Mohon tunggu...
Delianur
Delianur Mohon Tunggu... a Journey

a Journey

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"The 12th Man", Bukan Sekadar Mempertahankan Diri

6 Agustus 2018   17:19 Diperbarui: 6 Agustus 2018   17:27 4413 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"The 12th Man", Bukan Sekadar Mempertahankan Diri
(bifest.it)

Banyak hal bisa dikenang dengan Piala Dunia 1998. Mulai dari pelatih Aime Jacquet dan kapten Didier Deschamps yang berhasil mengantarkan Prancis sebagai juara baru Piala Dunia, sampai dengan Ricky Martin yang membawakan lagu resmi Piala Dunia, La Copa de la Vida. Penyanyi latin yang dikemudian hari mengecewakan banyak wanita penggemarnya karena mengaku sebagai gay, seperti mengingatkan orang akan lelucon bahwa lelaki ganteng pada dasarnya terlahir hanya untuk lelaki juga.

Selain itu, ada skor telak 3-0 Prancis atas Brazil di babak final yang membuat negeri pemilik Eifel menjadi juara, juga pertemuan dramatis antara dua musuh bebuyutan Argentina dan Inggris. Three Lions mesti angkat koper lebih dahulu setelah dikalahkan Batistuta dkk.

David Beckham menjadi pesakitan dan dianggap biang kerok karena tidak bisa mengontrol diri menghadapi provokasi gelandang jangkar Diego Simeone. Media Inggris menyebutnya sebagai kerja keras 10 pemain Inggris, dikalahkan oleh kebodohan 1 pemain Inggris; Beckham.

Tetapi dari sisi pertandingan, ada satu pertandingan yang dilakoni dua negara underdog yang menarik perhatian publik. Secara tekhnis, kedua tim ini dianggap berasal dari negara sepakbola kelas dua, bahkan mungkin kelas tiga. Petandingannya pun terjadinya di Babak penyisihan grup bukan fase gugur.

Tetapi bila orang memandang Inggris-Argentina atau Belanda-Jerman sebagai pertandingan yang menguras emosi dan akan bertensi tinggi, maka pertandingan dua tim ini ada satu level diatasnya. Uniknya, meski keduanya dianggap sebelah mata, hampir semua mata tertuju melihatnya. Inilah pertemuan antara Iran dan Amerika.

Bagaimanapun pertemuan Iran dan Amerika di Piala Dunia Prancis ini tidak akan pernah dilepaskan dari "pertemuan" kedua negara tersebut dalam politik internasional. Jauh sebelum pertemuan ini, orang Amerika pastinya tidak akan pernah melupakan bagaimana orang Iran mengidentifikasi dan menyebutkan Who America Is?. "The Big Evil" begitu sebutan orang Iran terhadap Amerika.

Sebutan ini pastinya bukan tanpa alasan. Ini tidak hanya berkaitan dengan arogansi Amerika di dunia internasional, tetapi semena-menanya Amerikat terhadap Iran. Di tengah kampanye massif Amerika tentang pentingnya Demokrasi ke seantaro dunia, Amerika justru mendukung penuh kepemimpinan tirani, represif dan otoriter ala Syah Iran Reza Pahlevi.

Syah Iran pemimpin boneka ciptaan Amerika dan menjadi titik masuk Amerika untuk mengeksploitasi Iran. Bagaimana bencinya masyarakat Iran terhadap Amerika, secara selintas digambarkan dengan baik oleh Ben Afflect dalam salah satu filmnya; Argo.

Begitu juga sebaliknya. Bagaimana sikap Amerika terhadap rakyat Iran tergambar dari ujaran-ujaran atau kebijakan Amerika terhadap Iran. Negeri Imam Khomeini ini selalu dilekatkan dengan negara yang akan mengancam keamanan dunia dengan proyek nuklirnya. Embargo ekonomi dan mengaitkan Iran dengan Korea Utara sebagai poros yang akan menghancurkan dunia, adalah dua hal yang sering diungkap Amerika.

Karenanya pertemuan dua tim ini di Prancis bukan hanya sekedar pertemuan dua tim sepakbola. Tetapi juga pertemuan dengan sejumlah latar belakang emosi yang sangat menguras emosi. Bisa jadi latar belakang nya bukan hanya tentang hubungan politik antara mereka di abad 20 yang sangat panas, mungkin membentang ke belakang berabad-abad lalu.

Iran yang dikenal sebagai negeri Mesopotamia sebagai pusat peradaban dunia yang berpusat pada dua aliran sungai Efrat dan Tigris, akan berhadapan dengan Amerika yang menjadi penguasa dunia terkini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x