Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Perkosa Estetika" dan Debat Kusir Kesenian Teater

8 April 2021   14:49 Diperbarui: 8 April 2021   16:04 574
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ini pula yang membuat kritik seandainya muncul, bukan untuk menghakimi sang penyaji. Melainkan, mempertanyakan apa misi penyaji terhadap pementasan itu.

Apakah sang penyaji ingin mengajak penonton larut ke dalam cerita, atau mengajak penonton merenungkan informasi yang mereka peroleh lewat pertunjukan itu dengan kehidupan penonton masing-masing.

Kebetulan, saat menonton pementasan tersebut, saya lebih dominan memperhatikan tulisan 'Perkosa Estetika', bahkan sampai pentasnya bubar. Ini yang kemudian saya coba bahas di tulisan ini, karena menurut saya bisa saja relevan dengan apa yang ingin disampaikan penyaji maupun apa yang saya temukan sendiri.

Menurut saya, tulisan itu juga dapat menjadi alarm bagi semua seniman yang masih menciptakan debat kusir terkait mana yang benar dan mana yang paling bagus. Sebenarnya, itu bisa terjadi, kalau dasar yang diperdebatkan masih satu koridor.

Hanya saja, biasanya saya menemukan perdebatan itu muncul dengan masing-masing membawa pemahamannya sendiri yang tidak satu koridor.

Misalnya, pihak penonton memprotes pertunjukan dengan membawa aliran 'realisme', namun pertunjukan yang diprotes mengusung paham 'nonrealisme', contohnya 'epic' atau 'absurd'. Perdebatan itu tidak akan menemukan titik temunya, karena sudah jelas berbeda koridor.

Itulah kenapa, saya terkadang heran jika masih menemukan adanya orang yang mengatakan bahwa dirinya mendapatkan 'sense of humanism' dari proses belajar teater, namun ternyata masih tidak mau mendengarkan dan mencoba mengerti inti dari adanya perbedaan. Padahal, jika ia sadar dengan adanya kemanusiaan, maka dia juga sadar dengan adanya perbedaan.

Saya secara pribadi seringkali dipusingkan oleh atmosfer perdebatan antarseniman teater yang biasanya hanya mau menunjukkan apa yang ia bawa, tanpa mau membawa pulang apa yang diberikan orang lain. Minimal secuilnya, atau jika daya tangkapnya tinggi maka ia dapat membawa pulang intisarinya.

Intisari itu yang kemudian dapat dikroscek kebenarannya lewat proses mencari tahu atau membaca literatur tentang apa yang telah dikatakan orang lain. Jika hal ini yang terjadi, maka yang akan tercipta dalam lingkaran pertemuan antarseniman teater adalah diskusi dan pertukaran dialektika.

Inilah yang nantinya dapat membuat teater tidak hanya sekadar hidup, tapi berkembang. Dia akan dapat menyesuaikan diri dengan zaman dan tingkat daya intelektualitas senimannya.

Mereka tidak seharusnya hanya mengingat sejarah, tetapi juga menciptakan sejarah baru. Inilah yang menjadi resep seni-seni lainnya, seperti musik, film, sastra, hingga tari untuk terus meresap ke sendi-sendi masyarakat di era yang semakin modern.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun