Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

Kompasianer of The Year 2012; Founder #KaisaIndonesia; Member #DPKLTS ; #BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Dunia Tanpa Sampah Bukan Impian

9 November 2018   23:10 Diperbarui: 11 November 2018   14:13 1110 17 13
Dunia Tanpa Sampah Bukan Impian
sampah dalam pengangkutan (dok.Maria G Soemitro)

Pluk. Sebuah buntelan kantung plastik berwarna hitam, jatuh. Tidak jauh dari tempat saya berdiri. Sobek. Isinya berhamburan. Sisa-sisa aktivitas manusia. Kulit pepaya, ceceran nasi, dan segumpal benda berwarna hitam.

Sekumpulan lalat datang mengerumuni. Baunya menyengat. Dan hei, binatang apakah itu? Berukuran kecil mungil, bergerak dengan lincahnya. Belatungkah?

Namun, petugas pengangkut sampah nampaknya tak peduli. Terlalu banyak gundukan sampah yang harus diangkut ke kontainer. Mesti bergerak cepat. Agar truk bisa segera berangkat ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang berjarak sekitar 44, 1 km dari Pasar Ciroyom. Tempat saya menyaksikan sisa-sisa aktivitas pasar kaget.

Pemandangan ini sungguh bertolak belakang dengan tekad Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dalam siaran persnya, KemenLHK mewacanakan "Indonesia Bergerak Bebas Sampah 2020", agar tidak lagi menjadi pembuang sampah kedua di lautan. Sesuai penelitian Jenna Jambeck yang telah dipublikasikan pada Jurnal Science pada 12 Februari 2015.

Padahal sekarang sudah menjelang akhir tahun 2018. Terlalu ambisiuskah KemenLHK?

"Masalahnya bukan rentang waktu," jawab Direktur YPBB Bandung, David Sutasurya, "melainkan tidak adanya perubahan cara pengelolaan sampah. Selama masih menerapkan kumpul, angkut, buang', target puluhan tahunpun akan percuma".

Di sore berangin, usai hujan, saya mengobrol dengan David di kantornya yang asri, Jalan Rereng Barong nomor 30 Bandung. YPBB Bandung merupakan organisasi non pemerintah yang sejak tahun 1993 aktif berkampanye dalam mewujudkan zero waste lifestyle atau gaya hidup nol sampah.

David Sutasurya juga merupakan salah satu Dewan Direktur Bebassampah.Id yang sukses menyelenggarakan "International Zero Waste Cities Conference" pada 5- 7 Maret 2018 di Kota Bandung.

sampah di pesisir laut (dok.cnn.com)
sampah di pesisir laut (dok.cnn.com)
Jadi, harus bagaimana?

"Apa sih pengertian sampah?" tanya David.

"Hmm.... sisa-sisa aktivitas manusia," jawab saya. Ragu. Namun mulai memahami arah pembicaraan.

"Betul, sampah merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari aktivitas manusia," lanjut David. "Sejak dulu kita terbiasa membuangnya ke alam."

Alam mampu mengelola sampah secara berkelanjutan. Terbukti selama jutaan tahun tidak ada sampah menumpuk. Bila tidak, pastinya bumi sudah dipenuhi tumpukan daun kering serta kotoran hewan dan manusia.

Masalah sampah baru muncul setelah bahan tambang dan bahan sintetis ditemukan serta diproduksi secara massal. Plastik, misalnya, baru sekitar 150 tahun silam, sejak pertama ditemukan tahun 1862 oleh Alexander Parkes.

Berbagai jenis serangga dan cacing dapat menguraikan sampah organik menjadi bahan-bahan yang berguna bagi tumbuhan. Tapi tidak ada bakteri atau cacing atau jamur yang dapat memanfaatkan plastik sebagai bahan makanannya.

Logam dan plastik lama-lama akan hancur. Tetapi tidak terurai di alam. Faktor fisik seperti suhu, sinar matahari, kelembaban dan tekanan udara hanya membuat sampah logam serta plastik menjadi lebih rapuh.

Yang terjadi kemudian lebih menakutkan, logam berkarat karena proses reaksi dengan oksigen di udara menjadi oksida logam. Bahan ini menjadi racun yang mengganggu kesehatan makhluk hidup.

Sedangkan plastik menjadi rapuh. Namun alam tidak mampu memurnikannya. Hanya membuat plastik hancur menjadi potongan-potongan kecil yang disebut nurdles/ mikroplastik. Potongan kecil ini tersebar di tanah dan di laut dan sering termakan oleh hewan-hewan. Mikroplastik akan menumpuk dalam tubuh mahluk hidup kemudian masuk ke dalam siklus makanan. Mengganggu proses metabolisme tubuh.

"Bagaimana dengan kantong plastik ramah lingkungan yang konon bisa hancur dalam waktu 2-3 bulan?" tanya saya. Tanpa sadar bergidik, membayangkan timbunan mikroplastik dalam tubuh saya.

"Salah kaprah itu. Mereka menyebut kantong plastik ramah lingkungan hanya karena ditambah zat aditif agar mudah hancur menjadi mikroplastik. Seharusnya yang dimaksud kantong ramah lingkungan adalah tas kain yang bisa digunakan berulang kali."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4