Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 269-270

1 Agustus 2018   05:35 Diperbarui: 1 Agustus 2018   05:45 518 0 0
Namaku Awai 269-270
sampul cover novel

" Jadi, kamu menganggap rumahmu lebih berharga ketimbang Tiong It?"

" Jangan mendesakku, paman Hsu. Untuk saat itu hanya inilah yang bisa kulakukan. " pinta Awai.

" Terus, kamu mau menikah dengan siapa? Tiong It pemuda baik loh. Baik dan sopan. Sopan dan pengertian. Andai aku punya anak gadis, aku pasti memilih calon menantu seperti dia, " oceh Hsu Natan.

" Kenapa paman tidak menikah ?" Awai ingin mengalihkan topik, sengaja bertanya demikian.

" Aku tidak menikah karena wanita yang kucintai meninggalkanku. Waktu muda aku miskin, dia pilih menikah dengan pemuda kaya. Kupikir seharusnya kamu mengikuti jejaknya."

Awai ingin berpindah topik, tapi Paman Hsu lebih pintar mengembalikan topik.

" Nanti kucari yang lebih kaya dari Han Tiong It." Ia tidak serius, hanya bercanda untuk berhenti dari topik tentang dirinya.

" Di Bantan Tua ada keluarga kaya, Ho Ka Seng, anaknya seumuran denganmu. Namanya Ho Kabin. Mau kukenalkan padanya ? " Hsu Natan melempar senyum menggoda.

" Gak. Aku mau buang sampah, udah itu pulang mengajak papa melatih kaki. Ogah ngomongin orang kaya, nanti semakin sakit hati. Bye, paman Hsu."

Awai berjalan ke dapur, meninggalkan Hsu Natan yang geleng-geleng kepala.

Awai senang kini ibunya berhenti berjudi. Saat ia berangkat ibunya masih tidur, dan saat ia pulang ibunya ngobrol bersama tetangga di dapur. Ia mengajak ayahnya berjalan ke ujung jalan Rumbia. Keduanya duduk mengaso di tunggul kayu depan rumah Soraya yang dibeli Yolana.

Tan Suki mengambil tangan anaknya, menulis : Papa berutang banyak padamu.

Awai kaget. " Utang apa, papa ?" tanya Awai.

Tan Suki menulis : Kamu menyelamatkan rumah kita.

" Itu sudah kewajiban seorang anak, papa."

Tan Suki membelai rambut anaknya dengan tangan kirinya, lalu menulis : Dengan mengorbankan masa depanmu bersama Tiong It. Papa merasa bersalah padamu. Airmatanya mengalir ke pipi.

Awai menghapus airmata ayahnya. " Jangan dipikirkan, papa. Itu sudah kewajiban seorang anak. Yang penting kita punya tempat tinggal."

Joyah keluar dari rumah sambil membawa rantang. Melambaikan tangan pada anak dan bapak itu. Hatinya terharu melihat rasa bakti yang ditunjukkan Awai. Di Lubuk Ikan ada yang terkena penyakit seperti Tan Suki, keluarganya membiarkan orang itu tidur sepanjang hari. Ia salut pada ketelatenan Awai merawat ayahnya.