Mohon tunggu...
Budiman Hakim
Budiman Hakim Mohon Tunggu... Begitulah kira-kira

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Termos Halal

1 Desember 2019   14:51 Diperbarui: 1 Desember 2019   14:54 108 3 1 Mohon Tunggu...

"Gue sekarang jadi produsen termos, Bud," kata Adnan. Dia temen saya waktu kerja di advertising kecil di daerah Roxy jaman dulu.

"Weits! Udah jadi klien lo, ya?" tanya saya surprise banget.

"Yoi. Makanya gue ngajak lo ketemu di sini. Gue mau minta tolong lo bikinin iklannya buat di Youtube." Saat itu kami sedang berada di salah satu kafe di Citos.

"Apa merknya?" tanya saya pengen tau.

"Mortes. Keren, kan?"

"Halah! Keren apanya? Cuma lo bolak-balik doang dari 'Termos' jadi 'Mortes.'"

"Eh, coba lo perhatiin! Dari segi bunyi, orang akan mengira itu produk Italia atau Spanyol."

"Emang kenapa kalo dikira produk Spanyol atau Italia?"

"Orang Indonesia senengnya yang buatan luar negeri, Bud. Buatan lokal buat mereka murah dan gak keren."

"Mosok, sih? Emang ada risetnya?" tanya saya belagak polos.

"Ah, itu udah rahasia umum."

Tentu saja saya tau ada banyak strategi marketing seperti yang diomongin Adnan. Ada produk elektronik dikasih nama Digitec Ninja dan Digitec Sumo supaya dikira buatan Jepang. Padahal buatan Surabaya.

Yang kocak ada televisi bertuliskan 'Nikisami made in Japan." Tadinya saya kira itu buatan Jepang. Ternyata 'Nikisami itu bahasa Jawa yang artinya 'Ini sama'. Jadi secara keseluruhan artinya 'Ini sama dengan buatan Jepang'.

"Gimana, Bud? Lo mau, kan, bantuin gue?" Tiba-tiba suara Adnan memporakporandakan lamunan saya.

"Okay! Kasih tau gue, kenapa orang harus beli termos lo dibanding produk kompetitor?"

"Hahahahaha....gue udah tau lo akan nanya itu. Dari dulu lo gak pernah berubah. Hahahaha..."

"Bikin iklan itu simple. Gue cuma perlu tau jawaban itu. Yang lain buat gue gak gitu penting."

"Okay! Gue lagi bikin sertifikat halal dari MUI. Dan kata 'halal' itu yang gue mau jual," kata Adnan dengan suara mantap.

"Eh? Gila lo ye?  Ngapain lo ngurus sertifikat halal? Siapa yang mau makan termos lo?"

"Hehehehe... iya gue tau ini kedengerannya stupid. Tapi jaman sekarang orang lagi pada mabok agama, Bud. Ada makanan kucing halal, ada kacamata halal, ada kulkas halal. Makanya gua juga mau bikin sertifikat halal buat termos gue."

"Anjrit! Jadi lo tau itu stupid tapi lo lakukan juga semata-mata buat strategi marketing?" Saya kaget bukan main.

"Eh, Bud! 90% penduduk negeri kita beragama Islam. Lebih dari 50% lagi pada mabok agama. Jadi pendekatan agama itu adalah strategi yang paling ampuh saat ini."

Saya terdiam beberapa saat. Perasaan saya berkecamuk seperti air dalam kloset yang baru dipencet flushnya.

"Ntar modelnya juga pake baju gamish, jenggotan dan ngomongnya model-model Arab gitu. Pasti laku."

Saya masih terdiam. Bingung mau ngomong apa.

"Gue udah bikin taglinenya juga."

"Oh ya? Gimana taglinenya?"

"Jadi endingnya orang Arab itu akan ngomong di depan kamera, 'MORTES. Halal makanannya, halal termosnya'. Keren, gak?"

"Hahahahahahaha....kayaknya semua udah lo pikirin banget ya, Nan? Lo gak butuh gue lagi. Silakan deh bikin sendiri iklannya," kata saya sambil menghirup kopi black tanpa gula.

"Lo gak mau bantuin gue?"

"Sorry, Nan. Gue dari dulu gak suka orang menggunakan agama untuk kepentingan politik atau bisnis. Buat gue itu strategi yang tidak bermartabat. Lo tau orang lagi pada mabok agama. Tapi bukannya lo bikin sadar, lo malah mau mengambil keuntungan dari situ. Gue gak bisa bantu. Sorry."

Adnan gak ngejawab omongan saya. Cukup lama kami terdiam sampai akhirnya dia berkata, "Okay, Bud. Setiap orang punya prinsip masing-masing. Ntar lo bantuin gue buat produk yang lain aja ya? Yang gak ada sertifikat halalnya. Okay?"

Untunglah Adnan bisa memahami alasan saya. Dia tidak memaksa dan mengajak bicara topik yang lain. Perasaan saya pun jadi galau. Saya panggil waiter dan memesan bir 1 pitcher.

Dalam perjalanan pulang ke kantor, saya masih memikirkan strategi termos halal Si Adnan. Rasanya kok sedih ya orang sampe segitunya memperlakukan agama. Kok tega-teganya agama dijadikan marketing tools untuk meraih keuntungan pribadi. Bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak?

Bodo amat, ah! Itu urusan dia. Hehehehe...

VIDEO PILIHAN