Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan

Ekspresikan Pikiran Melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Debat Capres Jilid Empat, Leadership, Ideologi Bangsa dan Isu Khilafah

30 Maret 2019   19:39 Diperbarui: 30 Maret 2019   19:42 0 0 0 Mohon Tunggu...
Debat Capres Jilid Empat, Leadership, Ideologi Bangsa dan Isu Khilafah
Jokowi dan Prabowo Subianto (TribunPontianak.co.id)

Jelang debat keempat capres Republik Indonesia Sabtu (30/3/) suasana panggung politik seolah begitu menegangkan. Jutaan pendukung masing-masing kubu menunggu dengan perasaan harap-harap cemas debat akhir capres pilpres 2019. Rasa hati yang deg degan mewarnai para loyalis Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi di seluruh pelosok nusantara.

Tema debat antarcapres malam ini meliputi materi pertahanan dan keamanan, ideologi, pemerintahan, dan hubungan politik luar negeri. Debat digelar di Shangri-La Hotel, Jakarta, tepat pada pukul 20:00 Wib malam ini.

Meskipun ini debat putaran terakhir namun jika ditarik garis merah dari segi tema, debat malam ini sangat krusial dan menentukan bagaimana tema-tema debat sebelumnya dapat dilaksanakan. Kenapa demikian? Karena malam ini jutaan rakyat Indonesia, calon pemilih melihat kapasitas utama capres mereka pada aspek kepemimpinan (leadership).

Leadership menjadi faktor utama atau variabel kunci untuk melaksanakan pemerintahan yang solid, kuat, dan bersih. Apalagi Indonesia yang menganut sistim pemeritahan presidensial, maka kepemimpinan yang kuat, tegas, dan visioner sangat dibutuhkan agar terlaksananya pemerintahan yang efektif.

Selain leadership, debat malam ini ada isyu yang cukup menarik menjadi perdebatan yaitu soal ideologi. Walaupun konteksnya adalah berkaitan dengan Pancasila namun selama ini isu ideologi tersebut digeser dan dikembangkan ke arah ideologi Islam yang "direpresentasikan" oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan dipertentangkan sebagai kelompok makar negara sah NKRI.

Soal HTI dan ideologi PKI sepanjang 5 tahun terakhir kerap digunakan sebagai komoditas politik dan sebagai alat legitimasi untuk menjatuhkan lawan politik. Apalagi setelah rezim Jokowi-Jk dengan gagah berani suskes membubarkan HTI dengan tuduhan melawan Pancasila dan NKRI. Akibatnya seluruh atribut yang mirip organisasi HTI pun dilarang. Termasuk bendera tauhid yang diklaim sebagai bendera ummat Islam.

Padahal sebagaimana diketahui dan dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia bahwa ideologi Pancasila sudah bersifat final. Artinya siapapun yang hidup di negeri ini berarti mereka menerima dan mengakui Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Lalu mengapa masih diragukan?

Uniknya isu PKI diarahkan untuk menjatuhkan Jokowi dan HTI digunakan untuk mendiskreditkan Prabowo Subianto, padahal saat ini Jokowi masih Presiden Republik Indonesia. Sedangkan Prabowo Subianto merupakan mantan Jenderal Militer elit yang menjadi pengawal negara dari segala rongrongan. Jadi sangat aneh bila keduanya dipersepsikan sebagai capres anti Pancasila.

Nah malam ini mari kita simak jalannya sesi perdebatan. Tentu saja rakyat yang menonton dan mengikuti debat ini tidak mau buang-buang waktu untuk mendengarkan hal-hal yang tidak subtansial. Rakyat butuh keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan bukan apa perbedaan antara PKI dan HTI.

Oleh sebab itu besar harapan kita, debat malam ini tidak terjebak pada diskursus diluar konteks sebagai calon presiden yang berkualitas, kredibel, dan tidak memahami persoalan bangsa ini apalagi pada tingkat persaingan global.

Dan selama ini pun peran Indonesia dipentas internasional sangat kurang gaungnya. Dalam dunia olah raga pun Indonesia timbul tenggelam. Sementara peran dalam bidang geopolitik sangat tidak terlihat. Berbeda dengan presiden-presiden Indonesia sebelumnya yang sangat aktif dalam urusan luar negeri.

Sekali lagi semoga debat malam ini dapat melahirkan banyak perspektif untuk solusi mengatasi berbagai persoalan bangsa saat ini. Hendaknya terjadi saling serang antaracapres secara agresif dan konstruktif sebagai sebuah wacana yang cerdas dan dapat dijadikan sebagai kebijakan bagi kemajuan Indonesia dibawah kepemimpinan Pesiden Republik Indonesia yang baru periode 2019-2024.(*)