Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus Kefamenanu TTU Jurusan Pendidikan Agama Katholik

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Ramadhan, Pandemi, dan Disposisi Bathin Kaum Muslim

14 April 2021   17:13 Diperbarui: 14 April 2021   17:43 226 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramadhan, Pandemi, dan Disposisi Bathin Kaum Muslim
Gambar.tribunnews.com

Umat Islam di Indonesia mulai memasuki bulan Ramadhan 1442 Hijriah atau 2021. Karena itu, pada mukadimah artikel ini, saya ingin mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan bagi sama saudaraku kaum muslim.

Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa dan sarat makna bagi kaum muslim. Bulan Ramadhan menjadi kesempatan bagi umat uslim untuk meningkatkan ketakwaan, nilai moral dan sosial.

Selama bulan Ramadhan, umat Islam menjalani puasa. Idealnya adalah berpuasa bukan sekedar menahan diri untuk tidak makan dan minum, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang mendalam yakni, menahan diri dari hal yang bersifat jasmaniah untuk lebih focus pada hal yang bersifat rohaniah.

Untuk saudaraku kaum muslim, Ramadhan tahun ini beda. Tidak persis sama dengan tahun lalu. Kaum muslim merayakannya di tengah dunia, termasuk bangsa dan negara kita berperang melawan penyebaran virus corona. Ramadhan sudah tiba, sedangkan covid-19 belum juga pergi. Artinya kita harus merayakan di tengah situasi pandemi.

Kita sadari bahwa dampak covid-19, sungguh besar. Perekonomian nasional ambruk, banyak perusahan sudah membuat perampingan bagi karyawan, yang berefek pada pengangguran, usaha macet, sekolah dirumahkan, dan kita lebih banyak diam di rumah. Semuanya itu tentu demi keselamatan kita.

Karena itu, bulan suci Ramadhan harus dimaknai dalam konteks masa pandemi. Jalanilah bulan Ramadhan secara sederhana. Kurangi pemborosan untuk hal jasmaniah, karena Allah melihat hati manusia ketimbang yang bersifat lahiriah.

Bagi saya, yang perlu adalah keterarahan hati pada Tuhan. Dengan hidup sederhana, selain kita focus pada yang Ilahi, kita juga bersolider dengan sama saudara kita yang terkena dampak virus corona. Di samping itu juga kita berbelarasa dengan sesama kita yang saat ini mengalami musibah banjir.

Jadi yang sederhana bukan berarti tidak bermakna, tetapi yang paling bermakna adalah disposisi bathin kita kepada yang Ilahi dan yang transendental.

Cobalah sedikit meninggalkan hingar--bingar dunia dan biarkanlah hati terarah pada Allah, karena disanalah hidup kita dibaharui dan kaum muslim mendapatkan kekuatan dan harapan baru untuk kembali berjuang. Selamat memasuki bulan suci Ramadhan, arahkanlah hatimu padaNya. Berkah melimpah..

Atambua, 14.04.2021

VIDEO PILIHAN