Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Ketika Liga 1 Menyamai English Premier League

30 November 2021   18:00 Diperbarui: 1 Desember 2021   03:36 1316
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rahmad Darmawan saat menjadi pelatih Madura United. Sumber: Kompas.com/Suci Rahayu

Itu sudah terbukti bisa dilakukan di musim ini yang rata-rata pertandingan besarnya (big match) digelar pukul 20.20 WIB. Jika belum Ramadan saja bisa bermain malam, kenapa saat Ramadan nanti tidak?

Selain itu, stadion kita sudah lebih modern dibanding dulu yang pencahayaannya masih seperti "warkop angkringan". Maka, sekarang kalau melangsungkan pertandingan di malam hari sudah sangat memungkinkan.

Tentu dengan catatan, bahwa pertandingan tidak molor, saat akan dimulai maupun saat pertandingan masih berlangsung. Jangan sampai kejadian laga berusia 100 menit lebih terjadi saat sistem kompetisinya sedang seperti ini.

Kalau Hari Idul Fitri, jelas harus libur. Tetapi, liburnya juga tidak harus sampai lebih dari sepekan.

Karena, Indonesia ini makanan "jahatnya" sangat banyak. Maka, jangan sampai pemain-pemain kita diberikan waktu panjang untuk menikmati makanan-makanan "jahat" itu.

Nanti saja kalau sudah pensiun. Silakan berwisata kuliner sesuka lidah.

Dari faktor nilai kompetisi dan faktor inferioritas sepak bola kita dibanding kepentingan lain, saya berharap sepak bola kita tidak meniru kompetisi elit yang seolah-olah sangat kompetitif dengan cara menekan pelatihnya ke target yang tidak realistis.

Kalaupun ingin meniru, menirulah yang segi positif. Seperti regulasi yang jelas, jadwal yang tidak bisa dinegosiasi oleh kepentingan lain, hingga memastikan figur-figur yang tepat sebagai wasit dan perangkat pertandingannya jika teknologi belum ada.

Memang, itu adalah tanggung jawab federasi dan operator liga. Tetapi, kalau kompetisinya masih belum berkembang dan 'belum ke mana-mana', kenapa klub-klub kita seolah-olah sangat berambisi untuk meraih hasil terbaik hingga menggonta-ganti pelatih?

Apa benar, faktor pelatih yang sepenuhnya memengaruhi hasil pertandingan dan nasib klub?

Jangan-jangan, mereka adalah korban dari kerabunan kita tentang fakta di dalam dan luar dari klub tersebut. Dan, kita sudah telanjur terbawa euforia tentang tren pergantian pelatih sebagai solusi yang tepat untuk meraih hasil "memuaskan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun