Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menceritakan (Ulang) Sejarah Lewat Fotografi (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

26 Januari 2017   18:38 Diperbarui: 26 Januari 2017   19:11 1265 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menceritakan (Ulang) Sejarah Lewat Fotografi (Bagian 1 dari 2 Tulisan)
Image result for Chaerol Riezal

Oleh: Chaerol Riezal*

Kenangan adalah sajian paling klise di muka bumi ini. Anda tahu, manusia hanya mengingat hal-hal yang sifatnya “paling”, entah itu paling bagus atau paling buruk sekalipun. Momen yang dianggap biasa-biasa saja, hanya akan dibuang dari lembaran serebrum (otak besar) atau hanya diparkirkan (disimpan) untuk sementara waktu, dan akan diingat kembali pada suatu waktu tertentu. Sebaliknya, hal-hal yang bersifat (paling) bagus, akan terus diingat, dikenang, dan akan diceritakan dari satu mulut ke mulut yang lain atau kepada kebanyakan orang dan teman-temannya.

Kenangan tidak menyajikan realita sebagaimana adanya, namun hanya mengingat yang apa kita mau. Karenanya, foto adalah medium yang tepat untuk menziarahi kenangan, terutama yang terlupakan oleh waktu (amnesia ingatan).

Sejarah dan fotografi adalah kawan lama. Tidakkah ada yang bertanya mengapa foto-foto pahlawan nasional dipajangkan di dalam ruangan kelas sekolah (SD, SMP, SMA atau yang sederajat)? Tidakkah ada yang bertanya, mengapa orang-orang mau melukiskan kembali tentang seorang (sosok) tokoh yang sentral, atau tentang kehiduapan manusia di masa lalu, atau juga tentang hal-hal yang indah yang dilukis melalui imajinasinya? Mengapa?

Jika sejarah adalah cerita, maka fotografi adalah pena lainnya. Sejarah hanya akan menjadi hikayat semata, jika tidak ditulis dan dibukukan. Lambat laun statusnya pun akan mengendur, pudar dan menjadi dongeng sebelum tidur. Foto datang untuk memberikan bukti (sejarah) yang tak terbantahkan, tentu saja dengan foto yang orizinal. Karena itulah, melalui dan berkat sebuah foto sejarah atau bahkan lebih dari satu foto, orang-orang masih bisa menceritakan ulang peristiwa sejarah tersebut, dan mengingatnya kembali.

Jika tidak percaya, tanyakan saja kepada awak redaksi (surat kabar) atau lihat saja bagaimana seorang wartawan menceritakan ulang sebuah peristiwa dalam bentuk berita, video dan foto kepada khalayak ramai, setelah ia berhasil memotret kejadian yang ia liput secara langsung.

***

Apa yang terbayang dalam benak Anda jika seseorang yang Anda kenal, menyodorkan sebuah foto kenangan dihadapan Anda? Saya yakin, pada saat itu juga Anda (akan) langsung mengingat momen itu dimana Anda hadir dalam foto kenangan tersebut. Tidak akan menjadi masalah apakah foto yang disodorkan itu bernuasa romantisme, atau bahkan sekalipun berbau melankolis. Tergantung bagaimana Anda merespons foto tersebut. Tetapi yang jelas, ingatan Anda yang dulu sempat terlupakan oleh waktu, akan kembali muncul ketika seorang teman menyodorkan foto kenangan Anda yang telah disimpan selama puluhan tahun.

Pagi itu (saya lupa entah tanggal berapa), seorang teman mengirimkan saya sebuah foto. Foto itu dipotret secara diam-diam. Saat foto itu dipotret, saya sedang duduk bersama dengan seorang bapak yang bekerja di sebuah tempat disamping Museum Tsunami Aceh, yaitu Kerkhof. Kebetulan, bapak itu berada disebelah kiri saya. Sementara teman saya tepat berada dibelakang saya. Sebelum ke Kerkhof, kami singgah dulu ke sebuah warkop untuk membeli kopi, kue dan makanan ringan lainnya. Tujuannya: agar suasana pertemuan nanti antara kami dengan bapak itu bisa lebih mencair.

Ketika foto itu diambil, saya sedang meminta beberapa keterangan untuk menambah kekurangan informasi terkait artikel yang sedang saya tulis diwaktu itu (artikelnya bisa Anda baca di blogger Bunga Rampai Aceh yang berjudul: Kerkhof, Bukti Dasyatnya Perang Belanda di Aceh). Melihat saya sedang asik ngobrol dengan si bapak, disaat itulah teman saya memotretnya. Teman saya mencoba mengabadikan momen itu lewat androidnya disaat kami sedang meneguk segelas kopi hitam. Jadi, saya sama sekali tidak tahu ia memotret kami lewat belakang. Kerkhof adalah saksi bisunya.

Sebagai informasi tambahan tentang Kerkhof, saya beritahukan disini: Peutjut Kerkhof atau Pemakaman Peutjut atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kerkhof adalah taman perkuburan Belanda yang terletak di Banda Aceh di daerah Blower atau tepatnya dibelakang Museum Tsunami. Selain makam-makam pasukan Belanda, Korps Marsose, Jenderal Kohler, para Jenderal besar Belanda dan orang terkenal lainnya, di Kerkhof juga terdapat makam-makam orang Tionghoa, warga setempat yang beragama Kristen dan makam anak Sultan Aceh yang beragam Islam bernama Pocut Meurah Pupok. Poteu Cut atau Pocut adalah sebutan kesayangan untuk anak Sultan Iskandar Muda. Sebutan mesra itu ditujukan kepada Meurah Pupok, anak penguasa Kerajaan Aceh Darussalam. Tapi karena Pocut dianggap melanggar hukum Islam (berzina), ia harus berakhir diujung pedang (dipancung) ayahndanya sendiri. Jumlah jenazah perkuburan di Kerkhof ini diperkirakan sekitar 2.200 jiwa orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN