Mohon tunggu...
Hendrikus Dasrimin
Hendrikus Dasrimin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Scribo ergo sum (aku menulis maka aku ada)

Kunjungi blog saya, tema PENDIDIKAN: https://dasrimin-punya-coretan-lepas.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Salah Satu Imbas Kenaikan BBM di Kampung yang Jarang Diketahui

5 September 2022   07:00 Diperbarui: 5 September 2022   08:01 420 48 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pengisian BBM di SPBU (Dokumen Pribadi)

Pada Sabtu, 3 September 2022, Pukul 14.30 WIB, pemerintah telah mengumumkan kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter. Kemudian, Solar subsidi, menjadi  Rp 6.800 per liter dari harga sebelumnya Rp 5.150 per liter. Sementara itu Pertamax mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Sudah hampir dipanstikan bahwa kenaikan harga BBM ini lambat laun akan berdampak pada kenaikan harga produk yang ada komponen biayanya berasal dari BBM, seperti kenaikan tarif listrik, sembako, transportasi dan kebutuhan lainnya.

Menghadapi kenaikan harga BBM, hendaknya tidak membuat kita panik, frustasi atau marah-marah dan menyalahkan pemerintah, sehingga membuat kehidupan kita menjadi lebih sulit. Dampak kenaikan harga BBM memaksa masyarakat untuk lebih memperketat pos-pos pengeluaran sehari-hari dan memiliki gaya hidup yang dapat menghemat pengeluaran.

Kenaikan harga BBM yang diwacanakan selama ini sudah menjadi kenyataan. Tentunya pemerintah telah mempertimbangkan kebijakan ini dengan baik. Hal yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana masyarakat dapat menyikapi hal ini dengan bijak pula. 

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa ditempuh dalam menyikapi kenaikan harga BBM:

1. Mengurangi pengeluaran konsumtif dengan melatih diri membiasakan budaya hemat. Kenaikan harga BBM dapat berdampak pada kenaikan biaya kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu, budaya hemat atau gaya hidup tidak konsumtif sangat dibutuhkan.

2. Memaksimalkan jumlah penumpang dalam satu kendaraan. Jika keluarga yang memiliki lebih dari satu kendaraan, dapat diusahakan agar bisa bersama-sama menggunakan satu kendaraan jika ingin berpergian pada suatu tempat yang sama, dan masih ada tempat duduk yang longgar. 

Apabila di suatu kompleks perumahan terdapat banyak anak sekolah, bisa dikordinir untuk tidak sendiri-sendiri menggunakan kendaraan pribadi, tetapi bisa bersama-sama menggunakan angkuran antar-jemput.

3. Menggunakan moda transportasi non BBM. Apabila tempat yang akan kita tuju tidak harus membutuhkan kendaraan, dapat juga menggunakan alternatif lain misalkan dengan bersepeda atau berjalan kaki. Selain dapat menghemat pengeluaran, juga membuat tubuh kita mejadi lebih sehat.

4. Usahakan mengurangi kegiatan berpergian untuk urusan yang tidak penting. Jika ingin ke pasar atau ke tempat belanja, dianjurkan untuk mencatat apa yang akan dibeli. Hal ini akan mengurangi kebiasaan lupa membeli sesuatu yang ingin dibutuhkan dan terpaksa harus bolak-balik berbelanja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan