Mohon tunggu...
Sirilus
Sirilus Mohon Tunggu... Guru - pencinta budaya terutama budaya Manggarai dan filsafat. Juga ingin studi antropologi.

Saya ingin mengajak kaum muda untuk melestarikan budaya kita. Ini adalah harta kekayaan kita yang berharga. Saya juga peduli dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat. Untuk itu subscribe chanel youtube saya :motivasi hidup . Chanel ini berisi musikalisasi puisi dan video mengenai budaya dan daerah wisata.

Selanjutnya

Tutup

Nature

Hasilkan Uang dari Air Hujan dengan Menanam Tomat

11 September 2019   23:35 Diperbarui: 14 September 2019   14:59 27
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nature. Sumber ilustrasi: Unsplash

            Air menjadi kebutuhan pokok dari manusia, sehingga tidak mengherankan kalau manusia selalu mencari air baik untuk diminum, mandi maupun untuk kebutuhan lainnya. Tanpa air manusia tidak akan dapat bertahan hidup. Manusia hidup hanya dengan memanfaatkan alam sekitar untuk diolah menjadi konsumsi. Kalau tidak ada air berarti tumbuhan tidak akan hidup, kalau tumbuhan tidak hidup manusia akan punah. Dengan demikian manusia, berusaha mempertahankan agar air tetap ada. Maka, sebagai makhluk rasional manusia memunculkan ide agar air tetap ada. Bukan hanya tetap ada, juga agar air itu bersih sehingga dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan.

            Indonesia Negara yang hanya memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Dua musim di Indonesia semacam membagi dua waktu satu tahun. Enam bulan kemarau dan enam bulan hujan. Tidak mengherankan apabila masih banyak wilayah di Indonesia yang kekurangan air. Para petani agar dapat bertahan hidup harus memanfaatkan ide dengan baik agar tanaman bisa tetap hidup. Ide yang saya tawarkan disini adalah ide cara memanfaatkan air hujan agar bisa menghasilkan uang.

            Di kampong saya di Flores NTT salah satu wilayah yang mengalami krisis air, bahkan air untuk minum pun setengah mati dicari dan harus hemat dalam mengunakan air. Air untuk minum saja sulit didapatkan apalagi air untuk mengairi sawah dan menyiram tanaman. Akan tetapi petani di wilayah saya tidak menyerah dan putus asa dan mereka pun menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah air. Warga di kampung saya sebagian orang memanfaatkan air hujan untuk bercocok tanam. Yang mereka lakukan adalah menampung air hujan saat musim hujan. Dengan cara membuat bak air sehingga pada musim kering mereka manfaatkan air itu untuk menyiram tanaman tomat. Jika dikalkulasikan hasil dari tanaman tomat ini puluhan juta dan seandainya dibagi perbulan maka satu bulan mereka dapat memperoleh hasil kurang lebih lima juta. Ini pun bukan sebagai pekerjaan pokok mereka, pekerjaan pokok mereka adalah sebagai tukang bangunan dan pengembala sapi. Dari kenyataan ini kita dapat melihat bahwa air hujan bisa menghasilkan uang yang berlimpah-limpah. Tentu kita kaget mendengarkan cerita ini, tetapi itulah yang terjadi.

            Ide memanfaatkan air hujan ini merupakan sebuah pola pemikiran modern yang secara tidak langsung disadari oleh mereka. Sebagai subyek mereka mampu berpikir dengan memanfaatkan keberadaan mereka sebagai subyek yang sadar. Dalam akhir-akhir ini kita ramai membicarakan revolusi 4.0. Revolusi dimana teknologi berperan aktif dalam kerja yang membantu manusia. Ini menurut saya pola pemikiran hanya berlaku di daerah daerah yang maju. Revolusi industry 4.0 di daerah saya adalah seperti memanfaatkan air hujan ini. Karena realitas daerah saya yang masih agak premitiew.

Revolusi 4.0 versi masyarakat di desa

            Saya mau menawarkan pola pemikiran mayarakat di desa saya dalam menanggapi revolusi 4.0 meskipun mereka tidak tahu. Ketika saya memainkan logika antara revolusi 4.0 dan cara masyarakat memanfaatkan air hujan ini, saya menyimpulkan bahwa ada kemajuan pemikiran dalam masyarakat. Saya memakai logika matematika untuk melihat ini, ketika dalam matematika dikatakan 1+1=2 dan ini dipakai oleh masyarakat sejak dulu. Kemudian saat banyak yang belajar kritis ada yang berikir kritis bahwa 1+1=11. Saya mengandaikan bahwa penjumlahan yang pertama adalah masyarakat desa dan mampu juga berpikir dan penjumlahan yang kedua adalah gabungan yang pertama dan kedua itu sendiri itulah mereka yang mencetuskan revolusi 4.0.

            Memanfaatkan air hujan untuk tanaman tomat ini dalam pemikiran masyarakat kampong sama dengan 1+1=2 dan hasilnya ada, meskipun tidak berlimpah seperti yang dilakukan oleh mereka yang mencetuskan revolusi 4.0. dalam logika pemikiran penjumlahan kedua. Jadi revolusi industry 4.0 yang saya paham dalam hal ini adalah bagaimana menghasilkan sesuatu yang berlimpah-limpah. Bagaimana ide itu bisa mempertahankan hidup dengan menghasilkan uang. Kerja menampungkan air hujan disini adalah ide. Oleh karena itu ide itu bisa dijual untuk menghasilkan uang.

Menjual Ide Demi Uang 

            Ide adalah uang dan uang adalah ide. Logika untuk menghasilkan uang. Saya mengambil contoh saya memiliki ide atau gagasan untuk menanam tomat dengan memanfaatkan air hujan, kemudian ada yang melaksanakannya dengan menanam tomat dan menghasilkan uang. Jadi penjual ide dan pelaksana ide sama sama mendapatkan uang. Ide seperti ini apabila dipromosikan di kalangan media dengan petunjuk yang terperinci dalam pengolahan, saya yakin bahwa idenya laris dan banyak yang akan mempraktekkan ide itu.

Langkah-Langkah Menanam Tomat Dengan Memanfaatkan Air Hujan

            Saya akan menunjukkan langkah-langkah yang saya lihat dikampung dalam menanam tomat dengan memanfaatkan air hujan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun