Sofyan Basri
Sofyan Basri Wartawan

Menilai dengan normatif

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight headline

Perlukah Viktor Minta Maaf?

7 Agustus 2017   23:10 Diperbarui: 9 Agustus 2017   13:32 2911 2 8
Perlukah Viktor Minta Maaf?
Ketua Fraksi Nasdem DPR RI Victor B. Laiskodat (dok.partainasdem.id/AR7)

Dunia politik itu tidak bisa dipungkiri penuh dengan intrik, ilusi logika, psikologis sosial, dan lain-lain. Jika tidak ingin demikian, maka saya sarankan untuk tidak berpolitik. Di sisi lain, politik ialah cara sederhana yang bermuara pada kebaikan baik secara personal maupun kelompok tertentu.

Dalam beberapa kalimat yang pernah saya dengar dan baca dalam beberapa referensi, hampir seluruhnya sepakat jika berpolitik itu baik, hanya saja pelaku politik yang kadang tidak tepat berada pada jalurnya, yang berkelakuan arogan dan tendesius hanya untuk kepentingan dirinya sendiri maupun kelompoknya.

Maafkan jika saya kurang tepat memberikan penilaian saudaraku, saya ingin mengatakan dengan sangat jujur berdasarkan logika sederhana bahwa apa yang disampaikan oleh Bang Viktor B Laiskodat pada sebuah acara di Nusa Tenggara Timur (NTT) lalu itu kelakar yang sedikit arogan dan merasa berada garis yang paling benar.

Baiklah, jika tujuan dari pidato Bang Viktor itu adalah untuk internal partai, oke kita paham Bang. Akan tetapi, apakah itu sudah benar jika demikian Bang? Apakah dibenarkan menghujat suatu kelompok tertentu Bang? Apakah itu disebut Pancasilais dan Bhineka Tunggal Ika? mohon penjelasannya Bang!. Mohon penjelasannya!

Bang apa salahnya minta maaf Bang, apa ruginya Bang? Kalau memang ada ruginya minta maaf itu Bang, maka negara Amerika sanalah yang paling bangkrut duluan Bang karena seringnya minta maaf, terutama ketika melakukan operasi militer di Irak lalu dengan alasan adanya pengembangan bom nuklir di daerah itu. Tapi kan tidak Bang, atau karena pengetahuan saya yang tidak sampai kesana Bang.

Bang, saya tahu Abang itu orang terpandang dan terhormat karena Abang itu adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tapi apakah pangkat dan jabatan itu tidak bisa membuat Bang Viktor minta maaf? Masih ingatkah Abang ketika tidak memiliki jabatan itu.

Bang Viktor itu sebagai orang terpandang, mestinya memberikan contoh yang baik. Bukan malah menunjukkan sikab Abang yang dulu ketika masih menelusuri jalan Ibu Kota Jakarta. Bang saran saya, lupakan dunia Abang yang dulu, Abang yang sekarang ini mesti bermartabat Bang di mata masyarakat dan pemilih Abang pada khususnya yang ada di NTT sana.

Untuk yang mereka yang mengaku membela Bang Viktor, berhentilah. Sebab bagi saya itu bukan pembelaan yang memihak kepada Bang Viktor. Membela kepada Bang Viktor itu bukan dengan cara mensupport kearoganannya, akan tetapi mengingatkan bahwa yang benar itu adalah benar dan salah itu adalah salah. Itu adalah cara membela dengan tepat.

Bahwa memang bisa saja Partai Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat itu adalah partai yang tidak mendukung Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Ormas tapi bukan berarti partai-partai itu mendukung ekstremisme yang saat ini marak terjadi di negeri yang kita cintai bersama ini Bang. Jujur saya katakan, Perppu itu saya tidak sepakat Bang, dan saya bukan bagian dari partai yang Abang sebutkan itu.

Kenapa? yah karena dalam Perppu itu adalah hal-hal yang bagi saya urgent untuk dipersoalkan. Terutama pasal yang memberikan dukungan secara penuh kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk melakukan pencabutan status badan hukum Ormas sekaligus sebagai bentuk pembubaran tanpa melalui pengadilan.

Jika Abang tidak melakukan permintaan maaf secara resmi, maka sekali lagi saya ingin bertanya kepada Abang, apa betul tahu Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika? kalau tahu, yah buktikan kepada saya dan publik dong Bang. Sebab menurut saya, ketika Abang paham setiap butir Pancasila dan arti Bhineka Tunggal Ika, maka abang tentu tidak akan mengatakan demikian.

Dan tidak apa-apa, nasi sudah menjadi bubur Bang. Maka muncullah sebagai super hero di tengah jeritan rakyat yang bingung mengenai arti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika Bang. Cara menurut saya, yah minta maaf Bang.

Tunjukkan bahwa Abang itu negarawan yang nasionalis, mengaku salah ketika salah dan mengaku benar ketika benar. Karena itulah yang dirindukan rakyat saat ini Bang. Termasuk saya Bang.

Dan kalau Abang sudah meminta maaf secara tulus dan ikhlas kepada publik dan rakyat, dan partai yang Abang sebutkan melakukan gugatan secara hukum. Saat itulah, Abang mesti melawan. Dan tentu melawan secara cerdas Bang, bukan melakukan tindakan-tindakan premanisme.

Saya akan mendukung Abang ketika melakukan pembelaan pada meja hijau. Sekali lagi, dengan catatan, Abang melakukan pembelaan secara nurani membela hak asasi abang sebagai warga negara pada negara yang menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, kemudian membiarkan hakim bekerja secara profesional tanpa ada bisikan pihak lainnya.

Makassar, 8 Agustus 2017