Mohon tunggu...
Claudia Magany
Claudia Magany Mohon Tunggu... Lainnya - Freelance

Mantan lifter putri pertama Indonesia, merantau di Italia +15 tahun, pengamat yang suka seni dan kreatif!

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Belajar dari Italia dalam Mengelola Sampah

28 Maret 2021   07:30 Diperbarui: 28 Maret 2021   11:32 748
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi sampah di Italia (Sumber: pixabay.com)

Beberapa hari lalu saya membahas tentang sampah rumah tangga di Italia. Tulisan ini untuk menjawab tudingan sekelompok orang di media sosial yang mengaitkan Covid dengan masalah kebersihan di negeri ini. 

Kalau dibanding dengan negara Eropa lain, mungkin Italia tidak masuk urut pertama dalam hal kebersihan. Namun dibanding negeri kita (Indonesia) yang selalu bermasalah dengan sampah sampai mengakibatkan banjir dan seterusnya, tak salah jika kita belajar dari Italia untuk mencontoh hal-hal yang positif. 

Kalau ibu kota negara Indonesia jadi pindah, masukan info saya yang mungkin tampaknya sepele, mudah-mudahan bisa diaplikasi dalam keseharian ibu kota yang harapannya dapat tampil bersih, asri, sehat dan segar.

Kali ini membahas masalah sampah di tempat-tempat umum dan sampah lainnya karena sampah itu sendiri cakupannya cukup luas. Walau sebelumnya sudah mengulas tentang sampah rumah tangga, izinkan saya menulis ulang sepintas untuk menyegarkan ingatan.

Masalah sampah rumah tangga di Italia, tiap keluarga wajib memiliki tiga tempat sampah dengan warna berbeda satu sama lain. 

Tempat sampah botol (warna hijau), tempat sampah kertas (warna kuning) dan tempat sampah kering non-daur (warna hitam). 

Untuk keluarga yang masih memiliki batita (bawah tiga tahun) dan lansia (lanjut usia), wajib mendapat tambahan tempat sampah warna merah untuk membuang popok urine. 

Jatah pembuangan juga sebulan sekali yang tercantum dalam kalender keluaran dinas kebersihan setempat. Sementara bagi keluarga dengan anggota wanita usia subur, sampah pembalut tidak masuk dalam kategori sampah popok urine sebab masih banyak produsen pembalut yang menggunakan materi non organik yang tidak bisa didaur ulang.

Kalau rutin membuang sampah pembalut setiap bulan, otomatis perusahaan pengelola sampah bisa mendapat income tambahan, sebab tempat sampah kering non-daur ada tambahan biaya tiap kali angkut. 

Sampah kering lain yang mendapat biaya tambahan antara lain sampah daun dan ranting kering dari pekarangan dan kebun. Sampah ini bisa dijemput langsung ke rumah atau diantar ke eco-centro (pusat pembuangan). Kategorinya berbayar untuk setiap kali buang. Karena itu, masyarakat dituntut agar bijak saat membeli dan menanam pohon di pekarangan. 

Bijak dalam arti harus kreatif mengelola sampah tanaman kalau tidak mau mengeluarkan dana tambahan untuk pembuangan. Misalnya mengolah sampah daun untuk dibikin humus, sampah dahan dan ranting untuk bahan bakar penghangat ruangan pada saat musim dingin atau membuat aneka kreasi sebagai benda seni.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun