Mohon tunggu...
Christie Stephanie Kalangie
Christie Stephanie Kalangie Mohon Tunggu... An ambivert

Berdarah Manado-Ambon, Lahir di Kota Makassar, Merantau ke Pulau Jawa.

Selanjutnya

Tutup

Media

Bahagia Menjadi Penulis di Kompasiana

7 November 2019   11:50 Diperbarui: 7 November 2019   11:52 0 49 15 Mohon Tunggu...
Bahagia Menjadi Penulis di Kompasiana
Dokumentasi Pribadi

Yey! 11 tahun Kompasiana

11 tahun yang lalu saya masih berusia 11 tahun, belum tahu soal tulis menulis blog. Saya hanya tahu bermain boneka, menggambar, membuat PR dan membaca komik, itu saja. 

Ternyata, 11 tahun kemudian dunia sudah semakin maju dan berkembang, hingga takdir mempertemukan saya dengan Kompasiana. 

Ya, Kompasiana adalah blog jurnalis Kompas yang bertransformasi menjadi sebuah media warga. Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar maupun rekaman audio dan video. 

Tepat pada tanggal 29 Mei 2019 saya mendaftarkan diri secara online dan gratis pada platform blog ini. Baru sekitar 6 bulan, tapi rasa sayang saya kepada Kompasiana sudah luar biasa, sudah seperti bertahun-bertahun. 1 hari tanpa membuka blog Kompasiana saja rasanya seperti ada yang hilang. 

Apalagi, saat salah satu artikel saya tentang Perjuangan Mahasiswi Kelas Karyawan dan Menilik Sisi Lain Film "Joker" 2019 masuk ke dalam salah satu Artikel Utama dan Artikel Pilhan. Ditambah lagi, karya tulisan lainnya di Kompasiana yang saya bagikan melalui aplikasi selalu di-elu-elu-kan dan mendapat apresiasi di tempat kerja, kampus dan dimana pun kaki menapak. Bahagianya luar biasa. 

Berawal dari kecintaan saya sejak masih duduk di bangku SMP kepada komik, novel dan majalah. Saya bahkan rela berdiri berjam-jam di toko buku hanya untuk membaca buku yang lumayan mahal karena kantong tak mampu membayar. Saat menduduki bangku kuliah saya pun mulai mengembangkan bacaan saya ke ranah politik. 

Hasil bacaan saya membuat pikiran saya berkecamuk akan banyaknya opini-opini yang tidak tersampaikan. Lalu, kepada siapa akan saya bagikan segala yang berkecamuk di dalam pikiran ini? Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis karena membaca saja tidak cukup bagi saya. Membaca dan menulis adalah 1 paket, tak terpisahkan. 

Berhubung tulisan tangan saya tidak begitu indah, saya pun jadi lebih tertarik mengetik pada blog di internet. Saat saya membaca artikel demi artikel dari penulis-penulis andal lainnya di Kompasiana, ada rasa ingin tahu berlebih yang bergejolak mengenai apa Kompasiana ini sebenarnya. Saya mulai mencari tahu apa itu Kompasiana, aturan dalam menulis, bagaimana cara mendaftar, dan lain sebagainya. 

Kebahagiaan lain menjadi Kompasianer adalah, disebut sebagai "Penulis Kompasiana". Saya selalu berusaha rendah hati dengan sebutan itu, namun tidak lupa saya mengajak mereka yang saya tahu betul memiliki jiwa kepenulisan yang tak kalah hebat untuk bergabung bersama Kompasiana. 

Ya, berhasil. Ada beberapa teman yang juga seantusias saya setelah untuk mendaftarkan diri menjadi bagian dari Kompasiana. Inilah kami, para penulis yang bangga menjadi bagian dari Kompasiana... 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x