Mohon tunggu...
Swarna
Swarna Mohon Tunggu... Lainnya - mengetik 😊

🌾Mantra Terindah🌿

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Seorang Istri Bukan Mesin Robot

2 April 2020   23:25 Diperbarui: 2 April 2020   23:24 433
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


"Nanti kalau sudah menikah mau punya anak berapa?"

"Nggak tahu."

"Kata nenek moyang banyak anak banyak rezeki loh."

"Owh. Sebenarnya kita menikah mau hidup bersama atau memproduksi anak?"

Ilustrasi di atas hanya sebuah gambaran tentang percakapan sepasang kekasih yang akan menikah,  saya tidak tahu apakah ada yang pernah seperti itu atau tidak. Tapi biasanya dan pada umumnya akan ada percakapan begitu.

Awal menikah semua pasti indah,  belum banyak masalah,  seiring berjalannya waktu,  masalah demi masalah akan mulai menari-nari mengiringi. Jadi jangan kaget hidup tak selamanya bagai dongeng, harus ada kesimpan Dari oasangan yang Alan mengarungi banters rumag tengga. 

Saya ganya berpendapat mulai sekarang pasangan muda yang akan menikah mengantongi wawasan yang lebih luas dan sedikit canggih pola pikirnya, sebagai bekal dalam berumah tangga. Memang idealisme itu tidak bisa dipaksakan tapi setidaknya setiao privasi mampu mengukur kemampuan diri sebelum melangkah ke jenjang di mana akan lebih komplek masalah yang akan dihadapi.

Misalnya punya rencana banyak anak, tidak jadi soal bila kemampuan ekonomi memenuhi. Harus seiring dengan kemampuan mendidik. Loh jaman dulu anaknya 24 bisa kog jadi semua.  Memang ada tapi seiring berkembangnya zaman tiap orang harus bisa mengendalikan dirinya, agar mempunyai prinsip yang kelak tidak merugikan diri sendiriataupun pasangan.

Setidaknya harus mengetahui bahwa menikahi seorang perempuan atau wanita sudah benar-benar mengerti bahwa menyatu untuk selalu bersama dan bekerja sama, tidak membebani satu sama lain. Apa lagi mempunyai pendapat suami adalah yang mengatur segalanya. Seorang istri bukan mesin robot yang harus menjaga rumah suaminya,  membersihkan dan belum lagi melahirkan anak-anaknya. Apa lagi yang meminta anak banyak harus punya konsekwensi yang tidak ringan di zaman sekarang. Tentang pendidikan, sandang, pangan dan sebagainya.

Suami harus bisa memberi nafkah lahir dan batin, pengertian ini harus benar-benar dipahami agar tahu bagaimana memperlakukan seorang istri. Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan sudah seharusnya menyadari bahwa keluarga adalah organisasi kecil dimana akan terdapat aturan juga di dalamnya, saling menghormati dan menjaga.

Dalam pernikahan perlu memahami kemampuan fisik dan pola pikir pasangan. Apalagi ketika usia sudah tak lagi muda namun mempunyai anak kecil yang masih harus selalu dalam bimbingan dan pengawasan. Kadang kondisi rumah yang selalu berantakan dengan mainan atau buku sekolah. Hendaknya suami tidak langsung menegur kasar atau mengatai, karena pekerjaan istri di rumah tidak sedikit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun