Cahya Dewi Mariana
Cahya Dewi Mariana

belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan, untuk dibaca, dinikmati, dan diambil hikmah positif nya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | "Grandpa"

14 Mei 2018   14:26 Diperbarui: 14 Mei 2018   14:46 194 0 0

Secangkir coklat panas baru saja terhidang untukku. Sembari mengucap terima kasih kepada seorang barista berambut pirang yang katanya mengenaliku sejak pertama kali mampir ke kedai ini. Sesekali ia berlagak sok pintar menghafal kebiasaanku.

"Mbak ini kalau datang jam setengah delapan tepat, selalu duduk di pojok sini, lalu pesan secangkir coklat panas nggak pakai gula, dan sepotong croissant isi keju. Mbak pasti akan beranjak dari kedai ini jam sebelas, yaaa kalau terlihat sibuk kerja paling lambat jam sebelas lebih lima belas menit. Hehhehe....baiklah, selamat menikmati" selorohnya lalu pergi.

Menjadi seorang karyawan dengan remote working memang memudahkanku untuk bisa mengendalikan pekerjaan dari manapun, tidak perlu datang ke kantor setiap hari. Termasuk dengan mengunjungi kedai ini, seminggu tiga kali aku kesini untuk sekedar mengusir penat dan memanfaatkan layanan wifi gratis. Dan aku menyukai nuansa etniknya, interiornya, para pelayannya, musiknya, croissant nya dan coklat panasnya.  

Kuputar sendok teh di dalam cangkir yang masih panas itu beberapa kali, sambil menatap ke depan, menembus kaca pembatas kedai, menerjang guyuran hujan pertama yang mulai turun di awal tahun ini. Lalu lalang manusia melintasi trotoar depan kedai dengan setengah berlari karena tak ingin basah kuyup.

Tak kecuali dengan dua wanita setengah baya berbaju pegawai negeri yang kemudian memutuskan berteduh sejenak disamping kiri kedai, mereka saling bercakap dengan raut muka kecut, terdengar gumaman yang tak jelas, seperti sumpah serapah kepada hujan karena turun sepagi ini. Aroma khas tanah basah menggelitik indra penciuman. Kulirik arloji ditanganku, jarum pendek mengarah angka delapan, dan aku belum bergairah untuk membuka laptop, untuk memulai bekerja.

Sesekali ku nyalakan layar ponsel untuk melihat massenger, hanya untuk memastikan apakah kamu sedang online. Sejak pukul tujuh tadi. Kamu online. Tapi tak juga kudengar bunyi ponsel yang menandakan bahwa kamu menyapaku pagi ini. Kuletakkan sendok di atas tatakan, giliran cangkir yang kudekap dengan kedua tangan agar terasa hangat. Aroma cokelat pekat menyeruak memasuki rongga hidungku. Kusesap sedikit demi sedikit. Sangat ampuh membuatku tenang untuk sesaat. Sejurus kemudian ponsel ku berbunyi. Cling!!!

Kamu.

Setengah berjingkat kulihat namamu tertera di layar ponsel.

Hai, kamu sedang apa?

Biasa mulai bekerja, kamu sedang apa?

Entahlah aku tidak bisa tidur malam ini.

Owh, apa.....kamu ingin aku menceritakan sebuah dongeng agar bisa membuatmu tidur nyenyak?

Kamu memasang sticker tertawa ngakak.

Kamu dan aku berjarak ribuan mil. Selisih waktu diantara kita tujuh jam. Itu berarti di negaramu pukul satu malam. Setiap hari kita berselancar menembus ruang dan waktu, melintasi samudra dan benua. Seringkali aku tak memahami dengan jam tidurmu yang tak biasa. Kamu bekerja ditengah malam dan kemudian tidur hingga menjelang matahari diatas kepala.

Percakapan pun mengalir. Aku bahas tentang banana leaf dan kamu menangkap itu adalah kulit pisang yang berwarna kuning, mana mungkin untuk membungkus masakan, sangkalmu. Kemudian tawamu pecah saat melihat foto daun pisang yang kukirim, tentu saja, di negaramu mana ada pohon pisang. Kamu bilang ingin punya istri orang Indonesia karena menurutmu wanita Indonesia baik, religious, dan pintar masak.

Tentu saja, kamu hanya melihat foto anggota keluargaku yang berkerudung, dan beberapa postingku tentang makanan. Kamu bilang setiap ibumu datang seringkali memasak terlalu banyak untukmu dan kamu takut gendut. Kamu bilang aku orangnya sangat menarik. Kamu bilang kalau menyesal karena beberapa kali melewatkan sholat shubuh. Kamu bilang andai saja aku didekatmu. Selalu saja ada cerita seru tentangmu, tentangku, tentang kita, apa sihh??!!

***

Bagaimana harimu?

Suatu hari kamu tak membalas pesanku, sampai keesokan pagi.

 50% good, called ambulance for mom.

Apa yang terjadi?

Ibu merasakan sakit, dia baru saja melakukan operasi jantung. Dan kami khawatir sekali. Tapi sepertinya sakitnya kali ini bukan berasal dari jantung. Semoga bukan masalah besar. Dia akan menginap di rumah sakit malam ini. Dan aku biarkan ponselku menyala agar sewaktu-waktu dia menelfon. 

Kamu mengurai kejadian malam itu dengan jelas.  Kamu membiarkanku mengetahui semua kondisi ibumu saat itu, tentang pesakitannya, tentang kekhawatiranmu, tentang lelahmu yang tidak nyenyak tidur. Kamu membiarkanku mengerti betapa kamu tidak ingin kehilangan wanita tangguh yang sedang berjuang melawan penyakitnya itu.

Tapi dalam hati kecil kamu percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkan sakit ibumu. Kamu yakin akan kekuatan doa dan memintaku untuk membantu berdoa. Dan, it works, keesokan hari nya kamu memberi kabar bahwa ibumu sudah melewati masa kritis dan kembali pulang ke rumah.

Terima kasih, aku tahu sejak awal, kamu orangnya baik, masha Allah, aku belum pernah melihatmu tapi aku bisa merasakannya. 

Kamu kesini.

Aku benci terbang. Jangankan ke Indonesia, ke Maroko ke rumah ayahku saja aku tidak berani, padahal naik pesawat hanya satu setengah jam dari sini.  Kamu saja yang kesini!

Untuk saat ini aku belum bisa kesana, dan tau sendiri kan dalam agama kita sebaiknya pria dulu yang mendatangi keluarga wanita. 

(Sticker jempol) Ya, kamu benar. Andai kamu disini.

Aku pun berharap kamu disini.

Okey, kita bicara lagi nanti ya, aku harus tidur, disini sudah jam 3 pagi.

****

Cling!!! Kamu.

Selamat pagiii, bagaimana kabarmu?

Aku baik, bagaimana denganmu?

Aku baik. Apakah kamu membuat secangkir teh pagi ini? 

Yup (sticker tersenyum)

Jam berapa kamu mulai bekerja?

Jam 8, sekarang. Tapi aku hanya memeriksa beberapa jadwal untuk hari ini, belum banyak yang bisa aku kerjakan.

(sticker jempol) Aku akan tidur dan meninggalkanmu bekerja sendiri. Sampai jumpa. Semoga harimu menyenangkan

Okey, tidur yang nyenyak ya. (sticker hantu)

Sejurus kemudian kamu membalas pesanku dengan memasang sticker tertawa.

Heiiii, kamu belum tidur? Cepat tidur atau kamu akan terlambat sholat shubuh lagi

Iya. Aku hanya ingin mengatakan, Nabi kita bilang, keadaan orang muslim itu sangat aneh, karena apapun keadaannya selalu kheir (baik), jika ia menerima keadaan baik, maka itu baik untuknya dan jika ia menerima sesuatu yang buruk dan bertahan untuk sabar, maka itu juga baik untuknya, semua baik. Selamat malam, semoga harimu menyenangkan. 

(sticker bunga)

Kamu bersikap manis sekali, tiap pagi menyapaku seperti mesin ceklok dikantor. Kamu mengirimiku video murotal surah Toha yang menurutmu itu bacaan tajwid terbaik, agar bisa kudengar sambil bekerja. Kamu membuatku seperti butiran salju yang turun ditengah kerontangnya gurun pasir. Meleleh. Ya Tuhan, aku tertikam dengan perasaan ini, menghujam semakin dalam.

Kata orang cinta itu seperti musik, ia akan membuat siapapun yang mendengarnya selalu bersenandung, meskipun musiknya telah lama berhenti. Ya benar, aku masih hanyut dalam ilusi tentangmu, meski kamu sudah menghentikan percakapan ini sejak beberapa jam yang lalu. Hatiku seperti menari, terus saja menari meski telingaku tak lagi mendengar seperti apa alunannya. Di benakku kamu masih disini, didekatku. Oh! Andai saja aku bisa menerjemahkan perasaan semacam apa ini.

****

Seperti halnya Sang Waktu, adakalanya melewati pagi, siang lalu malam. Seperti halnya perputaran musim di negaramu, adakalanya harus melewati musim dingin, musim semi, musim panas lalu musim gugur. Semua berjalan sesuai masanya. Begitupun dengan kamu dan aku, dengan kita, untuk dua hari yang lalu, kemarin dan hari ini.

Untuk pertama kalinya kita tidak bercakap dalam waktu selama ini. Ponselku bisu. Ke mana kamu? Ini sudah pukul sebelas siang waktu sana, tidak mungkin kamu belum bangun apalagi melewatkan sholat shubuh sesiang ini. Apa kamu sedang sibuk dengan kegemaran barumu unggah video tentang tempat dan kuliner kekinian di negaramu? Entahlah, perasaanku mulai bercampur aduk. Aku gelisah.

Sebenarnya seberapa kenal aku denganmu? Mengapa aku meracau begini? Belakangan pertanyaan ini sering datang mengusikku. Baru dua bulan aku mengenalmu. Iya, benar! Dua bulan. Itupun dari situs perjodohan online. Entah sejak kapan aku mulai berburu jodoh dari situs itu. Sial! Sepertinya aku sudah putus asa menemukan pria lajang disekitarku. Aku tak mengerti, tetiba para lelaki dengan cepat ditakdirkan menikah dan beranak. 

Kemudian menghilang dan enggan dihubungi meski hanya dengan sekedar sapaan apa kabar. Dan aku terpaku disini mulai menyadari pentingnya mempunyai pasangan. Terlambat?? Mungkin sebagian orang akan beranggapan begitu, karena terlalu sibuk berkutat dengan urusan karir, sih! Sindir mereka mencibir. Tapi bagiku, hanya soal waktu.

Tuhan mempunyai waktu yang sempurna agar masing-masing ciptaan-Nya berpasangan. Waktu itu tidak bisa dipaksa agar cepat datang, pun tidak akan pernah terlambat. Pas! Kita hanya diminta untuk sedikit bersabar dan yakin, tapi yang pasti, saat itu pantas untuk ditunggu.

Bermula dari sapaan hangatmu di kotak pesanku. Lalu percakapan pindah ke messenger, lebih nyaman disini bisa video call suatu saat, katamu. Aku mengintip beberapa foto mempesonamu. Ada foto berlatar belakang savana dan perbukitan pinus di sebuah daerah di kawasan Siberia. Di foto itu tubuhmu yang jangkung berbalut jaket biru tua dengan bawahan celana kargo tiga perempat. Lengkap dengan sneaker warna senada.

Ada foto dengan siluet wajah yang menonjolkan hidung mancungmu, ala patung Romawi yang terpampang ditengah perkotaan Mediterania, hasil karya Sang Maestro. Kamu itu berdarah German - Arab. Alismu seperti barisan semut hitam. Bola matamu abu-abu dengan sorot tajam seperti burung hantu ditengah malam. Guratan wajahmu kian sempurna dengan kumis dan rambut - rambut tipis yang meliuk indah mulai dari bawah telinga hingga dagu. Ckckck....Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, decakku setiap melihat sosokmu, difoto.

Aku menyukai cara bicaramu yang spontan dan kocak saat di massenger. Aku mulai menikmati candaanmu. Aku berusaha memaklumi kebiasaan burukmu, tentang junk food, tentang fobia ketinggian, pun tentang sifat malasmu untuk mencari pekerjaan yang layak, setidaknya untuk lulusan S2 sepertimu. Apalagi???? That's all, enough. Hanya secuil.

Sudah cukupkah hal itu untuk mengumpulkan rasa sukamu kepadanya?? Tunjukku pada diri sendiri. Dan aku mengiyakan. Segitu gampangnya, kenal juga enggak, video call juga belum pernah, lalu darimana rasa senengnyaaa??? Aku juga tidak tahu, terus saja diriku berbantah sengit. Aku hanya bisa merasakannya, disini. Karena tidak semua perasaan bisa dijabarkan dengan alasan yang logis, dalihku membungkam perdebatan dalam diri.

Cling!!! Kamu.

Bagaimana harimu?

Semua baik saja, aku harap kamu juga begitu.

Kamu sedang apa?

Sedang bekerja. Kamu? 

Sedang edit video.

Wow!!! Silakan dilanjutkan.

Maaf, aku kadang tidak bicara, karena aku tidak mau membuang waktu, kamu tidak datang kesini, lalu kenapa kita ngobrol? Setelah kita sadar bahwa waktu berjalan sangat cepat lalu kita akan menyesal. Kamu sangat menawan tapi kamu tinggal di Indonesia. 

Aku terkesiap. Tetiba kata-katamu meracau. Aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku tidak ingin kehilangan kamu. Dan aku sangat merindukanmu tiga hari ini.

I miss you

I miss you too, tapi kupikir aku sedang membuang waktumu. Apa tujuan kita begini? Allah bisa marah padaku karena telah membuatmu seperti ini. Ku kira kita harus mengakhiri semua ini, tolong jangan marah, aku berharap kamu mendapatkan yang terbaik disana. Semua sangat menyenangkan bersamamu, tapi aku harus meninggalkanmu demi masa depanmu. 

Sontak, bulir-bulir basah mengaliri kedua pipiku. Rasanya seperti menyesap pahitnya jamu beraroma daun berwarna hijau pekat. Getir, nyinyir, ngilu, menyesakkan dada. Grandpa!!  Panggilanku ke kamu. Kamu menghilang, membawa rasa bersalahmu karena tidak bisa mendatangi negaraku dan menemuiku.

Kamu mengira yang kita lakukan selama ini sia-sia. Kamu memblock kontakku. Aku bahkan tak sempat membalasmu. Aku bahkan tak sempat mengucap terima kasih ataupun selamat tinggal. Ini tidak adil bagiku karena aku hanya bisa melampiaskan kekesalanku diatas bantal.

****