Mohon tunggu...
Damae Wardani
Damae Wardani Mohon Tunggu... broadcaster, MC -

"Write to look for the meaning of life." Tinggal di http://jalandamai.com

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Lampaui Raksasa Migas, Pertamina Siap Wujudkan Kemandirian Energi?

31 Januari 2017   16:54 Diperbarui: 31 Januari 2017   18:43 511 0 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Harga minyak dan kinerja sejumlah perusahaan migas

Pertamina berhasil mengantongi US$ 3,01 miliar atau sekitar Rp 40 triliun selama 2016. Laba ini bukan hanya bukti Pertamina kalahkan Petronas yang menyokong 40% APBN Malaysia, atau setara 27x lipat dibading setoran Pertamina. Namun juga sederet pemain raksasa kelas dunia seperti Exxon yang mentok di angka US$ 2,65 miliar, turun US$ 1,59 miliar dari tahun sebelumnya. Apakah ini pertanda Pertamina siap wujudkan kemandirian energi nasional?

Seakan diguyur kado akhir dan awal tahun, mungkin juga bagian dari kejutan hadiah ulang tahun ke-59, Pertamina berhasil mencapai laba tertinggi sepanjang catatan riwayatnya. Kinerja terbaik Pertamina di bawah kepemimpinan Dwi Soetjipto ini sejenak menghentak dunia industri energi, mengingat Indonesia masih menjadi penampung "buangan" minyak dari Singapura. Jika strategi Dirut Pertamina itu terus didukung penuh oleh pemerintah, tidak menutup kemungkinan Pertamina bisa mendongkrak swasembada energi nasional.

Tantangan Pertamina

Sayangnya, kian tinggi pohon menjulang, angin yang menggoyang tentu semakin kencang. "Mafia migas" tak mungkin tinggal diam menyaksikan Pertamina meroket. Upaya yang sangat kentara sudah diterbitkan Koran Tempo pada 24-25 Januari lalu. Dengan judul menohok, "Pertamina Mendadak Impor Solar" dan "Kilang Minyak Rusak Beruntun, Pertamina Terancam Merugi Rp 1 Triliun", tulisan itu terkesan membanting imej Pertamina di tengah prestasi gemilangnya. Terlebih, akun Twitter berbayar tak henti membuat Chipstory untuk memperkuat maksud.

Edisi koran Tempo memuat ancaman yang dihadapi Pertamina
Edisi koran Tempo memuat ancaman yang dihadapi Pertamina
Fakta Pertamina kalahkan Petronas dan memperoleh laba tertinggi memang bisa dibilang menantang "pemain panggung impor". Mereka yang sudah nyaman mengeruk sarang keuntungan impor dari Singapura sebanyak 400-an ribu barrel BBM per hari dengan total nilai ratusan triliun tiap tahun, tiba-tiba terusik. Mulai bisnis pelayaran yang membutuhkan lebih dari 599 kapal per tahun (jika berkapasitas 50 ribu DWT), bisnis asuransi, hingga LC perbankan, semua kena imbasnya. Dan, biasanya semua jaringan ini berlabel "asing".

Upaya Pertamina mendapat perhatian Singapura
Upaya Pertamina mendapat perhatian Singapura
Singapura pun mulai waspada setelah Petral dibubarkan. Urusan impor tidak lagi ditangani anak usahanya itu, melainkan langsung dikendalikan Pertamina. Selama ini Indonesia memang menjadi sasaran empuk untuk "membuang" 1,25 juta barrel BBM yang tak terpakai dari kilang minyak Singapura, lantaran kebutuhan negara kecil itu hanya 150 ribu barrel per hari. Selain jarak yang dekat, jumlah pembelian juga sangat banyak. Kebutuhan BBM seluruh Indonesia mencapai 1,4 juta barrel per hari, sementara kilang minyak Pertamina baru mampu menyuplai 800 ribu barrel saja. Sisanya? Itu ladangnya Singapura.

Jika dibayangkan konfliknya, mungkin seperti alur kisah drama Korea yang selalu digandrungi. Misi Pertamina harus dijegal agar Mafia migas tetap beroperasi dan Singapura tidak kehilangan pasar. Sementara "cubitan kecil" bisa mengulur waktu pertumbuhan Pertamina, seiring menua mesin-mesin di kilang minyaknya. Terlebih kian tahun kebutuhan  BBM terus meningkat. Jelaslah kenapa perjuangan Pertamina harus dibekukan: agar Indonesia tetap menjadi "sapi perah".

Ini hanya kemungkinan. Hanya analisa. Bisa jadi kenyataan yang ada tidak seperti itu. Atau malah lebih rumit? Ah, tampaknya dunia ini benar-benar panggung sandiwara.

Strategi Pertamina

Sepelik apa pun itu, nyatanya Pertamina berhasil menerobos dan terus melaju. Pencapaian laba tertinggi sepanjang sejarah, terlebih mengalahkan perusahaan selevel Petronas dan Exxon pada 2016 itu bukti kerja keras Pertamina. Anak bangsa yang berada di garda industri energi menyingsingkan lengan baju dan mengencangkan ikat pinggang. Bersiap menginjak pedal gas dan menambah kecepatan. Untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Langkah Dirut Pertamina Dwi Soetjipto untuk membubarkan Petral, memaksimalkan hilir, dan mendongkrak penjualan BBM nonsubsidi (terutama Pertalite & Pertamax) sudah berhasil menempatkan Pertamina di titik laba tertinggi. Tapi ini baru awal. Perjuangan masih panjang sampai target swasembada energi terpenuhi pada 2025 nanti.

PERTALITE, produk baru Pertamina
PERTALITE, produk baru Pertamina
Setidaknya terdapat lima prioritas strategis Pertamina untuk mewujudkan kemandirian energi nasional. Pilar pertama terkait pengembangan sektor hulu. Mulai peningkatan eksplorasi, pengambilalihan secara selektif blok-blok yang akan habis masa kontraknya, ekspansi aset internasional, hingga pengembangan geothermal dan energi terbarukan. Langkah ini diantaranya sudah dimulai pada Agustus 2016 lalu, Pertamina berhasil mengakuisisi 24,53 persen saham di Maurel and Prom milik Pacifico. Nilainya mencapai 200 juta Euro, dengan harga setiap sahamnya sebesar 4,2 euro.

Lima Prioritas Strategi Pertamina
Lima Prioritas Strategi Pertamina
Pilar kedua ialah efisiensi di semua lini. Salah satu upaya berupa penekanan Losses dengan sistem yang didukung teknologi. Selama 2016 lalu, Pertamina berhasil menekan Losses hingga 1%. Losses ini sering diistilahkan dengan "tangki BBM kencing". Jika Pertamina menyalurkan 44 juta kiloliter Premium bersubsidi dan 40 juta kiloliter Solar bersubsidi, lalu hilang 3%, berapa kerugiannya? Nah! Itulah mengapa losses harus ditekan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan