Mohon tunggu...
Dedy Pratama
Dedy Pratama Mohon Tunggu... Seorang yang akan terus belajar dari hikmah dan pengalaman kehidupan

Aku hanya bagian dari kisah serial puzzle kehidupan. Terus belajar dan berbagi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Serial Puzzle I Jum'at - 09.10

27 Maret 2020   08:09 Diperbarui: 27 Maret 2020   08:15 47 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Serial Puzzle I Jum'at - 09.10
Catatan Serial Puzzle I Jum'at -09.10 | Ilustrasi hasil olahan penulis

Saya perhatikan kedatangan Pras dari kejauhan. Ia tampak mencari kami. Obrolan kami terhenti. Menyisakan isak yang belum terasa lega di hati saya. Terasa berat sampai kepala saya pun terasa sedikit sakit. Langkah kaki Pras terasa cepat sekali. Tak memberikan jeda untuk mengembalikan perasaan awal saya.

Perlahan saya menarik nafas panjang. Saya lemparkan senyum kepadanya. "Hai Pras," sahutku.

"Hai, kalian saling kenal rupanya?" tegur Pras.

Saya dan Reren saling menatap. Melempar senyum kecil. Ternyata kami sedang menunggu orang yang sama. "Tapi siapakah Pras ini," gerutuku.

"Oh iya Pras. Dia yang menolongku saat itu. Sewaktu aku sedang mabuk," saya coba pecahkan kebingungan diantara kita. Sempat beberapa menit kami saling terdiam, menunggu siapa yang akan memulai lebih dulu berbicara.

Pras nampak tersenyum kepada kami. "Hai, kenapa kita berdiri saja," silahkan duduk kata Pras

"Hahahaha." Kamipun lantas terbahak bersama. Suasana kini sedikit mencair. Saya bisa rasakan suasana persahabatan. Meski kami baru saling kenal.

"Jadi kau sudah kenal dengan Reren?" tanya Pras kepadaku. Dalam perbincangan itu, saya melihat tangannya mulai meraih tangan Reren. Saya mulai menaruh curiga di sini. "Jangan-jangan mereka ada hubungan sepesial," bisikku.

"Iya Pras, ia yang sewaktu itu menolong saya. Mengobati tangan saya, jika tidak ada dr. Reren barangkali saya tak bisa menjadi penulis seperti saat ini."

"Haha," kami pun lantas terbahak kembali.

Di tengah candaan ini, Reren tak terlihat seperti awal tadi. Keceriaannya, tak lagi saya dapatkan. Ia hanya melempar senyum yang tertahan diantara obrolan kita.

"Oh iya Jo. Dia ini tunanganku. Beberapa bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan."
Reren dan Pras saling menatap. Ia bersama melempar senyum.

Ternyata orang yang pernah saya kagumi adalah tunangan dari sahabat yang membesarkan saya. Untung saja saya belum menaruh perhatian besar kepada Reren. Beruntung juga kami dipertemukan ditempat ini.

"Sebenarnya kami sudah lama janji untuk bertemu. Berhubung ibu dokter ini sibuk, maka kami baru bisa bertemu hari ini," kelakar Pras.

Pantas  saja, selama ini pesan singkatku tak kunjung berbalas. Reren sungguh sangat sibuk.

"Kalian pasangan serasi," saya menimpali seadanya.

"Terimakasih Jo. Berhubung ibu dokter ini libur, maka saya ajak bertemu juga di tempat ini. Ternyata kalian lebih dulu kenal dan bertemu. Tadi saya masih ada urusan, hehehe."

"Biasalah pengusaha sukses," sahutku. Hehe

"Apa yang sedang kalaian bicangkan sedari tadi. Lama menunggu ya?" tanya Pras.

Lagi-lagi, Reren hanya menimpali seadanya. Ia hanya tersenyum. Saya bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin saya ceritakan apa yang telah disampaikan Reren tadi. Dan sepertinya Reren juga tak pernah menceritakan soal saya kepada Pras.

"Tidak banyak yang kita ceritakan Pras, hanya mengenang kejadian sewaktu saya berada di kliniknya." jawabku.

"Oh iya Jo. Jadi bagaimana berikutnya tentang serial puzzle ini? Pembacanya semakin meningkat." Pras melanjutkan maksudnya dalam mengajakku berjumpa.

Saya tersenyum manakala Pras katakan itu. Reren pun ikut melempar senyum kepada saya.

"Terimakasih Pras, berkatmu sekarang saya seperti ini. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu Pras. Kalian telah membantu saya," jawabku.

Suara ponsel Pras berbunyi. Ia perhatikan. Kemudian Pras meminta izin kepada kami untuk mengangkat telpon itu.

Pras meninggalkan kami berdua. Saya dan Reren terdiam, entah harus memulai dari mana lagi. Tak begitu lama, Pras nampak telah selesai menelpon, ia menuju kembali.

"Temuilah dia Jo. Dia masih menantimu," ucap Reren saat jarak Pras telah mendekati kami.

Tak ada ruang untuk saya menjawabnya. Kami kembali hening.

"Sebenarnya kami ingin membicarakan acara pernikahan kami, rencana beberapa bulan mendatang." Pras langsung melanjutkan obrolannya.

Dia sampaikan bahwa yang menelponnya adalah pihak yang akan menyukseskan acara pernikahannya.

"Apa yang bisa saya bantu Pras," tanyaku.

"Kau cukup datang saja Jo. Saya yakin banyak fansmu yang akan berjumpa denganmu juga nanti."

Hehe," saya tertawa simpul.

"Rencana bulan apa?" Tanyaku.

"Oktober," sahut Reren.

Kamipun seketika saling menatap. Saling memperhatikan. Sedari tadi Reren berdiam diri. "Reren memang penuh teka-teki," ucapku dalam hati.

***

Beberapa minggu setelah pertemuannya dengan Jo, dan menjelang resepsi pernikahannya. Reren dan Rensya bertemu.
*

"Selamat ulang tahun sahabatku, Rena Elysia Anastasya. Tetap tersenyum, kau makin cantik hari ini."

"Saya hanya bisa berikan ini. Kado yang sangat sepesial untukmu."

"Terimakasih Re. Terimakasih telah hadir menjadi sahabat baikku selama ini. Terimakasih atas kadonya."

"Semoga engkau bisa bahagia selalu sahabatku." Reren terdiam sejenak. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Maaf, saya yang telah menceritakan semua tentangmu dengan Jo," ucap Reren.

Rensya terkejut, ia lantas menegakkan kepalanya. Ia menatap Reren dengan tajam. Tak berkedip. Seakan Rensya ingin marah. Namun, ia tak mampu berkata-kata. Rensya merasa Reren tak menepati janjinya. Padahal ia berpesan untuk tidak berikan informasi apapun tentangnya dan juga Jo, saat Jo berada di klinik dahulu.

Namun, Reren sangat paham dengan pengharapan Jo dan Rensya. Mereka berdua saling berharap untuk jumpa dan kembali, namun sebab ego mereka akhirnya memilih untuk menghindar. Reren hanya berusaha agar mereka bisa kembali lagi.

Kini Rensya hanya mampu terdiam, matanya seakan membendung tangis yang belum mampu ia luapkan.

"Maafkan saya, saya juga telah minta dia untuk datang di acara ulang tahunmu. Ia masih sangat mencintaimu. Dia bilang dia sangat menyesal meninggalkanmu."

Rensya tak lagi mampu berkata apa-apa. Ia hanya terdiam mendengarkan cerita dari Reren.

"Kenapa kau harus ceritakan ini Re, ahhhs," Rensya ucapkan kekecewaannya.

"Sewaktu itu kami tak menyangka jika bisa bertemu. Ternyata dia bisa menjadi penulis karena Jo, tunanganku. Tapi apa mau dikata, kesalah pahaman dan ego kalian yang membuat seperti ini. Kini tak ada yang patut disalahkan, menyesal pun telah terlambat. Padahal Jo sangat ingin menemuimu. Mengucapkan selamat ulang tahun langsung kepadamu."

Perlahan Rensya pun tenang mendengarkan cerita dari Reren. Ia paham dengan apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu. Rensya menghela nafas, ia lingkaran tangannya di tubuh Reren.

"Tapi Jo tak menepati janjinya Re. Ia bohong. Kali ini ia bohong kepadaku Re. Kenapa dia selalu mengecewakanku. Setelah ia pergi meninggalkanku."

Rensya langsung menangis sejadi-jadinya. Ia hanya bisa memeluk Reren. Menaruh kepalanya di pundak Reren. Rensya tak lagi kuasa membendung tangisnya.

"Dulu ia meninggalkanku tanpa kabar. Ia tak menghubungiku. Tak lagi menanyakan kabarku. Ia selalu begini. Ia tak mau menemuiku. Ia bohong kalau ia akan hadir di pesta ulang tahunku Re," gerutu Rensya kesal.

"Sudah cukup. Cukup Rensya. Jo sangat mencintaimu. Ia begini lantaran ingin pergi menghadiri ulang tahunmu."

Mereka saling memeluk. Reren pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia seka air matanya. Reren menghela nafas panjang, dan melanjutkan ceritanya. Sembari mengingat terakhir kali perjumpaannya dengan Jo. Jo pasti akan menemui Rensya, hanya saja.

"Siapa yang tau, jika dipertengahan jalan ia akan mengalami kecelakaan. Dan kini menyebabkan nyawanya tak dapat diselamatkan lagi. Tidak ada yang mengharapkan kejadian ini," sahut Reren.

Rensya yang sedari tadi memeluk Reren. Kini ia tak tahan, ia lemas tak berdaya. Ia sesenggukan sejadi-jadinya.

"Itu buku Jo yang baru akan terbit. Mungkin itu bisa menjadi kado terbaik untukmu. Kalian saling mencintai".

"Tapi kenapa dia selalu meninggalkanku Re. Kali ini ia tidak akan kembali."

Rensya tak tahan lagi. Ia tak kuasa membendung air matanya. Antara menahan tangis dan sesalnya selama ini.

Reren tersadar saat terakhir kali bertemu Jo. Saat Jo berbisik lirih kepada Reren. "Rensya bilang, Jo mati saat Rensya ditanya oleh kawan-kawannya. Di hari ulang tahun Rensya," apakah ini pertanda kepergian Jo. Namun Reren urung menyampaikan kisah itu kepada Rensya.

"Bangkitlah Rensya. Kali ini kamu berhasil mengunjungi dia. Kau ingat dahulu, kau sangat ingin menjenguk dia di Klinik ku. Kini kau telah sampai di kota ini. Tersenyumlah walau itu berat. Setelah ini kita antarkaan jenazahnya kembali ke kota kalian."

Rensya makin tak kuasa. Di tengah sedihnya yang tak tertahan. Ia membuka kado dari Reren. Sebuah novel dari Jo. Berjudul, (Jum'at - 09.10).
***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x