Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Sejarawan - Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menceritakan (Ulang) Sejarah Lewat Fotografi (Bagian Kedua -- Selesai)

13 Maret 2017   10:13 Diperbarui: 13 Maret 2017   10:34 458
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image result for Chaerol Riezal

Mega musibah itu diingat oleh kebanyakan orang sebagai gempa dan tsunami Aceh (orang Aceh menyebut bencana tsunami sebagai ie beuna), adalah sebuah bencana terbesar yang pernah melanda Aceh. Perhatian dunia tercurahkan pada peristwa itu. Aceh yang sebelumnya indah dipandang oleh mata akan alamnya, meskipun masih dalam keadaan perang, hari itu tiba-tiba dibanjiri oleh ribuan relawan, pekerja sosial dan belakangan para pekerja lembaga donor dan lembaga non pemerintah. Mereka semua berasal dari dalam maupun luar negeri.

Lalu bagaimana wartawan menceritakan ulang mega musibah Aceh lewat lensa miliknya? Jawabannya akan berurai air mata. Jangankan wartawan, orang Aceh sendiri saja (terutama para korban) sulit sekali untuk menjelaskan jalannya peristiwa tersebut.

Media dan jurnalis Indonesia juga sama, tergagap ketika bencana itu datang. Ketika tsunami melanda Aceh, media lokal benar-benar tidak punya gambaran seberapa besar bencana dan dampak yang terjadi di Aceh. Media lokal butuh waktu sebelum benar-benar sadar betapa dahsyatnya bencana yang terjadi di Aceh. Media asing pun awalnya tak terlalu sadar, mereka bahkan lebih fokus kepada tsunami di Thailand dan Sri Lanka.

Barulah ketika beberapa media lokal dan asing berhasil masuk ke Aceh, dunia terperanjat melihat seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut. Dalam waktu yang relatif singkat, Aceh menjadi pusat pemberitaan dunia. Bahkan sempat menjadi berita utama (headline) dibeberapa media cetak lokal, nasional dan internasional.

Gagapnya warga dan media menghadapi mega bencana gempa dan tsunami Aceh, turut diceritakan oleh Bedu Saini, wartawan Serambi Indonesia (koran harian terbitan Aceh). Bedu Saini adalah wartawan Serambi Indonesia yang selamat dari bencana tersebut, dan bahkan sempat memotret sebuah adegan yang sungguh dramatis. Adegan dua orang pria menolong seorang bocah ketika gelombang tsunami mulai merangsek ke daratan. Secara profesional Bedu Saini mengaku puas dengan tangkapan lensanya, tapi secara pribadi dia sedih. Ibu dan dua anaknya ditelan oleh gelombang tsunami, hilang entah ke mana.

Hal serupa juga turut diceritakan oleh Ahmad Arif, seorang wartawan Harian Kompas yang sempat menghabiskan waktunya di Aceh beberapa hari setelah tsunami. Ahmad Arif menceritakan kisahnya saat terjun langsung ke pusat bencana hanya berselang sehari setelah bencana menghantam Bumi Serambi Mekkah. Bagaimana mayat-mayat bergelimpangan, puing-puing berserakan, bau anyir menusuk hidung, tangisan orang yang amat memilukan, dan depresi di mana-mana. Sebuah perjuangan berat untuk seorang wartawan yang harus bertarung dengan profesionalisme dan hati nuraninya.

Kisah itu kemudian perlahan-lahan bergulir ke kisah dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun setelah bencana itu terjadi. Rekonsiliasi antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) seperti berkah selepas bencana, membawa damai setelah 30 tahun lebih perang antara kedua kubu dengan warga sebagai korban di tengah-tengah konflik yang membara Aceh saat itu. Rekonsiliasi itu juga yang ternyata membawa masalah dalam proses pemulihan selepas bencana.

Ketika mega musibah gempa dan tsunami terjadi, saat itu Aceh bahkan masih dalam keadaan berperang. Setelah itu Aceh berubah total dan hanyalah sebagai puing-puing yang berserakan akibat amukan dari gelombang tsunami. Hampir tiga belas tahun lebih pasca bencana, Aceh menjalani perjalanan yang sangat panjang hingga bisa sampai seperti sekarang ini: Aceh Lon Sayang (Aceh Aku Sayang) seloah lahir kembali.

Aceh yang hancur lebur, akhirnya terlahir kembali pasca mega musibah gempa dan tsunami itu berlalu. 26 Desember 2004, pukul 07.30 (gempa) dan 08:10 WIB (tsunami), waktu itu memang terasa sangat hening dan berhenti seketika itu juga untuk Aceh. Tapi di saat yang bersamaan, cerita sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah cerita yang selamanya akan menggetarkan setiap jiwa yang berhubungan langsung dengan Aceh: GAM vs RI berdamai, dan Aceh bisa menata masa depan yang lebih cerah.

Bantul di Penghujung Mei Tahun 2006

Sebelas tahun lalu menjadi hari yang tragis bagi warga Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Betapa tidak, gempa berkekuatan 5.9 SR telah meluluhlantakan sebagian besar bangunan yang ada di daerah tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun