Mohon tunggu...
Bisyri Ichwan
Bisyri Ichwan Mohon Tunggu... Simple Man with Big Dream and Action

Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir karena banyak kisah dalam Al Qur'an yang terjadi di negeri ini. Seorang yang mencoba mengais ilmu pengetahuan di ramainya kehidupan. Seorang yang ingin aktif kuliah di Universitas terbuka Kompasiana. Awardee LPDP PK 144. Program Doktor UIN Malang. Ketua Umum MATAN Banyuwangi. Dosen IAIDA Banyuwangi. Dan PP. Minhajut Thullab, Muncar, Banyuwangi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Diprotes Usai Khutbah

31 Oktober 2020   11:35 Diperbarui: 31 Oktober 2020   11:42 213 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Diprotes Usai Khutbah
Khutbah di Masjid Al-Hilal Banyuwangi (Foto : Gus In'am)

"Ustadz, tadi cerita-cerita tentang Rosulullah Saw. itu dalilnya dari kitab mana saja?", "Apa yang ustadz sampaikan tentang hadits tadi itu, hadits maudhlu' semuanya", "Jangan sembarangan Ustadz kalau menyampaikan cerita yang disandarkan kepada Nabi", "Kejadian cerita Nabi tadi di Madinah atau di Makkah, kalau di Madinah, tidak seperti itu ceritanya Ustadz". "Tidak bisa meniru Rosulullah, seperti yang ustadz katakan tadi itu, sama dengan mengendorkan semangat seorang muslim". Pernahkah anda diprotes seperti ini setelah menyampaikan ceramah dan khutbah? Itu adalah beberapa pertanyaan bernada protes yang pernah saya alami sendiri.

Kejadian terakhir adalah ketika saya kemarin mengisi khutbah dan menjadi imam sholat jum'at di masjid Al-Hilal, kota Banyuwangi. Sejak pulang dari Mesir, ketika diminta untuk mengisi pengajian, saya terbiasa membebaskan setiap jama'ah yang saya berikan kajian, usai kajian untuk bertanya apapun yang mereka mau, bahkan boleh memprotes apa yang sudah saya sampaikan kepada mereka.

Bagi saya pribadi, pertanyaan yang mereka sampaikan bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi saya, juga memberikan pemahaman baru ketika ternyata dia memberikan pendapat yang berbeda dengan apa yang selama ini saya fahami. Terkadang orang bertanya bukan karena tidak tahu, tetapi dia hanya ingin mengetes saja pengetahuan dari yang saya miliki dan fahami dan entah sudah berapa kali hal seperti ini saya alami ketika berhadapan dengan pengajian di masyarakat.

Jum'at kemarin, usai mengisi khutbah, saya dipanggil oleh seseorang, dia mempersilahkan saya duduk di depannya. Tidak ada senyuman di wajahnya, baru saja saya duduk, langsung saja dia menyerbu dengan beberapa pertanyaan yang sebenarnya layak disebut sebagai protes dari materi yang saya sampaikan pada saat khutbah barusan. Bukan satu kali ini saja beliau memprotes materi yang saya sampaikan, satu bulan yang lalu juga sama, dengan pertanyaan yang sama pula.

"Perbedaan itu sesuatu yang fitrah Pak, apa yang saya fahami berbeda dengan yang bapak fahami. Adanya pintu yang banyak di sebuah rumah, menunjukkan begitu luasnya rumah. Agama islam juga sama, banyaknya perbedaan pendapat, menunjukkan begitu agungnya agama Islam ini", saya menjawab dengan seperti ini kepada beliau.

Ternyata, apa yang saya harapkan dari respon beliau, tidak seperti yang diinginkan, "Di kitab ini apa yang ustadz sampaikan itu tidak ada. Itu hadits palsu tadz. Kalau berbicara di depan banyak jama'ah jangan memakai dalil seperti itu. Agama itu perlu pertanggung jawaban", katanya lagi.

"Terimakasih atas masukannya, sekali lagi Pak. Pemahaman bapak dengan saya berbeda. Dari yang saya fahami, dalil-dalil yang saya sampaikan tadi itu haditsnya bukan maudlu' (palsu), ada di beberapa kitab yang sudah saya pelajari. Kalau bapak menganggap seperti yang bapak fahami, ya silahkan", di tengah saya menjelaskan seperti ini. Pak Sutrisno datang, duduk di samping saya. Beliau membela apa yang sudah saya sampaikan kepada bapak di depan saya.

Bapak di depan saya tetap meminta saya untuk setuju dengan pendapat dia. Karena ini adalah urusan prinsip, saya tetap bertahan dengan pendapat saya, tanpa menyalahkan pendapat beliau. Bagi saya perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa. Lalu datang lagi seorang jama'ah bernama Pak Fakhruddin yang duduk di kiri saya. Pak Sutrisno dan Pak Fakhruddin malah yang gantian sedikit berdebat dengan bapak yang ada di depan saya.

Wajah bapak depan saya terlihat marah. Beliau tetap tidak terima dengan apa yang kami jelaskan. "Saya hanya ingin klarifikasi saja ustadz. Karena apa yang ustadz jelaskan dari khutbah bulan kemarin dan khutbah pada hari ini menurut saya tidak benar. Hadits yang ustadz jelaskan, saya tidak pernah mendengarnya. Bahkan cerita-cerita yang ustadz jelaskan, saya juga asing. Hati-hati kalo ngomong agama kepada para jama'ah".

Saya tersenyum dengan protesnya dan saya iyakan saja. Lalu Mas Arif, kakaknya teman saya waktu kuliyah di Universitas Al-Azhar Mesir datang. Mas Arif, Pak Sutrisno dan Pak Fakhruddin berusaha membantu dari apa yang sudah saya jelaskan. Namun tiba-tiba, bapak yang ada di depan saya mohon pamit diri di tengah diskusi yang belum menemukan titik temu. Dia pamit diri hendak pulang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN