Mohon tunggu...
Patter
Patter Mohon Tunggu... Hotelier

ūüćéTulislah hal-hal berarti yang takkan pernah kau sesali kemudian

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Keberadaan Smoking Room, Pebisnis Hotel Pilih Untung atau Buntung?

17 April 2021   16:57 Diperbarui: 19 April 2021   19:28 1277 69 34 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Keberadaan Smoking Room, Pebisnis Hotel Pilih Untung atau Buntung?
Ilustrasi merokok| Sumber: Shutterstock via Kompas.com

Bagi seorang perokok, di manapun berada asal tersedia ruang dan waktu, kadang kala tak dapat menahan keinginan merokok.

Hotel pun ikut-ikutan ramah terhadap para perokok. Keberadaan kamar khusus perokok atau smoking room meski tersedia di beberapa lantai, tidak semata-mata manajemen hotel melengkapinya tanpa melirik sisi keuntungan.

Smoking room dalam pengertian hospitality ialah kamar-kamar di hotel yang berada di beberapa lantai, diperuntukkan khusus bagi para perokok yang menginap.

Secara komersial tujuannya jelas, mengikuti keinginan pelanggan akan kebutuhan ini. Selain itu mencegah sembunyi-sembunyi merokok di sembarang tempat. Maklumlah, meskipun telah dilengkapi detektor asap (smoke detector) di kamar dan koridor, ada saja tamu yang bandel.

Perokok dari segala kalangan. Kaya, miskin, tua, muda, wanita, pria. (ilustrasi pixabay.com) 
Perokok dari segala kalangan. Kaya, miskin, tua, muda, wanita, pria. (ilustrasi pixabay.com) 

Di hotel-hotel baik jaringan internasional maupun lokal masih banyak yang menyediakan kamar bagi perokok. Jika dicermati, ada banyak alasan pengalokasian lantai khusus ini.

Sebagai mantan perokok, saya paham benar mengapa hotel tipe ini menjadi incaran. Bahkan mereka rela bersabar menunggu kamar yang penghuninya baru saja check-out. Sila baca tautannya di sini

Mari kita simak apa saja kerugian yang ditanggung oleh pebisnis hotel ketika smoking room tersedia bagi para perokok:

Di Indonesia, menurut data tahun 2018 jumlah perokok diatas 18 tahun ke atas meningkat dari 7,2% menjadi 9,1%.

Perkiraan Bapenas, jumlah perokok di Indonesia hingga tahun 2030 ditaksir dapat mencapai 16% dari jumlah penduduk.

Faktanya kita mengenal 2 kelompok hotel, yang ramah terhadap perokok dan kelompok anti asap rokok.

Hotel yang menyediakan smoking room memiliki risiko:

a. Ruang kamar beserta fasilitas kamar cepat rusak karena api rokok.

Lubang di seprai, meja kayu kena rokok, sofa berbolong-bolong. Gorden, karpet rentan bolong karena percikan api rokok. Secara disengaja maupun tidak.

Puntung rokok di asbak (foto Camille Griselin on youtube via id.pinterest.com)
Puntung rokok di asbak (foto Camille Griselin on youtube via id.pinterest.com)

b. Pemeliharaan dan perawatan kamar, berbiaya besar
Karpet, gorden, sofa, seprai, sarung bantal, selimut tebal (bedcover) akan menyerap bau asap jika tidak rutin dicuci.

Bau permanen yang melekat pada kain-kain itu sangat mengganggu indra penciuman, terutama bagi yang bukan perokok dan yang terjangkit alergi. Tersebab dalam keadaan terpaksa terkadang non perokok mau saja ditempatkan di smoking room. Karena kehabisan kamar regular akhirnya kamar non smoking menjadi pilihan.

c. Karpet koridor berbau apak serta lembab
Lantai koridor beralas karpet, lembab ditambah bau asap rokok adalah ruang tidak sehat.

Embusan AC menambah bau asap semakin menyengat. Bau akan menempel pada pakaian siapapun yang berada disekitar area.

d. Bau asap masuk kedalam lift tamu
Ketika pintu lift terbuka di smooking floor, bau asap masuk kedalam lift tamu sehingga mengganggu orang-orang yang sedang berada dalam lift. Asap menyerobot masuk.

"Bau asap rokok ya?" komentar mereka. Saya tersipu malu. Bagaimana harus menjawab sedangkan saya bersama mereka.

e. Gedung rentan terjadi kebakaran
Masih ingat kebakaran gedung kejaksaan di Jakarta?  Lalu pertengkaran suami istri penyebab kebakaran di kamar hotel di Manado?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x