Mohon tunggu...
Denata
Denata Mohon Tunggu... Wiraswasta - wiraswasta

perempuan cerdas tidak hanya harus berpendidikan namun juga mampu menggunakan logika dan rasionalitas dalam menyingkapi sebuah isu. Broaden knowledge and be critical

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Kekhasan Ramadan yang Selalu Dinantikan

16 April 2021   16:31 Diperbarui: 16 April 2021   16:48 1837
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Siapa yang tidak merasa senang ketika Ramadan datang. Sudah pasti mayoritas umat muslim akan bersemangat menyambut datangnya Ramadan. Jika seseorang ditanya, hal apa yang menyenangkan saat memasuki bulan puasa, jawabannya pasti bersifat subjektif. Setiap orang memiliki pandangan dan pendapatnya masing-masing. Tapi ada hal-hal yang mungkin disepakati bersama sebagai  ciri yang dirindukan dari Ramadan, bahkan dinantikan.

Khasnya Ramadan yang Dirindukan

ilustrasi pasar Ramadan, Sumber ampera.co
ilustrasi pasar Ramadan, Sumber ampera.co
Jika berbicara tentang khasnya Ramadan, ada beberapa hal yang hanya bisa ditemukan di bulan suci Ramadan. Tarawih berjamaah, sahur dan berbuka, ngabuburit, berburu takjil dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak kekhasan bulan Ramadan, kegiatan berburu takjil adalah yang mengusik kerinduan saya .

Pandemi telah membuat banyak kegiatan harus dilakukan di rumah. Jika salat tarawih berjamaah, sahur dan berbuka bisa dilakukan di rumah. Maka lain halnya dengan berburu takjil. Ramadan di tengah pandemi membuat kebanyakan penjual takjil tidak bisa berjualan. Pasar Ramadan juga ditiadakan karena mengundang kerumunan. Kerumunan tentu sangat berbahaya mengingat  virus corona  masih berada di sekitar kita.

Berburu takjil, kegiatan ini memang menjadi khasnya Ramadan dan selalu dirindukan, baik oleh mereka yang berpuasa ataupun tidak berpuasa. Sudah menjadi tradisi jika berburu takjil masuk dalam rangkaian kegiatan di bulan Ramadan. Sebelum pandemi, banyak yang mencari makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Kegiatan ini biasanya dilakukan sore hari sambil menunggu azan magrib sebagai pertanda buka puasa. Jalan-jalan protokol kerap menjadi tempat berjualan takjil.

Entah bagaimana kata takjil bisa sepopuler sekarang. Bahkan menjadi salah satu ciri khas Ramadan. Kebanyakan orang mengartikan takjil sebagai hidangan berbuka puasa, baik itu makanan atau minuman yang di santap sebelum makanan utama. Padahal merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takjil berarti mempercepat (dalam berbuka puasa).

Terlepas dari definisi takjil, tradisi berburu makanan pembuka puasa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bagi pecinta kuliner seperti saya, sudah pasti tidak akan melewatkan momen berburu takjil di bulan Ramadan. Aneka pilihan makanan yang tidak bisa dijumpai di bulan-bulan biasa, tetapi banyak ditemukan di bulan Ramadan menjadi salah satu alasan untuk berburu takjil. Pedagang-pedagang dadakan dengan lapak seadanya juga mudah ditemukan di sepanjang jalan. Hal ini semakin membuat banyak pilihan makanan untuk dibeli dan dibawa pulang ke rumah.

Sebelum pandemi, di Kabupaten Muara Enim tepatnya, banyak penjual takjil yang bisa ditemui hampir disepanjang jalan. Berbagai macam olahan kue, minuman segar hingga lauk pauk menjadi andalan para penjual. Banyak makanan yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Maklum saja karena yang dijual kebanyakan makanan khas Sumatera Selatan. Meskipun belum begitu terbiasa dengan makanannya, saya hampir selalu tergiur untuk membeli dan mencicipi. Bahkan kadang saya merasa bingung harus memilih yang mana.

Biasanya Mulai pukul 15.00 WIB hingga mendekati waktu berbuka, beberapa ruas jalan sudah dipenuhi puluhan penjual takjil. Setiap hari selama bulan Ramadan, pasti selalu ramai dan menimbulkan kemacetan. Bulan Ramadan bukan hanya menjadi berkah tersendiri untuk pecinta kuliner, tetapi juga menjadi berkah bagi penjual takjil.

Memang tidak lengkap rasanya bila saat berbuka puasa tidak ditemani aneka takjil. Jika umumnya kita hanya mengonsumsi makan pagi, siang dan malam, saat puasa kita akan menemukan takjil yang hanya ada saat Ramadan.

Sayangnya sejak Ramadan tahun lalu, kegiatan berburu takjil tidak ada lagi. Pandemi telah membuat khasnya Ramadan yang satu ini sulit untuk dilakukan. Jika saya ibaratkan, berburu takjil saat ini ibarat kekasih yang tengah berada di luar kota nan jauh. Kehadirannya selalu dirindukan.

Kerinduan yang Belum Terobati

ilustrasi celimpungan (makanan khas Palembang) Sumber ksmtour.com
ilustrasi celimpungan (makanan khas Palembang) Sumber ksmtour.com

Bagi saya yang mencintai kuliner, berburu takjil di perantauan telah meninggalkan kesan tersendiri. Menjadi anak rantau sedikit banyak telah mengubah cita rasa saya, yang semula menyukai pedas manis, sekarang menyukai pedas asin.

Biasanya di bulan puasa selain penjual takjil di pinggir jalan, ada juga pasar Ramadan. Di sini banyak aneka makanan yang dijual. Mulai dari makanan sejuta umat gorengan, kue basah, kolak, es timun suri, kelapa muda dan masih banyak lagi aneka takjil yang menggoda.

Namun, dari sekian banyak takjil yang ada, saya jatuh cinta dengan makanan khas Sumatera Selatan yang memiliki rasa unik. Jika kolak, es buah, kue basah bisa diolah sendiri di rumah dan rasanya tidak beda jauh dengan yang dijual, untuk makanan ini mungkin hanya bisa dibuat oleh penjualnya. Karena rasanya akan berbeda. Jika kebanyakan orang berbuka puasa dengan makanan manis, di tempat saya, berbuka puasa di awali dengan yang gurih layaknya pempek.

Sumatera Selatan sendiri memiliki banyak makanan khas yang enak. Salah satunya celimpungan. Mungkin nama ini tidak populer seperti pempek, tetapi celimpungan menjadi salah satu menu berbuka puasa yang membuat saya ketagihan. Celimpungan biasanya diolah dari campuran ikan dan tepung tapioka, di Sumatera mereka biasa menyebut tapioka dengan sagu. Adonan dimasak dalam kuah kuning bersantan dan dilengkapi bumbu lainnya. Adonanya mirip dengan pempek, hanya saja pempek dilengkapi dengan cuko.

Selain bulan Ramadan, makanan ini sudah sulit ditemukan. Bahkan jika memasuki bulan puasa, tidak semua penjual takjil memiliki menu celimpungan. Sayangnya, sejak tahun kemarin, kegiatan berjualan takjil  masih dilarang. Saya hanya bisa merindukan perburuan celimpungan sebagai menu berbuka puasa. Berburu makanan khas Ramadan menjadi kerinduan yang belum terobati.

Bulan Ramadan selalu menjadi bulan penuh berkah dan istimewa. Selain merindukan karena banyaknya berkah, banyak orang juga menantikan kuliner khas Ramadan yang selalu memanjakan lidah. Dua tahun sudah kegiatan berburu takjil harus dirasakan berbeda karena pandemi. Bgaimanapun, berburu takjil akan selalu menjadi momen yang dirindukan dan dinantikan saat Ramadan. Kegiatan setiap sore, berkeliling ke berbagai penjuru kota untuk menemukan takjil kesukaan.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun