Mohon tunggu...
Sosbud

Jalan-jalan Gunarti Jual NKRI

26 April 2017   11:37 Diperbarui: 26 April 2017   12:01 122 0 0 Mohon Tunggu...

Demi mendapat dukungan terhadap penolakan sekelompok warga (termasuk Gunarti) atas adanya pabrik semen di wilayah kendeng, mereka rela menjual NKRI di tanah Jerman. Melalui film Samin vs Semen yang penuh kebohongan mereka menjelekan negeri sendiri di hadapan warga luar yang tak paham persoalan.

Aksi yang mengangkat nama sebagai gerakan solidaritas internasional ini tidak lebih sebagai ajang manjual belas kasihan, mempertontonkan kebohongan sendiri mengharap sanjungan. Jika warga di Indonesia sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga pada akhirnya tidak mendukung mereka, mencari dukungan warga luar jadi dalih mencari dana untuk memuluskan hasrat mereka menggerogoti NKRI.

Ini adalah bukti nyata kelakukan para penjual negara!

Disaat aksi yang dilakukan di Indonesia, demo cor kaki menelan korban jiwa bernama Yu Patmi, bahkan tidak diungkap kematiannya oleh polisi. Adik Gunretno bernama Gunarti menari di kematian Yu Patmi.

Pemutaran film sebagai cara mencari dukungan adalah bahasa paling universal yang dapat diterima oleh semua orang di dunia. Meski tanpa terjemahan, orang akan terbawa suasan melalui trik audio visual. Tidak perlu repot-repot berbicara lewat kata, maka itu cukup menjadi cara ampuh mendapat dukungan warga.

Persoalan pabrik semen di kendeng bukanlah sekelumit persoalan yang ditampilkan dalam bingkai Samin vs Semen, jauh dari itu banyak hal yang tak bisa langsung dipahami oleh semua pihak. Pengaburan fakta yang lebih mengedepankan ‘simpatisme’ sehingga kesan kasihan akan lebih dulu timbul dari khalayak. Apalagi kemudian, pemerintah sudah melakukan serangkaian cara agar persoalan kendeng selesai. KLHS Nasional yang meski kelahirannya cacat hukum tetap diterima tugasnya. Membuka forum-forum dialog dengan warga.

Pertanyaanya, jika Samin vs Semen berhasil menarik dukungan sejumlah warga internasional, mau ditempatkan dimana sebagai win-win solution kendeng ini? Apa lantas menjadi satu solusi yang lebih konkret ketimbang kajian pemerintah? Atau malah semakin membuat runyam dengan demo yang makin menggila?

VIDEO PILIHAN