Mohon tunggu...
Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Mohon Tunggu... Hanya orang biasa

Hidup ini indah kalau kita bisa menikmatinya.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Awal Seteru Dua Marga

14 Oktober 2019   05:18 Diperbarui: 14 Oktober 2019   05:33 0 3 2 Mohon Tunggu...
Awal Seteru Dua Marga
Cover novelku


Namaku Acu Buku Empat :
Perkembangan terjadi begitu mendadak. Ping An kaget. Sempat tangannya terkena cakaran Geisha, secepatnya ia mengelak sehingga Geisha terjerambab ke lantai.
" Bukan aku! Aku berani bersumpah aku tak mengirimkannya !!! " Ping An berusaha membela diri. Geisha bangun dan berusaha menyerang Ping An lagi, Ping An mengelak sehingga Geisha terjerambab lagi. Ahuan senang melihat  tontotan di depannya. Ia ingin melihat Ping An dicakar Geisha hingga berdarah-darah. Ia sama sekali tak berusaha mencegah apa yang terjadi di hadapannya.
" Pasti kamu !!! Hanya kamu yang punya kamar gelap! Pasti kamu! Kembalikan nyawa suamiku ! Kembalikan nyawa suamiku !!!" Geisha menyerang Ping An lagi.
Nyonya Wu sudah tak tahan melihat anaknya diserang perempuan hina semacam Geisha yang berselingkuh dengan sesama ipar. Perempuan yang sanggup berselingkuh dengan ipar sendiri pasti bukan perempuan baik-baik. " Hentikan !!! Anakku tak pernah berbohong ! Andai ia mengatakan  tidak, pasti bukan dia pengirimnya !" bentak Ahue.
" Tidak, pasti dia ! Dia saingan suamiku, pasti dia !!!" tuding Geisha.
Nyonya Wu menghadang di depan anaknya, tapi menatap ke Chang Lao. " Besan, kami tamu. Beginikah cara kalian memperlakukan tamu ?!"  tatapnya dengan dingin.
Tuan Wu berjalan ke samping istrinya. " Betul omongan istriku. Selama ini Ping An tak pernah berbohong. Andai dia mengatakan bukan dia, aku berani menjamin omongannya. " kata Wu Se Kiong dengan tegas.
" Tadi kamu mendengar sendiri Ping An mengaku bahwa dia yang memotret, dia mencetak, dia ingin mengirim ke Selfie untuk mengejek Selfie. Bisa saja setelah itu dia berubah pikiran sehingga tujuannya diubah mengirim ke Tung Poan. Tung Poan sejak kecil lemah secara fisik, sangat mudah membuatnya putus asa gara-gara foto-foto itu. " Chang Lao tak ingin melepaskan Ping An begitu saja. Baginya Ping An penyebab anaknya bunuh diri.
" Betul, tujuan Ping An pasti supaya tak punya saingan !" hantam Ahuan.
" Ping Jie, kutanya sekali lagi, jawab yang jujur. Apakah kamu yang mengirim foto-foto itu kepada Chang Tung Poan ?"  tanya Wu Se Kiong.
" Bukan. Bukan aku yang mengirimkannya. Aku berani bersumpah bukan aku yang mengirim foto-foto itu. Tidak juga menyuruh orang lain." Jawab Ping An tegas sama seperti ketegasan papanya.
Wu Se Kiong menatap Chang Lao. " Besan dengar sendiri. Ping An mengatakan dia berani bersumpah bukan dia pengirim foto-foto itu. Bisa saja ada orang lain yang memotret, mencucinya di tempat lain, orang ini mengail di air keruh. Sengaja ingin membuat masalah kita semakin meruncing. Harap dipikirkan kemungkinan itu ! " Ucap Wu Se Kiong tandas dan tajam.  Chang Lao termakan ketegasan Wu Se Kiong. Ia pikir omongan Se Kiong ada benarnya. Bisa saja orang lain sengaja memperkeruh suasana persaingan mereka.
" Sumpah ? Hahaha... Sumpah apaan kayak gitu. Kayak sumpah anak kecil. Coba kalau berani bersumpah di depan jenazah Tepe sambil mengatakan, andai kamu pengirimnya, kamu akan disambar petir dalam 7 hari ke depan. Itu baru pria sejati namanya! " Ahuan ngomong dengan nada mengejek. Ia ingin melihat Ping An mati disambar petir. Beranikah Ping An bersumpah demikian? Ia yakin tak berani. Tak ada orang seberani dirinya.
" Kamu kira aku tak berani !" terbakar semangat Ping An. Ia langsung berjalan keluar dari ruang keluarga menuju ruang tamu. Semua mengikutinya ke ruang tamu. Halaman rumah sudah dipenuhi tamu yang berkunjung. Hujan turun lagi. Petir menggelegar.
" Kiong, apa itu tak membahayakan nyawa Ping An ?" tanya nyonya Wu sambil berjalan di samping suaminya, ikut ke ruang tamu.
" Aku percaya omongan Ping An. Kita tak bisa mencegahnya. Ini menyangkut martabat Ping An sebagai lelaki." Ucap Se Kiong tak berdaya.
Ping An menghidupkan dupa. Ia berdiri di depan peti mati Cetepe. Untuk membuktikan dia tidak berbohong ia sengaja bersumpah dengan suara yang bisa didengar seluruh anggota keluarga Chang  "Aku, Wu Ping An, dengan ini bersumpah bahwa aku tak pernah mengirim foto-foto perselingkuhan Ahuan dan Geisha kepada Chang Tung Poan, tidak juga menyuruh orang lain mengirimkannya. Jika aku berbohong, maka dalam tujuh hari ke depan aku akan disambar petir." Setelah mengatakan demikian, Ping An menancapkan dupa. Petir menggelegar di luar rumah.
Geisha terperangah, sementara Ahuan tersenyum senang. Sekarang sedang musim hujan, banyak petir. Ia yakin Ping An akan termakan sumpahnya. Chang Lao menundukkan kepala. Jika Ping An berani bersumpah, apalagi di depan jenazah anaknya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pertanyaan berikutnya muncul adalah : Siapa pengirim foto-foto itu? Pengirim foto itulah penyebab kematian anaknya.
" Ping Jie ! Kita sudah dihina disini ! Kita pergi !" kata Wu Se Kiong dengan suara tersinggung. Istri dan anaknya langsung ikut Wu Se Kiong berjalan keluar tanpa pamit lagi. Chang Lao terperangah. Ia tahu masalahnya dengan keluarga Wu semakin sulit didamaikan. Tamu di luar banyak yang salut dengan keberanian Wu Ping An, mereka menyalami Ping An yang lewat di depan mereka. Tapi banyak juga yang ingin melihat apakah dalam 7 hari ke depan Ping An tak termakan sumpahnya? Hujan semakin lebat. Petir menggelar. Wu Se Kiong membonceng istrinya bersama Ping An menerobos hujan pulang ke rumah mereka. Peristiwa itu semakin hangat dibicarakan karena sekarang semua tahu penyebab Cetepe bunuh diri adalah akibat malu terhadap perbuatan istri dan adiknya.
Semua basah kuyup setibanya di rumah.
" Besok tak usah menghadiri  pemakanan Tepe ! " Wu Se Kiong betul-betul marah. Istrinya berusaha menyabarkan suaminya.
" Papa tak usah pergi, aku yang pergi." Kata Ping An.
" Tidak usah !"
" Aku harus membuktikan bukan aku pengirim foto-foto itu. Kalau aku tak hadir, pasti mereka mengatakan aku takut dan bersembunyi kayak tikus got." Dalih Ping An.
Wu Se Kiong merasa omongan Ping An beralasan. Ia membiarkan.

Upacara penguburan selalu dimulai jam 11 siang. Ping An sengaja datang jam 10.30 pagi. Banyak tamu yang heran melihat kedatangannya. Semua ingin melihat apa yang terjadi. Dari pagi gerimis terus turun. Ping An tidak masuk ke rumah keluarga Chang. Ia berbaur dengan pengantar di tenda. Ahuan geram  melihat Ping An berkeliaran di luar rumahnya. Rasanya ia ingin mengusir Ping An. Selfie sangat terpukul atas apa yang terjadi. Semalam ia ikut mendengar saat Ping An mengatakan foto-foto itu dicetak untuk dikirim padanya. Untuk mengejeknya. Papanya melarang karena tak ingin ia bercerai dengan Ahuan. Papanya tak sudi menerimanya kembali. Sekarang ia harus berpikir ulang andai ia meminta cerai dari Ahuan. Ia kehilangan sandaran begitu bercerai dari Ahuan. Tanpa keluarga Chang ia tak punya apa-apa. Ia bingung memikirkan masa depannya. Membiarkan, ia bisa dinilai tak punya gigi. Unjuk gigi, bisa-bisa ia keceplosan meminta cerai akibatnya merugikan dirinya sendiri. Akhirnya ia memilih menunggu keputusan Chang Lao dengan sikap pasrah.
Jam 11 hujan mereda. Pemimpin acara menyuruh acara sembahyang cepat digelar sebelum hujan  kembali melebat. Kali ini yang berdoa hanya keluarga yang meninggal. Pengantar cukup ikut menggotong peti mati atau sekedar berjalan bersama keramaian. Jam 11.30 jenazah diberangkatkan menuju pemakaman. Hujan melebat begitu peti mati diangkat menuju pemakaman. Sepanjang perjalanan hujan mengguyur sementara kilat menyambar-nyambar. Banyak yang menunggu apakah Ping An disambar petir atau tidak. Semua harus kecewa karena Ping An ikut memikul peti mati. Andai ia tersambar, pasti banyak yang terikut terimbas.
Hujan membuat lubang yang digali dipenuhi air, terpaksa airnya dikeringkan dengan ember. Begitu air dikeringkan datang lagi kucuran melalui lubang-lubang di tanah, akibatnya lubang kembali setengah terisi air. Begitu dikeringkan kembali, cepat-cepat peti jenazah diturunkan. Geisha menjerit-jerit menyatakan penyesalannya. Tak ada yang memedulikan jeritannya. Keluarga Chang memilih diam. Mungkin terlalu malu mempunyai menantu seperti Geisha.  A Un digandeng Toapeknya menjalankan tugas sebagai anak tertua memegang hunpek (monumentalis sementara, sementara adiknya digandeng Akuan sambil memegang tonghuan ( tongkat penunjuk arah bagi roh). Semua pengantar kasihan melihat anak-anak yang berusia 4 hingga 7 tahun sudah kehilangan ayah, bersujud di tengah hujan lebat, di bawah siraman cahaya  guntur, bersembahyang tertatih-tatih akibat tanah licin. Sebuah kejadian yang memilukan hati, tapi begitu menatap ke arah Geisha, semua rasanya ingin meludah ke arah perempuan hina itu. Ahuan tak berkutik dihujani tatapan menuduh disana-sini. Ia menatap Ping An. Ping An malah enak-enakkan ngobrol dengan pengantar lain seakan tidak bersalah atas kematian Cetepe. Ahuan yakin Ping An yang mengirim foto-foto itu. Kenapa petir tidak menyambar kepala Ping An ? Apa sumpah di zaman sekarang sudah tidak sakti lagi seperti sumpah antara keluarga Wu dan keluarga Bai ?