Mohon tunggu...
Usaha Desa
Usaha Desa Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Strategi BUMDesa Bersama Swadesa Membangun Desa

23 Agustus 2016   16:22 Diperbarui: 6 Oktober 2016   10:21 0 1 0 Mohon Tunggu...

Tahun 2017 adalah tahun keemasan desa-desa se-Indonesia. Inilah tahun yang akan menjadi tahun desa-desa mulai membangun ekonominya lewat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Dana desa digadang bakal membuat desa-desa menjadi lebih makmur mulai tahun itu. Swadesa adalah salahsatu pilihan menarik bagi BUMDesa mengembangkan kemakmuran warganya. Kenapa Swadesa?

Swadesa adalah bentuk unit usaha yang kini dikembangkan PT Usaha Desa Sejahtera, perusahaan yang selama ini fokus memasarkan produk desa dan UMKM melalui toko online. PT Usaha Desa mengembangkan Swadesa sebagai sistem jual beli offline alias transaksi langsung sebagaimana toko yang selama ini dikenal masyarakat. Bedanya, Swadesa tidak hanya menjual melainkan juga membeli alias menyerap produk lokal untuk kemudian di pasarkan melalui Swadesa lainnya sekaligus dijual online melalui toko online www.usahadesa.com.

Managing Director PT Usaha Desa Sejahtera Mohammad Najib menyatakan, Swadesa adalah sebuah upaya agar masyarakat Indonesia mulai membiasakan diri mencukupi kebutuhan hidupnya dnegan produk lokal Indonesia. “ Pada masa awal Swadesa berbentuk toko yang sebagian barangnya adalah barang pabrikan. Tetapi pelan-pelan setelah masyarakat mulai terbiasa dengan Swadesa maka kita harus mulai menggantikan produk-produk pabrikan dan impor itu dengan produk buatan kita sendiri. Tetapi sejak awal kami memprioritaskan produk lokal dengan prosentase yang tinggi dibanding pabrikan,” katanya.

Ada dua model yang sedang dikembangkan Usahadesa. Pertama membangun toko dengan konsep penuh sebagai Swadesa. Ini adalah toko yang dimiliki kelompok masyarakat, salahsatunya BUMDesa atau kelompok masyarakat yang lain. Mekanismenya,” BUMDesa menyiapkan modal pendirian toko bernam Swadesa. Modal itu akan digunakan untuk membangun toko, interior, membangun sistem hingga belanja barang,” kata Najib.

Usahadesa akan menjalankan semua proses dari mulai riset pasar hingga toko itu berjalan baik offline maupun online. “ Namun seluruh karyawan toko adalah warga lokal desa yang kami latih untuk bisa menjalankan manajemen operasional harian toko,’ ujarnya. Berapa modal yang diperlukan? “ Tergantung situasi pasar dan modal yang dimiliki sebuah desa. Kisarannya sekitar Rp. 250 jutaan,” kata Najib.  Bermodal Rp. 250 juta itu maka Swadesa bakal berdiri, menjual aneka kebutuhan warga sekaligus menyerap beragam produk desa untuk dipasarkan secara offline-Online.

Model kedua adalah menjadi Mitra Swadesa. Mitra Swadesa bisa dijalankan toko, minimarket, kafe, hotel dan berbagai jenis usaha jual beli.” Mendaftarkan diri menjadi mitra dan kami akan memproses agar toko-toko atau mitra bisa menjual produk lokalnya sebagai produk Swadesa yang dijual offline maupun online. Ada standarisasi produk yang harus dipenuhi,” kata Najib.

Ketua Tim Pengembangan Swadesa Ari Adji HS mengatakan, keuntungan memiliki Swadesa adalah bisa menjual dan sekaligus menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk dipasarkan ke jaringan Swadesa dan pasar online. “ Karenanya sangat pas kalau Swadesa dijalankan oleh BUMDesa karena bisa meningkatkan produktivitas warga desa, selain mendapatkan produk-produk lokal yang lebih lebih murah tapi berkualitas,” kata Adji yang juga pencetus ide Swadesa ini.

Menjadi Mitra juga menguntungkan karena produk-produk berlabel Swadesa juga dijual secara online sehingga sama saja memiliki dua toko yakni offline sekaligus online. “ Semua produk yang dijual Swadesa maupun Mitra Swadesa bisa dibeli secara online oleh siapapun dimanapun. Juga Swadesa A membeli produk di Swadesa B dan sebaliknya,”  jelas Adji.  Bagaimana cara bergabung dalam jaringan ini? “ Hubungi nomor 085842553944 melalui sms atau WA,” pungkas Adji.(dji)

Baca juga: Banyaknya Keuntungan BUMDesa Mendirikan Swadesa