

Konsep Berkelanjutan 

Konsep pembangunan berkelanjutan menyadari bahwa sumber daya alam merupakan bagian dari ekosistem. Dengan memlihara fungsi ekositem maka kelestarian sumber daya alam akan tetap terjaga.  Konsep pembangunan berkelanjutan juga berhubungan erat dengan masalah etika. Konsep ini sangat memperhatikan kesejahteraan generasi yang akan datang. Namun, pada saat yang bersamaan juga tidak mengurangi perhatian terhadap upaya-upaya untuk meningkatkan taraf hidup orang-orang miskin yang ada pada generasi sekarang. Dalam hubugannya dengan etika konsep pembangunan berkelanjutan pun harus mempunyai etika terhadap lingkungan. 

Kurangnya penyelarasan dan pemerataan hasil pembangunan mengakibatkan kondisi sosial sebagian masyarakat menjadi semakin tertinggal dan rusaknya lingkungan hidup akibat eksploitasi yang tidak memikirkan keadaan lingkungan dan generasi masa depan. Di sisi etika, terhambatnya implementasi pembangunan berkelanjutan di Indonesia juga terkait erat dengan tingkat korupsi, yang terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Dr. Koetjaraningrat, seorang pakar antropologi, menyakini bahwa sebelum Indonesia dapat membangun, maka sikap mental masyarakatnya harus diperbaiki terlebih dahulu. Sepanjang mental masyarakat masih condong kepada mental korupsi dari pada mental untuk melawan korupsi, maka Indonesia akan sulit atau tidak mungkin untuk membangun.

Dampak Buruk Pembangunan Berkelanjutan

Masalah pembangunan berkelanjutan ini tentunya terjadi di kota kota besar terutama Jakarta yang merupakan Ibu Kota negara Indonesia dengan total penduduk 9.588.198 jiwa menurut sensus penduduk tahun 2010 dan memiliki luas wilayah 740 km2. Kota Jakarta memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan negara Indonesia karena Jakarta merupakan pusat perekonomian Indonesia, pusat pemerintahan Republik Indonesia, serta merupakan pusat bertemunya orang-orang dari seluruh penjuru dunia dan dari seluruh penjuru Indonesia.  Oleh karena itu dibutuhkan banyak gedung bangunan untuk meningkatkan kebutuhan perekonomian dan sumber daya di Jakarta. Walaupun Jakarta memiliki letak yang strategis dalam memenuhi kebutuhan negara, kota ini tidak terlepas dari berbagai masalah salah satunya adalah pembangunan yang berkelanjutan yang akhirnya sangat berdampak buruk bagi kerusakan lingkungan yaitu tanah tempat kita berpijak. 

Sebenarnya daya dukung tanah memiliki batasan yaitu hanya sekitar 60% meter persegi per tahun. Tetapi pada kenyataannya per tahun malah meningkat. Sedagkan data resmi untuk pemakaian komersial air tanah menurut Dinas Pelayanan Pajak adalah 22 juta meter kubik per tahun. Biasanya penggunaan komersial adalah 30 persen dari penggunaan domestik. Dengan demikian, hitungan kasar total pemanfaatan air tanah Jakarta 73 juta meter kubik per tahun. Akan tetapi, penghitungan berdasar jumlah penduduk yang 9 juta orang, rata-rata kebutuhan air dan kemampuan layanan PT Palyja dan PT Aetra, maka angka minimal pemanfaatan air tanah yang muncul adalah 270 juta meter kubik per tahun, jauh di atas batas pengambilan aman. Lalu bukti lain juga dilansir bahwa di Jakarta, air terus diambil sehingga berkontribusi pada penurunan daratan.  

Antara tahun 1974 hingga 2010, Jakarta Barat turun 2,1 meter, Jakarta Utara turun 4,1 meter, Jakarta Pusat turun 0,7 meter, dan Jakarta Selatan turun 0,25 meter. jika pola pembangunan sekarang terus berlanjut dan air tanah terus diambil, wilayah Jakarta Utara bisa turun -6,6 meter, banjir terus meluas hingga Istana Negara pun bakal terendam, dan Jakarta akan semakin krisis air bersih. Terbukti bahwa dengan terkikisnya air tanah yang terus di ambil untuk pembangunan yang berkelanjutan dan karena tidak selarasanya dengan daya dukung tanah akan menimbulkan permsalahan permaslahan lingkungan lainnya seperti banjir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x