Mohon tunggu...
Catherin YMT
Catherin YMT Mohon Tunggu... Female

An INFP Woman*Chocoholic*Pink Lover*Potterhead*Book Worm* Central Banker - Economic Analyst Email: catherinymt@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Belanja Tanpa Plastik di Pulau Bali

16 Juni 2019   21:04 Diperbarui: 16 Juni 2019   21:11 0 4 2 Mohon Tunggu...
Belanja Tanpa Plastik di Pulau Bali
greenpeace.org

Libur lebaran kemarin saya dan suami sepakat untuk berlibur ke Bali (lagi). Suami saya memang sangat suka ke Bali, karena dia males mengikuti tren dimana orang-orang senangnya jalan-jalan ke luar negeri. Alasannya karena Indonesia itu sangat indah dan luas sekali, ngapain harus ke negeri orang dulu. Negeri kita aja belum tentu semuanya bisa dikunjungi. 

Ya itu sih alasan keren nya dia aja. Padahal sebenarnya saya tau kalau dia orangnya agak fobia dengan ketinggian, jadi takut kalau harus terbang dengan durasi yang panjang. Kalau ke Bali kan deket, cuma sekitar 45 menit penerbangan dari Surabaya.

Seperti biasa kalau jalan-jalan membawa anak kecil, agak banyak printilan yang harus disiapkan. Yang kalau mau dibawa semua, bisa-bisa harus membawa koper besar kayak orang mau pindahan. Karena itulah untuk beberapa keperluan yang bisa dibeli di tempat tujuan, kami memutuskan untuk tidak membawanya dari rumah.

Atas alasan itu pula maka tempat pertama yang akan kami singgahi saat tiba di Bali adalah mini market. Disanalah kami biasanya membeli beberapa keperluan sehari-hari selama berlibur. 

Yang juga penting untuk dibeli adalah air mineral botol ukuran besar, mengingat hotel biasanya hanya menyediakan dua botol air mineral ukuran sedang per harinya. Air segitu paling beberapa jam juga sudah ludes terpakai untuk nyeduh susu si kecil.

Ada yang berbeda saat kami hendak membayar di kasir mini market. Belanjaan kami yang cukup banyak itu tidak dimasukkan ke dalam kantong plastik. Karena saya belum 'aware' dengan adanya aturan tentang larangan penggunaan plastik di pulau Bali (sesuai Pergub no.97 tahun 2018), dan kebiasaan di Pulau Jawa, saya meminta kasir untuk memberikan plastik walaupun saya harus membayar biaya tambahan.

"Maaf bu, kami sudah tidak menyediakan kantong plastik, karena memang sudah dilarang disini. Ibu ga bawa tas belanja?", begitu jawab si kasir. Waduh, saya jadi agak malu mendengar penjelasannya. 

Terpaksa saya pun memasukkan belanjaan yang kecil-kecil ke dalam tote bag yang saya bawa, yang untungnya berukuran cukup besar. Selebihnya terpaksa ditenteng dan diletakkan begitu saja di dalam mobil.

Kesusahan saya yang harus berpisah dengan plastik ternyata berlanjut saat kami berada di hotel. Saya jadi tidak punya wadah untuk membungkus makanan sisa atau popok bekas pakai yang akan dibuang ke tempat sampah. Jika tidak dibungkus, maka baunya akan sangat mengganggu. Akhirnya saya terpaksa menggunakan sanitary bag yang disediakan di kamar mandi hotel.

Terlepas dari beberapa 'kerempongan' yang saya rasakan, saya sebenarnya sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah Bali tersebut. Tingginya tingkat pencemaran lingkungan khususnya tempat wisata yang ada disana akibat penggunaan plastik sudah berada dalam level yang mengkhawatirkan. Karenanya langkah pelarangan (dan bukan sekedar penambahan 'charge') sangat dibutuhkan untuk mencegah kondisi yang semakin parah.

Alih-alih menggerutu dan sewot karena kerepotan yang terjadi, saya akhirnya membeli beberapa tas belanja dari kain yang sekarang sudah banyak dijual. Model dan motifnya pun sangat beragam. 

Bahkan sangat trendy untuk ditenteng saat berbelanja. Agar tidak ketinggalan, tips dari saya pilihlah tas belanja yang dapat dilipat dengan mudah, untuk disimpan di dalam tas atau di saku. Jadi ketika tiba-tiba dibutuhkan saat berbelanja, tasnya sudah tersedia. Aktivitas belanja pun bisa jalan terus tanpa rasa bersalah karena telah ikut berkontribusi untuk menjaga kelestarian lingkungan.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x