Mohon tunggu...
Daniel H.T.
Daniel H.T. Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Tol Laut, Supaya Orang Papua Tidak Minum Air Sungai dan Air Hujan Lagi

14 Mei 2016   23:27 Diperbarui: 15 Mei 2016   13:00 3504
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dari daftar tersebut tidak tercantum air minum dalam kemasan, juga mie instan. Padahal kedua jenis barang ini tergolong sangat dibutuhkan oleh masyarakat Papua, terutama sekali air minum dalam kemasan, karena air bersih dari PDAM di sana sangat tidak bisa diandalkan. Jangankan untuk kebutuhan air minum, untuk mandi dan cuci saja sulit.

Contohnya di Fakfak, Papua Barat. Saya pernah menulis di Kompasianatentang krisis air di sana (Krisis Air Bersih dan Gedung Kantor Bupati Fakfak yang Megah).

Saking sulitnya memperoleh air bersih dari PDAM karena sangat jarang mengalir dengan lancar ke rumah-rumah penduduk, maka masyarakat Fakfak terpaksa mencari air sendiri di sungai-sungai yang lokasinya cukup jauh dari kota. Dan, oleh sebagian orang, air yang diambil dari sungai-sungai itu pun dikomersialkan, dibawa ke kota, dijual per tangki (1.000 liter) sekitar Rp. 150.000, dan tiga tangki Rp. 400.000.

Warga Fakfak yang sedang mencari air di sungai (foto: Alex Ferdinand, Fakfak)
Warga Fakfak yang sedang mencari air di sungai (foto: Alex Ferdinand, Fakfak)
PDAM yang tidak mampu mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk secara berkesinambungan pun terpaksa menjual air kepada masyarakat dari pipa PDAM sendiri yang tidak bisa dialirkan itu, dengan harga Rp. 1.000 per jerigen (20 liter). Jerigen harus dibawa sendiri oleh warga, dari rumah masing-masing menempuh perjalanan yang cukup jauh ke lokasi penjualan air oleh PDAM itu.

Semua upaya itu pun belum cukup memenuhi kebutuhan air masyarakat Fakfak secara keseluruhan. Masyarakat si Fakfak pun terpaksa mengandalkan alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, yaitu hujan! Ya, sudah lazim bagi masyarakat Fakfak untuk menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan airnya sehari-hari. Sumber air masyarakat Fakfak bukan pada PDAM, tetapi pada sungai dan hujan.

Jadi, untuk memenuhi kebutuhan air, termasuk air minum, sebagian masyarakat Fakfak, terutama dari kalangan ekonomi lemah mengandalkan air sungai dan air hujan! Ya, bagi sebagian masyarakat Fakfak minum air dari air sungai dan hujan (tentu saja setelah dimasak) itu sudah biasa, namun terpaksa.

Mengenai krisis air di Fakfak itu, saya pernah, pada 20 Februari 2016 menyampaikan laporan di situs www.laporpresiden.id , tapi sampai sekarang belum ada tanggapan apalagi solusi.

Bagaimana dengan air minum dalam kemasan?

Perlunya Air Minum dalam Kemasan Diperbolehkan Dikirim dengan Tol Laut

Air minum dalam kemasan di Papua tergolong barang mewah, saking mahalnya.

Sebagai contoh, di Fakfak, biasanya air minum dalam kemasan merek “Aqua” ukuran botol 600 ml dan 1.500 ml dijual dengan harga Rp. 75.000 – Rp. 80.000 per karton, padahal harga di Surabaya cuma Rp. 40.000 – Rp. 42.000 per karton!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun