Mohon tunggu...
Bedjo Slamet
Bedjo Slamet Mohon Tunggu... -

Selalu untung dan selamat, belajar menuangkan ide aneh di http://lampoeoeblik.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kang Pepih Nugraha Memang Benar

17 Oktober 2015   10:15 Diperbarui: 17 Oktober 2015   10:15 274
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Anggap saja saat ini saya sedang kerasukan roh jurnalisme kang Pepih, bahkan mungkin malah kerasukan mbah-nya Kompasiana PK Ojong seperti artikel yang ditulis oleh Rifki Feriandi, kata-kata motivasi kang Pepih dan juga PK Ojong telah merasuk begitu dalam hingga membuat akun abal-abal ingin berlagak seperti wartawan sungguhan.

Terbuai oleh kata-kata mutiara para pendiri Kompasiana, yang mengajak kepada warga biasa untuk belajar menjadi “wartawan”. Ajakan untuk menjadikan warga biasa menjadi pewarta momen penting suatu kejadian, atau bahkan menjadikan warga biasa whistle blower suatu tindak kejahatan (kontrol sosial).

Seperti ditulis oleh bung Rifki, pewarta warga paling tidak bisa berpijak pada tiga hal naluri berita, observasi, dan keingintahuan, plus istilah yang cukup keren pada jaman dahulu WYSIWYG - What You See Is What You Get. Maklum pada jaman dahulu berita eksklusif adalah modal wartawan amatiran bisa naik kasta hingga beberapa tingkat, maka atas dasar hal diatas tulisan ini harus ditulis dan dipublish. 

Cukup pengantarnya, lanjut pada pokok yang ingin saya tanyakan pada kang Pepih, dimana dalam tulisan ini saya akan mengikuti alur pemikiran beliau.

Karena tidak ada bukti, katakanlah untuk sementara PK bukan GT, sepakat?

Ifani pernah menulis tentang kopdar dengan Kompasianer misterius, dan ditulisan itu Ifani dengan jelas menulis telah bertemu dengan PK, sepakat?

Tapi 3 bukti foto yang tersebar ternyata menunjukkan Ifani tidak kopdar dengan PK tapi dengan GT, sepakat?

Bila demikian adanya, bukankah malah bisa dikatakan bahwa Ifani telah mencemarkan nama baik akun PK, sepakat?

Dan jika PK bukanlah GT, berarti juga bahwa Ifani dan juga Vita sedari awal sudah tahu mereka akan bertemu dengan GT, Sepakat?

Bukankah berarti juga bahwa Ifani dan juga Vita, jauh sebelumnya sudah merencakan pertemuan dengan GT, sepakat?

Bila mengikuti alur bahwa PK bukanlah GT, berarti tuduhan Tomy Unyu benar adanya, bahwa dua Kompasianers ternyata tidak anti korupsi dan dengan banga serta sengaja bertemu dengan koruptor (GT), sepakat?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun