Mohon tunggu...
Betrika Oktaresa
Betrika Oktaresa Mohon Tunggu... Administrasi - Full time husband & father. Part time auditor & editor. Half time gamer & football player

Full time husband & father. Part time auditor & editor. Half time gamer & football player

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Dietmar Hopp, Pemimpi Bervisi yang di Benci

1 Maret 2020   11:42 Diperbarui: 1 Maret 2020   11:46 497
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pada suatu malam, saya sedang tidak bisa tidur, hingga akhirnya terpikir untuk mencari tayangan pertandingan sepakbola saja di televisi. Akhirnya, bertemulah saya dengan salah satu channel yang sedang menayangkan pertandingan Bundesliga, antara tuan rumah Hoffenheim melawan Bayern Munich. Kala itu, pertandingan sedang dihentikan di sekitar menit 75. 

Tentu saya penasaran apa yang terjadi? Karena biasanya, pertandingan dihentikan karena terjadi kerusuhan suporter, atau kondisi lapangan yang tidak mendukung pertandingan tetap dilakukan. Setelah beberapa menit, pertandingan kembali dilakukan, tetapi anehnya kedua kesebelasan malah saling mengumpan bola, seluruh pemain bahkan sampai kipper pun berkumpul di tengah lapangan! 

Tentu bukan hal yang lazim terjadi di sepakbola profesional. Kamera lebih sering menyorot seorang sosok dipinggir lapangan, sudah terlihat tua, yang belakangan saya baru tahu sosok tersebut adalah Dietmar Hopp, pemilik klub Hoffenheim. Kenapa sosok itu yang jadi sorotan? Disinilah ceritanya.

Pertandingan itu dihentikan oleh wasit yang memimpin jalannya laga karena melihat pendukung Munich selaku tamu membentangkan spanduk besar yang berisi singgungan yang tidak pantas kepada pemilik Hoffenheim. Sebagai bentuk solidaritas klub, akhirnya disepakati kedua tim tidak melanjutkan pertandingan dengan permainan normal. 

Kedua tim membalas protes atas tindakan tidak pantas yang dilakukan pendukung tim tamu. Usut punya usut, ternyata kejadian ini bukan yang pertama, pada beberapa pertandingan, pendukung tim lawan dari Hoffenheim juga melakukan hal yang sama. Bisa dibilang, Hoffenheim dan pemilik klubnya merupakan musuh bersama sebagian besar pendukung tim lawan. Mengapa Hoffenheim, khususnya Dietmar Hopp dibenci? Hal itu tidak lepas dari perjalanan kilat klub tersebut yang menjelma dari klub amatir menjadi klub yang disegani di Bundesliga, dalam waktu 18 tahun.

Turn- und Sportgemeinschaft 1899 Hoffenheim e.V., atau singkatnya disebut TSG 1899 Hoffenheim merupakan klub profesional asal Jerman yang ber-homebase di Hoffenheim, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Sinsheim, Negara Bagian Baden-Wrttemberg. Iya, pembaca tidak salah baca kok, Hoffenheim memang merupakan klub sepakbola level kecamatan dulunya, dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 3000 orang. 

Pada awalnya didirikan pada tahun 1899 sebagai klub gimnastik, Hoffenheim mulai terbentuk menjadi klub sepakbola pada tahun 1945. Pada awal 1990-an, klub ini adalah tim amatir lokal yang bermain di divisi delapan Baden-Wrttemberg A-Liga, dan terus merangsek naik, hingga pada tahun 1996 tim itu mampu bersaing di Verbandsliga Nordbaden (V), divisi enam di level Liga Jerman.

Bergabungnya Alumni yang Suka Bermimpi

Pada awal tahun 2000, Dietmar Hopp, seorang miliarder co-founder dari perusahaan software terkemuka SAP, membeli klub tersebut. Banyak orang menyebut kedatangan Hopp sebagai 'kembalinya sang alumni' karena memang dimasa mudanya dulu, Hoffenheim merupakan klub Hopp. Meskipun karirnya lebih bersinar ketika menjadi pengusaha, tetapi kecintaannya terhadap Hoffenheim tidak pernah pudar. Itulah yang menjadi alasannya membeli klub masa kecilnya itu. Kontribusinya menghasilkan efek yang nyata. 

Di tahun yang sama, Hoffenheim berhasil promosi ke divisi keempat Oberliga Baden-Wrttemberg. Satu tahun kemudian, Hoffenheim kembali promosi ke Regionalliga Sd (Divisi Tiga). Meskipun mereka menempati urutan ke-13 pada musim pertama mereka di Regionalliga, tetapi kemudian meningkat secara signifikan pada tahun berikutnya, posisi kelima. Pada tahun-tahun awal kepemilikannya tersebut, Hopp berinvestasi dengan membangun fasilitas pelatihan yang canggih. Lalu, Ia juga membangun pengembangan pemain muda di level akademi muda, dari mulai usia di bawah 12 hingga di bawah 19 tahun. 

Pada titik ini, Hopp percaya bahwa klub telah memperoleh fondasi dan stabilitas yang diperlukan agar klub dapat promosi ke 2.Bundesliga nantinya. Pada tahun 2006, klub itu berusaha untuk meningkatkan kualitas pasukan dan staf teknisnya dengan mendatangkan pemain dengan pengalaman di level Bundesliga. Diantaranya Jochen Seitz dan Tomislav Mari, dan talenta muda seperti Sejad Salihovi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun