Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Wiraswasta - Man on the street.

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memberi Upeti kepada Oknum agar Bisnis Lancar

20 September 2022   10:57 Diperbarui: 20 September 2022   12:27 254 45 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lapak pindang ikan tongkol (dokumen pribadi)

Berjualan di lokasi dilarang pun tidak gratis. Jika ingin tenang, para pedagang rela menyetor  sejumlah uang upeti. Bahasa teknisnya disebut: pungli!

Dengan itu orang-orang kecil itu bebas menempati lapak masing-masing sesuai pengaturan. Bukan menurut aturan resmi. Penjual ndeprok atau duduk di trotoar jembatan yang berjarak 300-500 meter dari Pasar Anyar Kota Bogor.

Beberapa tahun lalu, saya lupa, penghubung beton itu berkesan lebar. Bersih dari hamparan barang jualan. Seiring dengan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sekitar bangunan pasar. Saya duga, ratusan penjual tak berizin tergusur.

Aparat mendirikan tenda-tenda peleton di sekitar pasar, jembatan, dan di tempat biasanya PKL mangkal untuk berjaga-jaga. Saat itu pasar terlihat teratur dan rapi.

Pembeli leluasa berlalu lalang tanpa melangkahi penjual-penjual buah, kue, sayur, bumbu dapur, dan sebagainya. Ruang parkir sepeda motor dan mobil kembali lega.

Kemudian hujan dan panas secara bergantian memudarkan keganasan Bima Arya dalam menertibkan PKL di pasar-pasar. Tenda-tenda peleton sudah lama dibongkar. Geliat operasi gabungan tidak lagi terdengar, berganti dengan patroli truk aparat pramong praja. Itupun tidak sering.

Pedagang tanpa perkenan dari otoritas bebas menggelar dagangannya. Pasar sampai dengan radius 500 meter, atau lebih, meriah, sesak, dan ruwet kembali.

Kata sahibul hikayat: anget-anget tahi ayam! Operasi penertiban sesaat, sebagaimana pemberantasan judi yang marak setelah isu konsorsium 303 mengemuka.

Penertiban PKL hanya kebijakan populis. Bersifat insidentil. Tidak punya rancangan penataan jangka panjang. Ya sudahlah, lupakan itu semua.

Saya sempat heran, bagaimana PKL bisa menempati lapaknya tanpa digusur?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan