Mohon tunggu...
Dean Ruwayari
Dean Ruwayari Mohon Tunggu... Human Resources - Geopolitics Enthusiast

Belakangan doyan puisi. Tak tahu hari ini, tak tahu esok.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Nabi Masa Kini, Para Pemuja Sejati Tuhan

24 April 2020   14:17 Diperbarui: 16 Januari 2021   18:21 414
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Waktu pertama kali mengetik menggunakan MS Word (Microsoft Word) saya benar-benar terpana saat menekan ikon justify pada menu bar, dengan seketika ratusan huruf yang berantakan di atas kertas kerja digital itu tersusun rata pada sisi kiri dan kanan kertas. Secara spontan saya berkata "keren..Orang yang buat alat ini pasti sangat hebat".

Maklum di daerah kami saat itu (tahun 2001), komputer adalah sebuah eksklusifitas, apalagi internet. Mahalnya minta ampun. Kamu harus menjadi anak dari sebuah keluarga berkecukupan untuk bisa menikmati tarif internet Rp.10.000/jam di warnet dengan kecepatan di bawah 5mbps. Bisa dibilang, kamu harus menunggu kira-kira satu jam untuk bisa streaming lagu separuh nafas-nya Dewa yang populer saat itu. Dan belum ada youtube yang bisa kamu tonton ketika ingin cari tahu cara membuka program mengetik. Jadi, mari kita lupakan saja tentang streaming lagu dewa tadi.

Program-program TV juga jarang atau mungkin tidak ada sama sekali yang menyiarkan simulasi menggunakan komputer. Saat itu kami adalah generasi yang buta teknologi. Wong smartphone aja blom ada. Dan yah, saya tidak benar-benar tahu sekolah mana saja yang ada pelajaran komputer. Setahu saya hanya satu sekolah saja yang ada pelajaran komputer yaitu SMEA Negeri Sorong (sekarang SMK Negeri 1 Kota Sorong).

Saat itu tidak ada paksaan dari siapapun atau tren manapun bahwa saya harus mempelajari cara mengetik menggunakan komputer. Saya hanya seorang anak SMA kelas satu yang penasaran dunia komputer dan memutuskan untuk ikut kursus mengetik di Aloysius Komputer Kota Sorong, karena biayanya cukup terjangkau yakni Rp.75.000 untuk 10 kelas pertemuan.

Jadi saat itu, tidak ada yang memaksa saya untuk memuji orang itu. Juga saya tidak akan dikucilkan atau bahkan dihukum jika tidak memujinya. Saya memujinya secara murni dari hati karena saya lihat dan buktikan sendiri kehebatan alat yang diciptakannya, Microsoft Word. Saat itu juga --bahkan sampai sekarang, saya adalah penggemar sejati programer tersebut -yang di kemudian hari saya ketahui namanya adalah Bill Gates, sang pencipta program Microsoft Word.

Saya mengenal secara tidak langsung beberapa penggemar sejati programer. Salah satunya adalah Albert Einstein. Bedanya, programer yang dipuja Einstein adalah sang penulis program semesta, -banyak dari kita menyebut-Nya Tuhan. Salah satu program luar biasa-Nya adalah relativitas.

Relativitas adalah program yang 'ditulis' Tuhan untuk mengatur bagaimana benda-benda di semesta ini bergerak dengan tepat. Di mana di dalamnya ada fitur ruang, waktu, posisi dan kecepatan dari setiap benda -yang hidup dan yang mati. Einstein adalah orang pertama yang memahami dan mengungkapnya kepada umat manusia.

Termasuk paku atau beling yang ditemukan dalam perut seseorang yang terkena santet. Pergerakan paku tersebut dari suatu tempat ke dalam perut seseorang dapat di lakukan karena adanya program ini. Jadi, dalam program relativas, ukuran benda menyusut (mengecil) untuk dapat bergerak melalui saluran kecil lalu kembali ke ukuran 'aslinya' tergantung kecepatan yang diberikan kepada benda tersebut. Dengan pemahaman yang cukup tentang cara kerja relativitas, seorang ahli fisika mampu menghitung kecepatan dari paku yang dibutuhkan untuk bisa masuk ke dalam perut. Mereka bukan lagi sebuah mejik yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia. Inilah realita kita yang sebenarnya, bukan sekedar teori fenomena acak paranormal.

Tapi tentu saja bukan itu yang membuat Einstein terpana, melainkan melihat bagaimana segala benda bergerak secara tertib di alam semesta yang terlihat acak sesungguhnya bergerak menggunakan satu koreografi yang sangat teratur -satu program elegan-, relativitas. Einstein yang semula tidak mempercayai adanya Tuhan pada akhirnya memuji kebesaran-Nya:

"There must be a creator, for such of a beautiful complexity. And They are tremendously intelligent"

Ada banyak ilmuwan hebat yang menjadi penggemar sejati Tuhan. Kutipan mereka tentangNya pun banyak bertebaran di internet. Mereka memuji kehebatan Tuhan, sang penulis program alam semesta bukan karena tuntutan sosial, atau pekerjaan, atau karena takut kehilangan nyawa atau harta, atau alasan-alasan tertentu lainnya. Mereka memujiNya dengan hati yang murni karena memahami kehebatan program-program yang diciptakanNya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun