oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Saatnya "Move On" dari Kejuaraan Dunia, Indonesia!

5 Agustus 2018   19:06 Diperbarui: 5 Agustus 2018   19:40 480 1 1
Saatnya "Move On" dari Kejuaraan Dunia, Indonesia!
Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di podium Kejuaraan Dunia 2018. Ganda putri ini menyabet medali perunggu, sekaligus satu-satunya medali yang bisa dibawa pulang Indonesia kali ini/foto dari @INABadminton

Dari target minimal satu emas, Indonesia ternyata hanya mampu mendulang satu perunggu di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2018. Youth Olympic Sports Complex, Nanjing, China, menjadi kuburan bagi para pemain terbaik Indonesia, minus Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir.

Hanya Greysia Polii dan Apriyani Rahayu yang mampu melangkah hingga babak semi final. Unggulan lima ini harus puas dengan medali perunggu setelah dijegal Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara asal Jepang, 12-21, 21-23.

Seperti ganda putri terbaik Indonesia, harapan juara dari sektor ganda putra pun kandas di tangan Jepang. Ganda nomor satu dunia, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo takluk dua game langsung dari pasangan Jepang, Takeshi Kamura/Keigo Sonoda, 19-21, 18-21. Sementara sektor lain, terutama tunggal baik putra maupun putri lebih dulu angkat koper di babak awal.

Apa arti semua ini? Di satu sisi, melihat "order of play" final turnamen level satu ini, Jepang mulai menancapkan kukunya terutama di sektor ganda, bersaing dengan tetangga Asia Timur, China. Menariknya dari lima sektor hanya, nomor tunggal putri yang diperebutkan bukan oleh kedua negara tersebut. Ganda putra, ganda putri, tunggal putra, dan ganda campuran dikuasai kedua negara itu.

Dengan masing-masing empat wakil di partai final, dua nomor yakni ganda putri dan ganda campuran terjadi final sesama rekan senegara. Jepang di ganda putri, sementara China di ganda campuran.

Di sisi lain, hasil ini mengisyaratkan kedua negara itu sebagai ancaman utama di Asian Games 2018. Kejuaraan Dunia adalah turnamen penting terakhir sebelum para pemain terbaik Asia bertarung di Istora. Tinggal menghitung hari, bisakah para pemain tuan rumah bangkit untuk meraih prestasi?

Ada apa?

Sebelum menatap Istora, mari kita sejenak ke Nanjing. Greysia dan Apriyani gagal ke final setelah ditekuk pasangan Jepang yang kemudian menjadi juara dunia. Kekalahan ini cukup disesali. Sebelumnya keduanya mampu menumbangkan unggulan pertama sekaligus juara bertahan asal China, Chen Qingchen dan Jia Yifan, 23-21 dan 23-21.

Saat mengalahkan unggulan teratas, pasangan Indonesia tampil memukau. Greysia tampil dengan penuh kematangan. Ia menunjukkan sebagai pemimpin dengan semangat juang luar biasa. Pertahanan dan refleksny begitu cepat dan terarah. Sama sekali tidak terlihat sebagai pemain yang telah berusia kepala tiga.

Bersama Apriyani yang memiliki semangat menggelora, keduanya mampu meredam kecepatan para pemain China, terutama Jia Yifan. Pemain kidal itu memiliki sergapan yang cepat. Bila salah bergerak bisa celaka. Namun keduanya mampu meredam juara bertahan.

Saat tampil di semi final, keduanya harus menghadapi tembok Jepang. Mayu dan Wakana memiliki pertahanan sangat rapat. Sepanjang pertandingan pemain Indonesia begitu sukar membobolnya. Namun dalam situasi seperti ini tidak hanya butuh kecerdasaan tetapi juga konsentrasi tinggi. Kesalahan sedikit bisa berujung petaka. Apalagi bila itu menyangkut kesalahan sendiri. Akan dengan mudah memberi peluang kepada lawan untuk mengunci kemenangan.

Greysia dan Apriyani sudah bermain maksimal. Keduanya sampai membuat jantung para penonton berhenti berdetak di penghujung game kedua. Namun keberuntungan yang dinanti tak datang di poin-poin kritis hingga akhirnya menyerah dengan skor 21-23.

Greysia dan Apriyani adalah pasangan potensial. Tumpuan harapan di sektor ini. Hanya saja untuk menghadapi ketatnya persaingan beberapa pekerjaan rumah harus dibenahi. Terutama Apriyani yang harus bermain lebih sabar dan lebih bisa mengontrol pukulan. Meningkatkan akurasi pukulan adalah catatan lain. Namun begitu Apri adalah aset berharga. Tidak hanya untuk kembali bersaing di Asian Games tetapi juga di masa mendatang.

Kekalahan Greysia dan Apri cukup disesali. Namun keduanya sudah berjuang maksimal. Lebih kecewa lagi tentu kekalahan The Minions. Harapan utama ini tersandung karena kesalahan sendiri. Keduanya memang bermain apik, namun penyelesaikan kurang. Keduanya selalu tertinggal jauh di awal game pertama dan kedua. Meski selalu bisa mengejar, keduanya masih gagal mengunci kemenangan.

Kurang padu, kurang greget, bahkan kurang "tengil" bisa dipicu banyak hal. Tekanan yang besar, meski keduanya sudah terbiasa dengan hal tersebut. Tidak seperti kejuaraan lain, Kejuaraan Dunia memiliki tekanan tersendiri. Pemain yang selalu maksimal di tur reguler bahkan bisa juara beruntun bisa saja melempem di ajang ini.

Di sisi lain, keduanya terlihat lambat panas. Bisa jadi absen di turnamen sebelumnya menjadi sebab. Bagaimanapun mereka butuh pemanasan sebelum tampil di kejuaraan utama. Mereka butuh stimulus agar bisa "in" sejak awal.

Pada beberapa tur sebelumnya, keduanya juga beberapa kali tampil kurang memuaskan. Terutama saat kembali bertanding selepas jeda. Setiap pemain tentu butuh waktu untuk kembali padu. Semoga kekalahan dari Kamura dan Sonoda ini menjadi pemanasan untuk kembali mendapat performa terbaik hingga mencapai klimaks di Istora nanti. Apalagi keduanya belum pernah meraih medali emas Asian Games, satu dari dua turnamen bergengsi, selain Olimpiade.

The minions diharapkan bisa bangkit di Asian Games 2018/gambar dari @INABadminton
The minions diharapkan bisa bangkit di Asian Games 2018/gambar dari @INABadminton
Ancaman Asia Timur

Final Kejuaraan Duni menggambarkan kekuatan bulu tangkis Asia Timur yang menjadi ancaman di Asian Games nanti. Pertama, ganda putri. Jepang sudah sedemikian superior di sektor ini. Tahun ini sudah berapa kali ganda putri Jepang saling berhadapan di semi final dan final?

Dominasi Jepang makin menggila mulai dari turnamen level super100, 300, 500, 750, 1000, Kejuaraan Asia hingga Kejuaraan Dunia. Artinya, Jepang memiliki banyak amunisi ganda putri yang tinggal menunggu waktu untuk berprestasi di level atas. Lebih jauh, regenerasi sektor ini begitu terjaga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2