Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Bila Sampah Bisa Berguna, Mengapa Malah Kau Buang?

2 Desember 2018   00:49 Diperbarui: 2 Desember 2018   20:44 1204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Danone-AQUA bekerja sama dengan H&M untuk mengolah botol plastik menjadi sejumlah produk fashion/ Kompas.com/Iwan Supriyatna

Ilustrasi dari Kompas.com
Ilustrasi dari Kompas.com
Bila kita berkaca diri sambil melihat data yang ada, temuan sampah dalam perut paus itu bukan sesuatu yang mengagetkan. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Minggu (19/08/2018) mengatakan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia.

Pernyataan Susi bukan tanpa dasar. Data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton dari antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Dunia Tanpa Sampah Bukan Impian

Kantong plastik yang kita buang ke lingkungan entah secara sadar atau tidak terakumulasi dalam 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85 ribu ton.

Untuk itu Susi kemudian menggagas gerakan "Menghadap ke Laut." Program yang dijalankan di 76 titik di Indonesia itu terejawantah dalam aktivitas bersih-bersih pesisir laut. Tujuannya adalah mengurangi limbah plastik yang berpotensi mencemari laut sekaligus menjadi bagian dari komitmen mengurangi 70 persen sampah plastik di lautan pada 2025.

Tentu gerakan "Menghadap ke Laut" itu adalah bagian kecil dari upaya mencapai target besar tersebut. Tidak cukup mengurangi sampah secara signifikan hanya dengan bersih-bersih pantai. Masih banyak hal krusial yang harus dibenahi.

Sebelum kita menghadap ke laut, ada baiknya kita menatap ke darat. Kita melihat bagaimana keseharian kita. Bagaimana sikap dan perilaku kita terhadap sampah. Bukankah sampah yang bersarang di laut itu berasal dari darat? Sampah-sampah itu bersumber dari rumah-rumah kita, dari pabrik-pabrik kita, dan dari lingkungan kita! Apakah kita sudah memperlakukan sampah dengan semestinya?

Bijak berplastik

Tanpa berpikir panjang terkadang kita lantas mensampahkan sampah. Padahal tidak semua sampah, terutama plastik bisa dicampakkan begitu saja. Plastik merupakan material yang sangat akrab dengan kehidupan kita. Sifatnya yang mudah dibentuk sesuai keinginan, tahan air, awet, praktis, dan proteksi yang baik menjadikannya sebagai primadona.

Kajian tentang Analisis Arus Limbah Indonesia, Rantai Nilai dan Daur Ulang yang dilaksanakan Sustainable Waste Indonesia (SWI) membuktikan bahwa 14 persen dari sampah kota di Indonesia adalah plastik. Jumlah tersebut memang masih kalah banyak dari sampah organik (60 persen). Namun sampah plastik jauh lebih banyak dari sampah kertas (9 persen), metal (4,3 persen) dan sedikit di atas sampah lainnya seperti kaca, kayu dan sebagainya yang berkontribusi sebesar 12,7 persen.

Didorong oleh kenyataan dan keprihatinan, Danone-AQUA sudah, sedang dan akan terus menggalakkan program pengumpulan dan daur ulang sampah. Sudah sejak tahun 1993, Danone-AQUA menggaungkan dan membumikan gerakan #BijakBerplastik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun