Mohon tunggu...
Muhammad Zulfadli
Muhammad Zulfadli Mohon Tunggu... Lainnya - Catatan Ringan

Pemula

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Satu Pagi di Kopi Klotok

24 Oktober 2023   18:08 Diperbarui: 24 Oktober 2023   18:14 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menumpang kereta api Sancaka dari Stasiun Gubeng Surabaya, Vera dan saya tiba di Stasiun Tugu Jogja pada Rabu, 23 Maret 202 siang pukul 13.04 Wib. Kami dijemput oleh Bangkit, kemudian diantar makan siang di Warung Bu Ageng di Jalan Tirtodipuran, Mantrijeron, Prawirotaman, yang sering disebut kawasan "Kampung Turis".

Hanya satu malam di Jogja, dan kami menginap di Villa D'House of Gembala, yang berlokasi di Jalan Sawah Joglo, Sinduharjo, Ngaklik, Sleman.

Karena hanya satu malam, sedikit tempat yang bisa kami datangi. Setelah malamnya puas mengobati rindu makan di Gudeg Permata Bu Narti, di Kawasan Gunungketur, Pakualaman, maka agenda pagi pada Kamis 24 Maret 2022 adalah ngopi dan sarapan di Kopi Klotok.

Kopi Klotok mulai dibuka pada akhir 2015, dengan cepat warung ini menjadi booming setelah banyak fotonya diunggah di media sosial Instagram dan WhatsApp. Seolah menjadi destinasi wajib pendatang, tak lengkap rasanya ke Jogja tanpa mampir ke Kopi Klotok.

Kopi Klotok terletak di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem, Sleman. Tidak jauh dari Villa Gembala. Kami berangkat pukul 7.30, lumayan awal, dan ketika kami sampai, lahan parkiran sudah dipadati kendaraan, bahkan sudah ada dua bus yang mengantar rombongan. Area parkiran di bagian selatan warung yang dipisahkan ruas jalan, sehingga perlu berjalan kaki puluhan meter untuk sampai ke warung yang memiliki halaman luas dan rindang banyak tumbuhan. Konon jika hari libur antrian pengunjung bisa sampai seratus meter.

Suasana asri perkampungan langsung terasa saat kita memasuki halaman warung yang sudah ramai pelanggan. Pelayanan puluhan karyawan warung juga sangat ramah dan hangat.

Bangunan rumah Joglo tradisional menjadi pusatnya, karena di dalam terdapat dapur luas, meja prasmanan, kasir, dan beberapa set kursi kayu antik. Di bagian dalam rumah juga dipajang barang ornamen klasik, seperti telepon kabel, lampu minyak, sepeda onthel, radio kuno, dan sebagainya.

Sebelum makan, Vera dan saya sempatkan melihat aktifitas dapur yang menyatu dengan satu meja prasmanan tempat pelanggan mengambil menu. Di dapur luas itu terdapat beberapa penggorengan ukuran jumbo, ratusan kepok pisang digantung, dan puluhan kaleng kerupuk. Benar-benar dapur tradisional yang sibuk melayani pelanggan. Walaupun tradisional dapur menggunakan gas tabung 12 kilo gram atau non subsidi.

(dokumen pribadi)
(dokumen pribadi)

Kami juga membaca hampir semua testimoni pejabat dan selebriti yang ditulis dan ditandatangani di kertas berbingkai kayu yang dipajang di dinding kayu berwarna hijau dan coklat. Mulai Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Ma'ruf Amin, Mahfud MD, Ahmad Dani, Najwa Shihab, Cak Lontong, dan yang lain.

Setelah berkeliling, kami mulai mengambil makanan yang disajikan di meja rendah. Ragam menunya sangat tradisional. Terhidang nasi (sego megono), bubur, telur dadar krispi, tempe garit, tahu bacem, sop, sayur asem, lodeh kluwih, lodeh tempe, lodeh terong, lode tahu, lode kates, sambal dadak, dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun