Mohon tunggu...
Bisnis

Tantangan dan Peluang Indonesia sebagai Industri Halal Terbesar di Dunia

13 Mei 2019   22:38 Diperbarui: 13 Mei 2019   23:15 0 0 0 Mohon Tunggu...
Tantangan dan Peluang Indonesia sebagai Industri Halal Terbesar di Dunia
logo-halal-mui-5cd9987c95760e07f317cfb4.png

Dunia telah berkembang pesat seiring dengan terjadinya perlombaan industri masif dalam rangka menjalankan Revolusi Industri 4.0 untuk mencapai masyarakat 5.0, yang mengakibatkan munculnya peluang industri yang besar karena variasi permintaan produksi dan pola hidup konsumerisme dikalangan masyarakat. Indonesia juga melakukan pembangunan industri dalam berbagai sektor bidang, salah satunya pada industri halal

Secara demografi, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki mayoritas penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2012, sebanyak 87,18% dari 237.641.326  jiwa penduduk adalah pemeluk agama Islam. Data ini mengindikasi bahwa memang agama Islam memberikan pengaruh terhadap kultur yang berkembang di masyarakat, termasuk didalamnya adalah pola konsumsi masyarakat terhadap produk halal. 

Persoalan mengenai halal dan haramnya suatu produk menjadi persoalan yang serius bagi masyarakat. Kasus ketidakhalalan produk dapat menimbulkan reaksi keras dan sensitif. Hal ini menjadi tolak ukur dimana masyarakat telah memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pemilihan produk (halal). Oleh karena itu, permasalahan produk halal menjadi tantangan besar bagi industri halal yang harus segera diselesaikan.

Definisi Industri Halal

Industri menurut KBBI ialah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan, misalnya mesin. Sedangkan halal artinya ialah diizinkan (tidak dilarang oleh syarak) (KBBI, 2019). Industri halal merupakan kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan yang diizinkan oleh syariah Islam.

Fungsi dan tujuan adanya industri halal diantaranya sebagai bentuk perwujudan dari UU No 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.  Adanya UU diantaranya untuk menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing, dimana negara berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan jaminan tentang kehalalan produk. Akan tetapi, produk yang beredar di masyarakat belum semua terjamin kehalalalnya sehingga perlu kepastian hukum perundang-undangan sehingga terbentuklah UU tentang Jaminan Produk Halal.

Pada Pasal 1 UU No 33 Tahun 2014 menjelaskan bahwa produk adalah barang dan atau jasa terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik, serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Sedangkan pengertian produk halal yaitu produk yang telah dinyatakan halal sesuai dengan syariat Islam (UU No 33 tahun 2014). Industri produk halal, saat ini mengalami perkembangan tidak hanya sekedar produk halal tapi juga gaya hidup halal dimana didalamnya terdapat enam sektor menurut Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) yang harus diprioritaskan pemerintah. 

Keenam sektor tersebut industri halal yaitu makanan dan minuman, pakaian, wisata halal, hiburan dan media, farmasi serta kosmetik. Hal ini memerlukan definisi lebih mendalam terkait sektor-sektor tersebut, dimana industri halal tidak hanya sebatas produk halal, tapi juga gaya hidup halal (State of the Global Islamic Economy, 2018). 

Halal by Design (HbD) adalah sebuah konsep pendekatan dalam merancang untuk memproduksi bahan ataupun produk halal. Konsep ini pertama kali disampaikan oleh Prof.Dr. Slamet Ibrahim DEA., APT (Guru Besar Sekolah Farmasi ITB-Ketua Halal Center Salman ITB), pada kuliah Halal di GSG Salman  pada 23 Februari 2019. Halal by Design diawali dengan perencanaan, pemilihan bahan halal, produksi halal dan penjaminan produk halal yang berbasis manajemen halal sesuai syariat Islam.  

Industri Halal di Dunia

Perkembangan industri halal di seluruh dunia meningkat dalam beberapa tahun ini. Sektor yang mengalami perkembangan pada industri halal antara lain makanan halal, keuangan, travel, fashion, kosmetik dan obat-obatan, media dan hiburan, serta healthcare dan pendidikan. Berdasarkan laporan dari State of The Global Islamic Economy pada tahun 2016 dan 2017 total pendapatan pada tahun 2015 dan estimasi pendapatan pada tahun 2021 pada setiap sektor tersaji pada tabel berikut:

Dokpri
Dokpri
Tabel 1 merupakan hasil survei yang dilakukan di 76 negara yang terdiri dari 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan 16 negara non OKI. Sektor makanan halal memiliki pendapatan yang paling besar diantara sektror lainnya. Pada tahun 2017, negara yang memiliki industri makanan halal terbanyak adalah United Arabia Emirates (UAE). Brazil yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas non-muslim menempati peringkat ke 2 dalam industri makanan halal. 

Hal ini membuktikan bahwa bukan hanya negara dengan penduduk mayoritas muslim yang mengembangkan pasar industri halal tapi juga negara dengan penduduk mayoritas non muslim (State of The Global Islamic Economy, 2017). Brazil menduduki peringkat ke dua karena negara ini mampu mengekspor daging halal terbanyak di seluruh negara didunia. Pendapatan yang diperoleh dari hasil ekspor ini mencapai $ 5,19 Miliar (Dubai Islamic Economy Development Centre and Thomson Reuters,  2017). Sementara keuangan, peringkat pertama diduduki oleh Malaysia (State of The Global Islamic Economy, 2018).

Industri Halal di Indonesia

Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menghabiskan US$218.8 Miliar untuk sektor ekonomi Islami pada tahun 2017 (State of The Global Islamic Economy, 2018). Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara dengan produk halal terbesar di dunia. Namun Indonesia belum dapat memaksimalkan potensi pasar tersebut. Hal ini terbukti dari Indonesia yang belum berada pada peringkat 10 besar untuk kategori produsen makanan halal (State of The Global Islamic Economy, 2017).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang telah memiliki sertifikat halal masih sangat sedikit sekitar 57 Juta. Berdasarkan data Majelis Ulama Indonesia (MUI) selaku lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikasi halal, pada periode 2014-2015 telah terbit sertifikat halal nasional untuk 6.231 perusahaan dan UMKM (Waharini dan Purwantini, 2018). 

Namun, pasar industri halal di Indonesia, khususnya sektor makanan halal, travel, fashion, dan obat-obatan serta kosmetik halal telah meningkat hingga mencapai sekitar 11% dari pasar global pada tahun 2016 (bi.go.id, 2018).  Hal ini terbukti dari banyaknya produk halal yang beredar di masyarakat salah satunya kosmetik. 

Dahulu, kosmetik halal belum menjadi tren untuk masyarakat Indonesia karena kosmetik merupakan barang yang tidak dikonsumsi langsung didalam tubuh manusia sehingga masyarakat menganggap bahwa kosmetik tidak perlu halal. Namun, saat ini kosmetik halal menjadi tren di masyarakat. Sehingga banyak industri kosmetik yang mendaftarkan produknya untuk sertifikasi halal.

Dalam segi pemerintah, saat ini, pemerintah masih berusaha untuk mengembangkan potensi industri halal di Indonesia. Salah satunya melalui kawasan industri halal. Direktur Jendral Pengembangan Perwilayahan Industri Kementrian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan regulasi bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengembangkan kawasan industri halal terutama untuk sektor makanan dan minuman serta kosmetik dan garmen. Produk yang dihasilkan akan memiliki orientasi ekpor terutama kenegara-negara Timur Tengah karena tingkat konsumen tertinggi kedua setelah Indonesia (Kemenperin.go.id, 2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3