Muhammad Dendy
Muhammad Dendy Wirausaha/ Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ikom)

"saya adalah orang yang selalu ingin belajar dan selalu ingin mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri saya"

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Selamat Datang Pemimpin Baru Jakarta: Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno

13 Oktober 2017   00:15 Diperbarui: 14 Oktober 2017   06:05 1081 4 1
Selamat Datang Pemimpin Baru Jakarta: Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno
Foto: Ilustrasi oleh : Edi Wahyono/detikcom

Tanggal 16 Oktober 2017 mendatang adalah hari paling penting dan krusial dalam sejarah demokrasi Indonesia, terutama Ibukota Jakarta. Pasangan Anies-Sandi yang merupakan pasangan yang di usung oleh kekuatan 2 partai Oposisi, yaitu PKS dan Gerindra, serta yang bergabung belakangan PAN akan resmi dilantik. Sehingga dapat dipastikan kedua calon pemimpin ini, akan mulai memegang komando pemerintah Ibukota selama 5 tahun kedepan.

Akan tetapi ada yang menarik menjelang pelantikan pasangan yang diusung oleh kekuatan 2 partai oposisi ini, yaitu polarisasi alias keterbelahan masyarakat kembali muncul. Setelah sempat adem ayem ketika pasangan pesaing Ahok-Djarot mengakui kekalahannya dan memberikan selamat kepada Anies-Sandi. Tentu otomatis panasnya politik Indonesia, khususnya Jakarta sempat mereda. Meskipun ada beberapa riuh pergolakan, akan tetapi tidak berpengaruh luas.

Saya bisa berkata Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah pilkada terpanas, setelah Pilkada DKI 2012 lalu yang merupakan cikal bakal dari polarisasi alias keterbelahan masyarakat. Berdasarkan fenomena dari berbagai opini masyarakat yang lalu-lalang di media sosial yang saya amati belakangan ini, banyak yang menjadi pengamat dadakan. Yaitu dengan menagih Janji Anies-Sandi yang kita ketahui sampai saat ini saja mereka belum memegang tongkat komando pemerintahan Jakarta. Hal tersebut menandakan betapa besarnya polarisasi yang terjadi setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, bahkan jauh setelah proses pilkada paling Krusial tersebut berlangsung.

Baiklah, mari saya ajak berpikir jernih dan tidak larut dan terperosok dalam polarisasi tersebut yang justru akan merugikan diri kita sendiri. Coba bayangkan jika polarisasi yang terjadi akan berlangsung selama pemerintahan Anies-Sandi berjalan, apakah pemerintahan Provinsi DKI Jakarta akan berjalan lancar dan efektif? Suara-suara kritis tentu adalah proses dalam demokrasi itu sendiri. Akan tetapi apakah sampai kita menagih janji yang padahal sang calon pemimpin itu sendiri belum menjabat?

Anies-Sandi adalah milik segala elemen masyarakat Jakarta, dan toh Anies Baswedan adalah salah satu tokoh yang menghargai Pluralisme dan kebhinekaan. Apakah benar mereka anti kedua kata yang menjadi mendadak krusial beberapa waktu belakangan ini?. Sebelum berpikir seperti itu, coba kita berpikir, yang dibutuhkan oleh warga Jakarta adalah pemimpin yang bisa mengakomodasi segala kepentingan. Baik kepentingan si miskin maupun si kaya yang hidup megah di tengah kejamnya kehidupan si miskin di ibukota.

Kemenangan Anies-Sandi adalah suatu suara rakyat kecil yang selama ini tidak terakomodasi kepentingannya. Karena jakarta adalah milik semua, baik si miskin maupun si kaya. Jika para pembaca juga warga Jakarta pasti pernah merasakan betapa timpangnya jurang pemisah antara si miskin dan si kaya di Jakarta. Bahkan ketimpangan ekonomi di Jakarta adalah salah satu yang tertinggi di Indonesia. Ada pelajaran yang saya tangkap dari kemenangan Anies-Sandi. Yaitu ketika suatu pemimpin mampu mengakomodir segala kepentingan yang mencakup masyarakat luas, maka peluang kemenangan akan ada didepan mata.

Sedikit Flashback, pada era kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, Jokowi yang dikala itu dipandang sebagai pemimpin yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat kecil, menarik perhatian publik luas. Bahkan hingga tingkat nasional. Isu pemerataan dan ketimpangan ekonomi Jakarta adalah isu krusial dari masalah sosial yang menahun di Jakarta.

Arus urbanisasi dari desa ke kota yang selama ini menjadi masalah klasik di jakarta adalah bukti, Jakarta butuh pemimpin yang bisa mengakomodir kepentingan masyarakat tersebut. Sehingga masalah penggusuran dan pemukiman adalah masalah yang menjadi vital disini. Dan Jokowi dikala itu berhasil menarik simpati warga Jakarta dengan isu penggusuran yang manusiawi, yaitu dengan cara yang lebih memanusiakan manusia.

Serupa dengan Jokowi, Anies-Sandi tentu juga menyorot masalah sosial tersebut, yaitu masalah penggusuran dan pemukiman. Dan tentu saja ditambah isu reklamasi, yang juga menyangkut masalah sosial rakyat kecil Jakarta. Jadi intinya, daripada kita meributkan perbedaan pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Mendingan kita kawal pemimpin baru Jakarta yang akan datang, karena warga Jakarta hanya menginginkan Pemimpin yang manusiawi dan pro terhadap kepentingan masyarakat kecil dan menengah yang merupakan mayoritas penduduk kota Jakarta.

Karena apapun itu, Anies-Sandi adalah pemimpin Jakarta yang telah dipilih oleh 58 persen warga Jakarta. Untuk itu kita harus menghargai suara 58 persen warga Jakarta tersebut. Masih banyak permasalahan kota Jakarta yang harus diselesaikan. Mulai dari Transportasi, Banjir, tata kota, over populasi dan sebagainya. Sebagai warga Jakarta, mari kita kawal pemimpin baru yang akan datang dan Jaga Kota kita tercinta, yaitu Jakarta. Selamat datang Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahudin Uno.