oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Klimaks Penantian 37 Tahun Tim Uber Jepang dan Pelajaran untuk Kita

26 Mei 2018   18:02 Diperbarui: 27 Mei 2018   23:21 2126 4 1
Klimaks Penantian 37 Tahun Tim Uber Jepang dan Pelajaran untuk Kita
Para pemain putri Jepang bersama Jeremy Gan, sang pelatih dan trofi Piala Uber (@Antoagustian)

Sebagaimana prediksi banyak pihak, Jepang akhirnya tampil sebagai jawara Piala Uber 2018. Dengan materi pemain yang merata baik di nomor ganda maupun tunggal, Negeri Sakura akhirnya mampu mewujudkan status sebagai unggulan teratas. 

Di partai final, Sabtu (26/05/2018) siang ini, anak asuh Jeremy Gan membungkam tuan rumah Thailand dengan skor meyakinkan, 3-0. Menariknya lagi, ketiga partai itu berakhir dalam dua game, dengan tempo kurang dari satu jam.

Kedua tim sama-sama menurunkan line up terbaik. Jepang mempercayakan tunggal pertama, kedua dan ketiga kepada Akane Yamaguchi, Nozomi Okuhara dan Sayaka Takahashi. Di pihak tuan rumah, Ratchanok Intanon masih menjadi andalan sebagai tunggal pertama, menyusul Nichaon Jindapol dan Busanan Ongbamrungphan.

Sementara itu di nomor ganda, Rexy Mainaky membuat kejutan dengan menukar silang pasangan. Jongkolphan Kititharakul berpasangan dengan Puttita Supajirakul menjadi ganda pertama, sementara Rawinda Prajongjai ditandemkan dengan Sapsiree Taerattanachai. 

Bisa jadi Rexy ingin membuat kejutan kepada Jepang yang menurunkan dua ganda terbaiknya yakni Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dan Misaku Matsutomo/Ayaka Takahashi. Jepang bahkan masih memiliki satu pasangan terbaik yang berada di rangking lima dunia, Shiho Tanaka/Koharu Yonemoto.

Bisa jadi juga ini menjadi bentuk perjudian setelah di semi final kedua nomor ganda gagal menyumbang poin saat berhadapan dengan China. Jongkolphan/Rawinda yang diturunkan di partai kedua kalah dari Chen Qingchen/Jia Yifan. Sedangkan Puttita/Sapsiree tak berkutik kala berhadapan dengan Huang Yaqiong/Tang Jinhua.

Belum lagi dalam rekor pertemuan, para pemain Thailand itu selalu inferior. Jongkolphan dan Rawinda kalah 1-5 dari Yuki dan Sayaka. Sementara Puttita dan Sapsiree tak pernah menang dalam empat pertemuan menghadapi Misaki dan Ayaka.

Thailand yang kurang diuntungkan di nomor ganda menaruh harapan pada sektor tunggal. Salah satunya pada Intanon yang berduel dengan Akane. Kedua pemain ini sudah bertemu sebanyak 18 kali sejak level junior. 

Head to head pertemuan menempatkan Akane sebagai unggulan dengan meraih delapan kemenangan, termasuk pertemuan terakhir di Malaysia Masters awal tahun ini. Akane yang kini berada di rangking dua kembali menjadi lawan tersulit bagi Intanon yang gagal balas dendam. 

Bila di Malaysia Intanon menyerah setelah berjuang tiga game, 15-21, 21-16, 19-21, kali ini pemain peringkat empat dunia itu menyerah dua game langsung, 21-15 21-19.

Tim putri Jepang saat menjadi juara Badminton Asia Team Championships (BATC) 2018 dengan mengalahkan China di partai final dengan skor telak 3-0 (badmintonplanet.com)
Tim putri Jepang saat menjadi juara Badminton Asia Team Championships (BATC) 2018 dengan mengalahkan China di partai final dengan skor telak 3-0 (badmintonplanet.com)
Formasi kejutan di nomor ganda tak juga berhasil mengimbangi dominasi pasangan nomor dua dunia. Yuki dan Sayaka butuh 46 menit, durasi yang sama seperti partai pertama, untuk menjungkalkan Puttita dan Jongkophan dengan skor 21-18 dan 21-12.

Jindapol menjadi harapan tuan rumah untuk memperpanjang nafas. Namun pemain berperingkat 11 dunia ini tak kuasa meredam semangat Nozomi yang ingin segera memastikan kemenangan timnya. 

Pemain berperingkat sembilan dunia itu pun melanjutkan dominasinya setelah mengantongi kemenangan dalam tiga pertemuan terakhir. Tambahan kemenangan ini membuat head to head kedua pemain menjadi 4-1 untuk keunggulan Nozomi.

Busanan yang dipersiapkan sebagai tunggal ketiga hanya bisa mengisi line up. Padahal ia memiliki modal bagus ketika berhadapan dengan Sayaka Takahashi. Dalam satu-satunya pertemuan, Busanan mampu mengunci kemenangan straight set, meski kemenangan itu ditorehkan enam tahun lalu di Malaysia Grand Prix Gold.

Pelajaran untuk kita

Kemenangan Jepang ini sungguh fenomenal. Mereka mampu mewujudkan prediksi dan memaksimalkan semua kekuatan yang ada. Memang patut diakui Jepang kali ini hanya bisa disaingi China, yang harus puas sebagai semi finalis. Materi pemain mereka sangat mumpuni, berisikan pemain mantan pemain nomor satu dunia, juara dunia, jawara olimpiade hingga juara Asia. Kecuali Sayaka Takahashi, para pemain lain sudah pernah menjadi juara di turnamen super series BWF.

Tentu kedigdayaan Jepang kali ini tidak dituai secara instan. Mereka harus menanti selama 37 tahun untuk mengangkat Piala Uber. Jepang yang pertama kali menjadi juara Piala Uber pada 1966, terakhir kali menjadi juara pada 1981. Sebelumnya mereka pernah menjadi juara di edisi 1979, 1972, 1978 dan 1981.

Sepuluh tahun lalu Jepang bahkan pernah menelan pil pahit. Mereka gagal lolos ke fase grup setelah kalah dari Indonesia dengan skor 1-4 dan Belanda 2-3. Namun satu dekade setelah peristiwa pahit 2008 itu, Jepang mampu menginjak podium tertinggi.

Meski gelar juara Jepang masih kalah banyak dari China, dengan 14 gelar, jumlah gelar mereka masih lebih banyak dari Indonesia yang baru meraih tiga gelar-jumlah yang sama dengan Amerika Serikat, dan Korea yang baru sekali angkat piala pada 2010.

Kini Jepang telah menjadi raksasa bulu tangkis putri dunia. Kekuatan merata di semua lini membuat negara ini pantas menjadi kampiun. Tentu negara-negara lain memiliki pemain yang lebih baik. Tetapi satu atau dua pemain bintang tidak cukup untuk menggondol trofi presisius ini. Tai Tzu Ying tidak bisa berbuat apa-apa bagi Taiwan di Piala Uber kali ini meski ia merajai sektor tunggal. Begitu juga Spanyol yang memiliki seorang Carolina Marin.

Tidak hanya materi pemain yang mumpuni, Jepang memiliki syarat lain untuk menjadi juara. Syarat itu adalah semangat juang dan kekompakkan tim. Dua hal ini terlihat jelas di tim Jepang. Dengan semua syarat itu maka Jepang pantas menjadi juara. Bahkan kekuatan Jepang masih akan terus bertahan selama beberapa tahun ke depan mengingat sebagian besar pemain mereka masih berusia muda.

Hasil final Piala Uber 2018 (tournamentsoftware.com)
Hasil final Piala Uber 2018 (tournamentsoftware.com)
Bagaimana Indonesia?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3