Mohon tunggu...
Deni Firman
Deni Firman Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Senang menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pentingnya Practical Life Skills sebagai Kompetensi Lulusan

13 Desember 2022   15:03 Diperbarui: 13 Desember 2022   15:16 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dalam bingkai kompetensi lulusan peserta didik SMA, practical life skills merupakan bagian penting dari sifat 'qawwamah' (kepemimpinan di dalam rumah tangga, diambil dari Al-Qur`an Surat An-Nisa ayat 34). 

Ia merupakan elemen penting dari kemampuan memecahkan masalah dan kreativitas di ranah praktis. Practical life skills menuntut koordinasi keterampilan berpikir dan bertindak cepat, sama kompleksnya dengan keterampilan menganalisis masalah dan berpikir lateral di ranah kognitif.

Seorang teknisi atau tukang bangunan mungkin tidak lebih keren dari seorang dosen atau profesor di perguruan tinggi. Akan tetapi, terbukti mereka sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah sehari-hari: menyediakan solusi bagi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, dari  yang tampaknya 'sepele' seperti memperbaiki saluran air yang mampat, hingga yang agak rumit dan berbahaya seperti memperbaiki instalasi listrik.

Practical life skills yang merupakan bagian dari kompetensi kelelakian dan kedewasaan (rujuliyah) seyogyanya dimiliki lulusan SMA putra sebagai perwujudan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ibunda Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam rumahnya, maka Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab, "Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala sesuatu yang biasa dilakukan lelaki di dalam rumah." (Hadis riwayat Ahmad). Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beliau memikul air dalam ember dan memerah susu kambing.

Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, "Aku pernah ditanya tentang apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam rumahnya." Aisyah menjawab, "Rasulullah senantiasa melakukan pekerjaan rumah tangga (membantu istrinya), apabila waktu salat tiba, maka beliau pun keluar untuk salat (berjamaah)."

Di satu sisi, amal perbuatan Rasul itu mencerminkan kerendahan hati beliau. Memperbaiki sandal atau menjahit baju sendiri adalah perilaku yang simpatik dari seorang suami  juga seorang pemimpin besar umat manusia. Beliau tidak serta merta membuang sandal yang rusak atau baju yang robek dan menggantinya dengan yang baru -melainkan memperbaiki dan menjahitnya kembali.

Seorang lelaki memiliki kepemimpinan dan kekuasaan yang sangat besar di dalam rumah tangga dan memiliki hak yang sangat besar atas istrinya- sebagaimana diisyaratkan dalam Surat An-Nisa ayat 34 di atas-- sehingga bisa saja selaku suami si lelaki menyuruh istrinya seluruh pekerjaan rumah tangga. Akan tetapi, Rasulullah tidak mengambil hak dan kekuasaan tadi dengan senantiasa menyuruh istrinya. 

Atau, bila si suami berharta bisa saja disuruhnya tukang atau orang lain. Hadis-hadis di atas menunjukkan gaya hidup Rasulullah yang sangat sederhana dan harta beliau yang tidak banyak.

Beliau lakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan 'sepele' itu. Selain meringankan pekerjaan istri, melakukan perkara-perkara sederhana di dalam rumah juga menguatkan kehangatan hidup berumah tangga dan menambah cinta kasih antara suami-istri.

Hadis riwayat Aisyah di atas memberi gambaran tentang kehidupan keluarga Nabi yang sakinah.

Untuk peserta didik putri, practical life skills seperti memasak, membuat kue, berbenah, mencuci pakaian, menyetrika, merawat rumah, menjahit dan sejenisnya akan sangat diperlukan dalam perannya selaku istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Di lembaga formal persekolahan, pendidikan keterampilan semacam ini kadang disebut sebagai pendidikan keputrian (tarbiyah niswiyyah).

Jika lulus SMA, seorang pelajar putri bisa saja melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, atau memasuki bidang-bidang profesional yang selaras dengan bakatnya. Namun, fitrah dasarnya selaku wanita mengharuskannya memiliki sejumlah kompetensi selaku ibu rumah tangga.

Selama kehidupan manusia berjalan di atas fitrah (lelaki menikah dengan wanita) maka practical life skills menjadi kompetensi yang tidak bisa diabaikan. Yang lelaki harus menjadi lelaki dewasa (rijal) sementara lawan jenisnya harus menjadi perempuan yang dewasa pula (nisa').

Keterampilan praktis rumah tangga ini sebaiknya diajarkan sebagai perpaduan dari subjek teknis dan adab-akhlak sekaligus. Sebagai kompetensi teknis, sebagiannya ia ditopang kreativitas dan keterlatihan akibat seringnya berinteraksi dengan masalah, sehingga masalah bisa dikenali pola-polanya. Kecepatan bertindak, kecerdikan dan kelincahan (agility) muncul sebagai sesuatu yang organik dan spontan. Keterampilan ini mengimbangi kreativitas di ranah kognitif yang seringnya melibatkan abstraksi dan imajinasi dalam metode berpikir lateral. 

Cara berpikir lateral adalah keterampilan berpikir kreatif untuk masalah-masalah teoretis dalam lingkup yang lebih besar dan abstrak, namun kompetensi practical life skills akan membantu menjawab penyelesaian teknis-pragmatisnya di lapangan.

Metode Montessori dan kepanduan (boyscouting) banyak berurusan dengan penajaman practical life skills ini. Beberapa metode pembelajaran dari Montessori dan kepanduan bisa dimodifikasi untuk keperluan di masing-masing lokal.

Practical life skills akan membuat peserta didik peduli dan mau merawat dirinya sendiri, peduli dan mau menjaga lingkungan, serta menghasilkan karakter kemandirian, dalam kerangka bertahan hidup.  Sedangkan dalam kerangka pembinaan kompetensi qawwamah keterampilan hidup praktis juga menumbuhkan sikap tawadhu sebagai lawan dari sikap arogan dan menabur benih-benih harmoni hidup berkeluarga bersama pasangan.

Wallahu a'lam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun